Mengenal Laor, Cacing Laut yang Muncul di Perairan Maluku Setahun Sekali

oleh -43 views
Link Banner

Porostimur.com | Ternate: Laor atau wawo merupakan sebutan lokal untuk cacing laut yang kerap ditangkap dan dikonsumsi masyarakat di Kepulauan Maluku.

Siklus laor satu tahun sekali dimana biasanya koloni laor banyak ditemukan di perairan Maluku pada Maret atau April saat bulan terang.

Di Pulau Morotai, Maluku Utara biasanya masyarakat mengolah laor menjadi bahan campuran sambal, digoreng dengan tepung, ditumis dengan sayuran hijau atau menjadi masakan berkuah. Tradisi mengkonsumsi laor sudah dilakukan secara turun-temurun masyarakat di wilayah perairan Maluku.

Dilansir Local Wisdom Penelitian Biologi Mahasiswa Universitas Pattimura, selain rasanya enak, laor menjadi bahan pangan dengan kandungan protein tinggi.

Kandungan protein laor adalah 31,15% (tiga kali lipat dari protein ikan) yang tersusun dari asam amino.

Baca Juga  Selanno : Belum ada penerimaan CPNS tahun 2018

Asam amino tertinggi di laor adalah asam glutamat. Selain itu, laor juga mengandung lipid, vitamin dan mineral.

Menurut laman Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional Kupang, laor masuk dalam keluarga Eunicidae, kelas Polychaeta, filum Annelida yang hidup dalam pasir atau menggali batu-batuan di daerah pasang surut air laut.

Laor umumnya ditemukan dengan variasi warna beragam seperti merah, hijau dan coklat. Laor betina memiliki warna biru kehijauan sedangkan laor jantan merah kecoklatan.

Saat musimnya, masyarakat Maluku kerap mengadakan tradisi menangkap laor atau yang biasa disebut timba laor. Mereka menggunakan alat tradisional dari kain halus untuk menyerok dan mengumpulkan laor pada malam hari. Laor yang terkumpul sebagian untuk dikonsumsi sendiri dan sebagian lainnya dijual.

Baca Juga  Pakai Atribut Merah Putih Ke Mal Saat HUT RI Bisa Dapat Diskon Menarik

Kegiatan timba laor dilakukan secara tradisional sehingga tidak merusak terumbu karang karena sebagian besar kemunculan laor hanya di sekitar bebatuan di pesisir pantai.

Kemunculan laor hanya berlangsung sekitar 30 menit – 1 jam dalam satu malam. Setelah kemunculannya laor tersebut akan menghilang entah kemana dan kembali lagi pada musimnya tahun depan.

Karena keunikan tradisi timba laor, pemerintah daerah di wilayah perairan Maluku berinisiatif menjadikannya sebagai destinasi pariwisata musiman.

Wisatawan yang datang dapat menyaksikan dan terlibat langsung dalam kegiatan timba laor hingga cara pengolahannya.

Kegiatan ini diharapkan mendatangkan manfaat dan pemasukan masyarakat dari sektor pariwisata.

(red/sariagri)