Mengenal Tradisi Meja Panjang, Lambang Moderasi Beragama di Desa Kusu Tidore Kepulauan

oleh -15 views

Porostimur.com, Tidore – Tradisi Meja Panjang di Desa Kusu, Kecamatan Oba Utara, menjadi lambang penyatu hadirnya moderasi beragama di Kota Tidore Kepulauan, Provinsi Maluku Utara sejak dahulu kala.

Program prioritas Kementerian Agama RI yang digagas Menteri Yaqut Cholil Qoumas ini merupakan program yang digaungkan sebagai upaya menciptakan harmoni sosial di tengah kemajemukan Indonesia. 

“Meja panjang” merupakan salah satu bentuk implementasi program moderasi beragama yang telah dirawat oleh masyarakat Desa Kusu, Kecamatan Oba Utara, Kota Tidore Kepulauan. 

Tradisi “Meja Panjang” merupakan tradisi lawas yang turun temurun dilestarikan umat Kristen di Desa Kusu setiap penghujung perayaan natal dan tahun baru, tepatnya setiap tanggal 31 Januari.

Meja panjang tersebut berisi berbagai macam hidangan dengan suguhan rasa. Baik makanan adat maupun berbagai jenis hidangan makanan lainnya.

Dewan Adat Desa Kusu, Riyanto Pulu mengatakan, meja panjang ini menjadi wadah makan bersama untuk seluruh warga kampung tak memandang ras maupun agama.

Adat ini menjadi penyambung silaturahmi antarkedua agama di Desa Kusu, yakni Islam dan Kristen.

Tradisi yang menggambarkan kuatnya toleransi dan rasa saling menghargai antarsuku, ras dan agama di desa setempat.  

‘Tradisi ini merupakan upaya kami menjaga silaturahmi antarsesama, agar kampung kami ini aman dan damai walaupun kita berbeda agama. Sesungguhnya kami adalah saudara”, ujar Riyanto.

Uniknya, untuk menghargai kaum muslim, setiap kali gelaran tradisi ini dimulai di penghujung tahun, makanan halal selalu dihidangkan sendiri oleh kaum muslim setempat.

Baca Juga  Ini Tren Baju Lebaran 2024, Siap-siap Berburu!

Seluruh warga desa kemudian berbondong-bondong ke lokasi acara tradisi itu digelar. Di lokasi tersebut warga kedua agama menyantap menu makanan yang semula sudah disiapkan. Ada persembahan musik tradisional dan tarian cakalele kerap menghiasi acara itu.

Ada pula pesan dan kesan perdamaian yang disampaikan oleh tokoh agama masing-masing di saat berlangsungnya acara.

Riyanto mengungkapkan, tradisi ini bermula dari kedatangan warga Tobaru yang mayoritas beragama kristen di Desa Kusu. Untuk menjalin tali persaudaraan, akhirnya dibuatlah meja panjang dengan berbagai hidangan. Seluruh warga diundang pada acara itu tanpa melihat suku, ras apalagi agama.

Tradisi yang berasal dari nenek moyang ini dipercaya warga bahwa bila tak dilakukan maka masyarakat akan mendapatkan kealpaan atau musibah dari Tuhan Yang Maha Esa.

Baca Juga  Firasat Orang Tua Septian Sebelum Helikopter Jatuh di Hutan Halmahera

Untuk itu, hingga kini tradisi ini terus terlestarikan oleh warga Desa Kusu. Mereka percaya, selain menjaga damai, aman antarsesama umat di dunia, tradisi ini akan membawa keselamatan di akhirat kelak. (red)

Simak berita dan artikel porostimur.com lainnya di Google News