Menhan Inggris Akui Drone Tempur Turki Bayraktar TB2 Bisa Ubah Peta Perang Eropa

oleh -37 views
Link Banner

Porostimur.com | London: Menteri Pertahanan Inggris, Ben Wallace, mengakui pesawat nirawak buatan Turki, Bayraktar TB2, menunjukkan performa menggentarkan di berbagai palagan perang.

Ia menyebut, drone tempur itu sukses menghancurkan ratusan kendaraan lapis baja, dan bahkan sistem pertahanan udara di Suriah, Libya, Armenia, dan Nagorno-Karabakh.

Pernyataan diutarakan Ben Wallace pada webinar yang diselenggarakan Royal United Services Institute for Defense and Security Studies (RUSI), sebuah lembaga pemikir keamanan Inggris.

Kantor berita Turki, Anadolu Agency dan Middle East Monitor, merilis isi diskusi di seminar itu, Jumat  (16/12/2020).

“Drone ini lahir dari inovasi Turki,” kata Ben Wallace. “Mereka (Turki) melakukan apa yang biasa kami lakukan secara sangat baik, mereka benar-benar berinovasi,” lanjut Wallace.

Ia menambahkan, drone Turki memiliki menghadirkan tantangan nyata bagi musuhnya.

“(Bayraktar) TB2 dan amunisinya menggabungkan kemampuan teknis dan jangkauan yang menghadirkan tantangan nyata bagi musuh,” katanya.

Inggris Bisa Keteteran Hadapi Ancaman Baru Perang

Wallace juga menjelaskan lansekap konflik global yang berubah, dan ancaman yang dihadapi Inggris saat ini.

“Kami memiliki kecenderungan di barat membagi konflik antara peperangan dan sebelum perang pecah,” katanya.  

Baca Juga  Ikapatti Pungut Iuran, Mahasiswa Unpatti Demo

Pembagian itu membuat Inggris sangat rentan terhadap mereka yang tidak bermain sesuai aturan perang umumnya.

“Mereka mengalir, kami statis. Mereka menggunakan kesiapan, inovasi, dan kehadiran, sementara kami tetap sepenuhnya dapat diprediksi dalam proses dan postur kami,” kata pejabat Inggris itu.

Kemampuan Turki memproduksi pesawat nirawak bersenjata semakin diakui Negara-negara lain. Kementerian Pertahanan Tunisia telah menandatangani kesepakatan senilai hampir $ 80 juta dengan Industri Dirgantara Turki.

Tunsia membeli tiga drone tempur Anka (Phoenix). Informasi ini dikabarkan situs web Russia Today bahasa Arab,  mengutip sumber Turki.

Kesepakatan itu mencakup tiga pesawat tempur selain tiga sistem kontrol darat dan pelatihan 52 personel Angkatan Udara Tunisia.

Perusahaan milik pemerintah Turki, Turkish Aerospace Industries, dan Kementerian Pertahanan Tunisia telah menyelesaikan semua aspek kesepakatan setelah dua tahun negosiasi.

Selain Tunisia, Ukraina juga berencana memborong pesawat nirawak serupa dan beberapa persenjataan berat lain dari Turki.

Kiprah Drone Bayraktar di Perang Nagorno-Karabakh

Perkembangan signifikan industri dirgantara Turki ini menimbulkan kritik sejumlah Negara Eropa. Gustav Gressel, analis senior Dewan Eropa untuk Hubungan Luar Negeri (ECFR) telah memperingatkan kerawanan itu.

Baca Juga  HCW Duga Ada Konspirasi Dibalik Pemberhentian Dirut PDAM Oleh Pj. Wali Kota Ternate

Gustav Gressel mencatat kemenangan Azerbaijan atas Armenia dalam konflik di Nagorno-Karabakh, memberi gambaran seberapa baik Eropa dapat mempertahankan diri jika ada konflik.

Selama konflik 44 hari itu, Armenia dan milisinya kehilangan ribuan pasukan dan kendaraan militer, faktor penentu utama keunggulan Azerbaijan adalah drone Turki yang mereka gunakan.

Drone-drone itu, bersama dengan metode peperangan yang dikembangkan melalui penggunaannya di front lain, memungkinkan Azerbaijan untuk merebut kota strategis Shusha.

Azeri memaksa penyerahan Armenia pada 9 November 2020, yang mengarah pada kesepakatan gencatan senjata yang ditengahi Rusia yang mengembalikan wilayah itu ke Baku.

Gressel menyatakan alih-alih menganggap konflik itu sebagai “perang kecil antara negara-negara miskin,” Eropa harus menyadari ancaman yang ditimbulkan perang pesawat tak berawak Turki.

Dia bahkan beralasan sebagian besar tentara negara-negara Eropa akan melakukan hal yang sama menyedihkannya seperti pasukan Armenia.

Selama dekade terakhir, Turki telah secara dramatis mengembangkan teknologi drone untuk mengatasi embargo senjata dan pembatasan yang diberlakukan oleh negara-negara besar.

Baca Juga  Italia Vs Belanda, Van Dijk Sanjung Performa Tim Oranye

Pembatasan terhadap teknologi drone tersebut mendorong Turki untuk membangun industri manufaktur drone sendiri, yang menghasilkan drone Bayraktar dan Anka-S.

Drone Bayraktar TB2 telah mendatangkan malapetaka pada pasukan Suriah awal 2020 ini sebagai pembalasan atas terbunuhnya 34 tentara Turki di Idlib.

Drone yang sama juga berperan membantu pemerintah Libya menggagalkan serangan kelompok Marsekal Khalifa Haftar ke Tripoli.

Drone, yang menggunakan peperangan elektronik saat melakukan tugas pengintaian dan pengawasan biasa, juga dapat meretas ke dalam sistem radio dan komando musuh.

Mereka juga mampu mengganggu sistem pertahanan udara Rusia yang digunakan di front tersebut. Teknologi drone dan peperangan Turki dianggap sangat efektif.

Gressel menyimpulkan analisisnya dengan mengungkapkan tidak ada tentara Eropa yang memiliki sistem pertahanan udara lapis baja untuk melindungi armada lapis bajanya sendiri.

Hanya Prancis dan Jerman yang memiliki pengacau anti-drone (jarak pendek) dan sistem perlindungan pangkalan yang akan mampu melawan drone Turki.(red/Tribunnews.com/MEMO/xna)