Mengenal Kabel Bawah Laut, Dipasang dari RI Hingga Amerika

oleh -370 views
Link Banner

Porostimur.com | Jakarta: Facebook dan Google dilaporkan bakal menggelar kabel bawah laut yang menghubungkan Indonesia, Singapura, dan Amerika Utara. Kabel bawah laut itu diklaim akan meningkatkan kapasitas koneksi antar wilayah.

Kabel bawah laut merupakan kabel adalah kabel yang digunakan terutama untuk tujuan komunikasi karena dapat mengirimkan sinyal secara instan. Kabel itu telah dianggap sebagai kabel terbaik untuk telekomunikasi.

Melansir TeleGeography, kabel bawah laut modern sudah menggunakan teknologi serat optik. Sehingga, transmisi data dapat bergerak dengan kecepatan yang sangat cepat melalui serat kaca tipis ke reseptor di ujung kabel lainnya. Serat kaca ini dibungkus dengan lapisan plastik, terkadang kawat baja untuk perlindungan.

Kabel awah laut umumnya selebar selang untuk menyiram tanama. Filamen yang membawa sinyal cahaya pada kabel itu juga sangat tipis, diameternya seukuran rambut manusia.

Link Banner

Serat itu dilapisi dengan beberapa lapisan isolasi dan pelindung. Kabel yang diletakkan lebih dekat ke pantai menggunakan lapisan pelindung ekstra untuk meningkatkan perlindungan.

Baca Juga  Pertama di Indonesia, Pengurus E-Sports Provinsi Maluku Resmi Dilantik Secara Online

Kabel bawah laut tidak seluruhnya ada di dasar laut. Jika berada di dekat pantai, kabel dikubur di bawah dasar laut untuk memberi perlindungan. Sedangkan di laut dalam kabel diletakkan langsung di dasar laut.

Kapasitas kabel sangat bervariasi. Biasanya, kabel yang lebih baru mampu membawa lebih banyak data daripada kabel yang dipasang 15 tahun lalu. Misalnya, kabel bawah laut baru milik MAREA mampu membawa 224 Tbps.

Selain Facebook dan Google, perusahaan teknologi seperti Microsoft dan Amazon juga merupakan investor utama kabel bawah laut. Dihadapkan dengan prospek pertumbuhan bandwidth besar yang sedang berlangsung, memiliki kabel bawah laut baru masuk akal bagi perusahaan-perusahaan itu.

Melansir One India, kabel bawah laut adalah kabel yang diletakkan di dasar laut antara stasiun darat untuk membawa sinyal telekomunikasi melintasi samudera dan lautan. Kabel bawah laut pertama yang dipasang pada tahun 1850-an masih sebatas membawa lalu lintas telegrafi.

Baca Juga  Wakapolres Halsel, Dua Kasat, dan Lima Kapolsek Resmi Berganti

Kabel generasi berikutnya membawa lalu lintas telepon, lalu lalu lintas komunikasi data. Kabel modern menggunakan teknologi serat optik untuk membawa data digital, yang meliputi telepon, Internet, dan lalu lintas data pribadi.

Kabel bawah laut dipasang dengan menggunakan kapal yang dimodifikasi khusus yang membawa kabel bawah laut ke atas kapal dan perlahan-lahan meletakkannya di dasar laut sesuai dengan rencana yang diberikan oleh operator kabel.

Facebook dan Google dilaporkan bakal menggelar kabel bawah laut yang menghubungkan Indonesia, Singapura, dan Amerika Utara.
Ilustrasi kabel bawah laut. (dok. facebook)

Melansir CNN, kabel bawah laut telah berperan penting bagi kecepatan koneksi. Namun, perangkat sangat rentan terhadap kerusakan.

Misalnya, kabel bawah laut yang menghubungkan Amerika Utara dan Eropa terputus ketika Badai Sandy menghantam Pantai Timur AS pada tahun 2021. Kejadian itu membuat jaringan antara Amerika Utara dan Eropa mati selama beberapa jam.

Baca Juga  Viral, Anak Muda Diduga WNI Pukul Roboh Pria Rasis di AS

Selain badai, gempa bumi juga menjadi salah faktor yang dapat merusak kabel bawah laut.

Gempa bumi berkekuatan 7,0 di lepas pantai barat daya Taiwan pada tahun 2006, bersama dengan gempa susulan, memutuskan delapan kabel bawah laut yang menyebabkan pemadaman dan gangguan internet di Taiwan, Hong Kong, Cina, Jepang, Korea, dan Filipina.

Selain faktor alam, kerusakan juga terjadi akibat aktivitas manusia yang tidak disengaja, misalnya terputus akibat jaring ikan, pukat, serta jangkar kapal.

Kemudian, ada pula sabotase yang dilakukan dengan sengaja oleh sejumlah pihak. International Telecommunication Union sempat menduga ada tindakan sabotase di balik rusaknya lima kabel bawah laut yang menyebabkan gangguan pada layanan Internet dan telepon di beberapa bagian Timur Tengah dan Asia Selatan. 

(red/cnn)