Menyepelekan Tragedi dengan Statistik

oleh -51 views

Padahal, satu anak–apalagi satu sekolahan– keracunan akibat makanan yang “diwajibkan” negara adalah indikasi kegagalan atau korupsi sistemik. Bayangkan, jika maskapai Garuda menutupi keteledoran sistem yang berakibat pesawat jatuh menewaskan seluruh penumpangnya. Alih-alih mengungkap kesalahan, menteri Perhubungan berdalih dengan angka statistik: “Tenang, penerbangan tetap aman, hanya 0,00017% korban pesawat jatuh dari 30 juta penumpang tahun ini.”

Prabowo memainkan narasi politik: tidak ada masalah dengan program MBG. Kesalahan sistemik tidak signifikan, angka tragedi sangat kecil. Pertunjukan MBG harus terus berlanjut, tak soal kualitas makanan dan cara penyajiannya membahayakan. Dana ratusan triliun harus dicairkan untuk perbaikan gizi. Pertanyaannya, gizi siapa yang ingin diperbaiki melalui program ambisius ini?

Baca Juga  Kunker ke Dinsos Halbar, Anggota DPRD Ternate Soroti Peningkatan Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak

Politikus negeri ini perlu belajar untuk berhenti berdalih atas inkompetensi atau keteledorannya. Bangsa ini kerap tertimpa tragedi,, dari tragedi G30S/PKI (plus Gestok) — pembunuhan massal warga yang dianggap terafiliasi PKI, hingga tragedi perkosaan massal yang menimpa perempuan Chindo pada 1998. Secara statistik korban dua tragedi besar ini mungkin “hanya nol koma sekian persen.” Namun tragedi dan penderitaan manusia tidak semustinya ditilik melalui angka statistik.

No More Posts Available.

No more pages to load.