Menagih Janji Murad – Orno

oleh -342 views
Link Banner

Porostimur.com | Ambon: Janji ialah utang. Siapa pun yang mengucap janji sama artinya ia telah berutang. Menjadi kewajiban si pembuat janji untuk membayar atau melunasi utang atau janji-janji, apa pun bentuknya, di mana pun, kepada siapa pun, dan kapan pun janji itu dibuat. Bila tidak memenuhi janji itu, pembuat janji termasuk golongan orang-orang yang ingkar.

Konsekuensinya, kredibilitas dan integritas orang tersebut dipastikan akan jatuh di mata orang atau pihak yang dijanjikan. Adagium itu berlaku untuk siapa pun dan di bidang apa pun, termasuk di bidang politik, misalnya janji kampanye politikus kepada konstituen atau calon pemilih.

Janji kampanye Murad Ismail – Barnabas Orno saat Pemilihan Kepala Daerah Maluku tahun 2018 bukan pengecualian dari adagium tersebut.

Murad-Orno yang terpilih sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku tentu berkewajiban memenuhi janji tersebut kepada warga Maluku, baik yang memilih maupun yang tidak memilih mereka berdua.

Sabtu 24 April akhir pekan nanti, genap dua tahun sudah Murad-Orno memimpin Maluku. Sangatlah wajar jika warga Maluku menagih janji-janji yang disampaikan Murad-Orno dalam kampanye.

Baca Juga  5 Lembaga Rayakan HUT Perdana JMSI dengan Penghijauan dan Baksos

Sebanyak 16 janji diucapkan pasangan itu kepada warga Maluku. Tentu jamak bila publik mulai menagih janji-janji itu. Di antara janji yang mudah diingat publik itu, antara lain, pemindahan ibukota Maluku ke Pulau Seram.

Masih ada janji lainnya, seperti revitalisasi lembaga adat Latupati, Kartu Beasiswa Maluku, Kartu Maluku Sehat dan pengembangan RSUD berstandar internasional.

Ironisnya, kini publik disuguhkan dengan drama pecah kongsi. Pemerintahan yang akan genap dua tahun ini, tak lagi semesra saat berkampanye. Alhasil, Murad-Orno pun terlihat mulai kerepotan dengan janji-janji yang mereka ucapkan saat kampanye.

Orno mengakui, dua tahun ia bersama gubernur Murad Ismail tepatnya pada 24 April 2021 memimpin daerah ini ternyata belum bisa memenuhi janji saat berkampanye.

Baca Juga  Ketika Rencana PSI Interpelasi Anies soal Banjir Disambut Gelak Tawa Pimpinan DPRD DKI

“Dalam kapasitas sebagai Wagub, maka saya memiliki rasa dan tanggung jawab moral untuk menyampaikan terima kasih kepada seluruh masyarakat Maluku di mana pun berada atas dukungan maupun doa restu sehingga bersama gubernur sudah menjalani atas pilihan rakyat dengan perkenanan Tuhan mengemban tugas pemerintahan selama dua tahun,” katanya di Ambon, beberapa waktu lalu.

Wagub secara pribadi menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyakat Maluku karena banyak harapan yang disampaikan, baik saat kampanye hingga terpilih memimpin Maluku selama dua tahun belum dapat memenuhinya.

“Saya secara pribadi, istri dan anak-anak memohon maaf karena bagaikan pepatah ‘maksud hati memeluk gunung apa daya tangan tidak sampai’ karena belum dapat merealisasikan harapan – harapan tersebut,” ujar Wagub.

Dia mengharapkan melalui momentum dua tahun memimpin Maluku yang bertepatan dengan basudara (saudara) Islam menunaikan Bulan Suci Ramadhan 1442 Hijriah, maka kita mengambil hikmahnya.

Baca Juga  Kapolsek Mangoli Timur dan Mangoli Barat, Polres Kepulauan Sula Resmi Berganti

“Kiranya melalui momentum Bulan Suci Ramadhan 1442 Hijriah kita lebih meningkatkan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dengan tetap mencerminkan hidup orang basudara sebagai warisan leluhur,” kata Wagub.

Dia juga mengimbau masyakarat Maluku agar meyakini Tuhan Yang Maha Kuasa dan senantiasa ikhtiar dalam menjalani hidup.

Apa pun itu, publik Maluku tentu menunggu sekaligus menagih janji-janji kampanye dua tahun Murad-Orno memimpin daerah ini. Kita pun mendorong dan ikut pula menagih janji-janji yang mereka ucapkan.

Kita mendesak Anies memenuhi seluruh janji Murad-Orno semasa kampanye, tak peduli keduanya pecah kongsi atau tidak mesra atau memendam bara politik.

Publik selalu mengingat dan mencatat janji-janji para politikus. Publik pun mengerti benar mana pemimpin yang komit dan memenuhi janji-janji kampanye serta mana pemimpin yang hanya menjadikan janji kampanye sebagai alat untuk meraih kedudukan dan kekuasaan. (tim)