Mengapa Gempa Susulan di Kairatu – Ambon Mencapai Lebih dari Dua Ribu Kali?

oleh -84 views
Link Banner

Porostimur.com | Ambon: Sejak gempa bermagnitudo 6,8 mengguncang Ambon dan sekitarnya di Provinsi Maluku pada Kamis (26/09), telah terjadi gempa susulan sebanyak lebih dari 2.000 kali.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat hingga Sabtu (16/11) pukul 18.00 WIT, aktivitas gempa susulan di Kairatu – Ambon sudah terjadi sebanyak 2.345 kali. Sementara aktivitas gempa susulan yang guncangannya dirasakan oleh masyarakat mencapai 203 kali.

Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menjelaskan bahwa dalam setiap peristiwa gempa kuat terjadi deformasi batuan kerak bumi yang menyebabkan pergeseran blok batuan.

“Karena blok batuan yang bergeser sangat luas, maka terjadilah ketidaksetimbangan gaya tektonik di zona tersebut. Akhirnya muncul gaya-gaya tektonik untuk mencari kesetimbangan menuju kondisi stabil,” paparnya.

“Dalam proses mencari kesetimbangan gaya tektonik itu, terjadilah deformasi-deformasi kecil pada batuan di sekitar pusat gempa utama yang dimanifestasikan sebagai gempa susulan.” sambung Daryono.

Baca Juga  Klasemen Bundesliga - Leipzig Turun Satu Peringkat, Bayern Kokoh di Puncak

Menurutnya, gempa susulan di kawasan Ambon dan sekitarnya lazim terjadi.

“Lazimnya gempa kuat dengan magnitudo di atas 6,0 maka wajar jika terjadi aktivitas gempa susulan. Semakin besar magnitudo gempa, maka potensi gempa susulannya semakin banyak, apalagi jika ditunjang dengan kondisi batuan di wilayah tersebut yang rapuh,” tuturnya.

Banyaknya aktivitas gempa bumi susulan di Kairatu – Ambon, jelas Daryono, menggambarkan karakteristik batuan di wilayah tersebut yang rapuh.

Gempa di Kairatu – Ambon terjadi akibat aktivitas sesar aktif yang belum terpetakan sebelumnya.

Waspadai hoaks

Daryono mengimbau kepada masyarakat agar tidak mudah percaya kepada berita bohong alias hoaks terkait prediksi gempa dan tsunami yang disebarkan pihak yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Baca Juga  DPRD Seram Bagian Barat Desak PLN Maluku dan Malut Tangani Listrik Byar Pet

“Gempa bumi belum dapat diprediksi dengan akurat kapan, di mana, dan berapa besar kekuatannya,” cetusnya.

Dia juga menganjurkan agar para pengungsi yang tempat tinggalnya masih kuat dan kokoh untuk kembali ke rumah dan beraktivitas seperti biasa.

“Sebaliknya bagi warga yang rumahnya sudah rusak dan membahayakan jika terjadi gempa, maka sebaiknya tidak dihuni dulu,” tutupnya.

Pekan lalu, dilaporkan setidaknya 108.000 orang memilih mengungsi. Pihak berwenang telah meminta pengungsi kembali ke rumah, tapi mayoritas enggan pulang karena gempa susulan masih berlangsung. (red/rtl)