Tidakkah ini akan dianggap oleh China sebagai pemihakan dan menjadi justifikasi bahwa Indonesia adalah pihak yang ‘hostile’ terhadap kepentingan China? Indonesia, yang seharusnya adalah pihak netral akan menjadi ‘enabler’agresi AS dan otomatis dipandang pihak lawan oleh China.
Apakah posisi ini pernah dipikirkan? Mengapa Indonesia memberi konsesi terlalu banyak kepada rejim Trump, yang kedudukannya di dunia internasional makin merosot itu?
Juga soal pendidikan militer. Doktrin perang kita adalah perang rakyat semesta. Wilayah kita itu bolong-bolong (porous), yang dari sisi militer sangat sulit dipertahankan. Persenjataan kita sangat minim — dan sangat kuno alias ketinggalan jaman.
Jika terjadi perang, jelas kita berada pada posisi asimetris. Posisi yang amat lemah. Namun kelemahan dalam kekuatan persenjataan bukan berarti tidak mampu berperang secara militer.
Peperangan mutakhir memperlihatkan bagaimana posisi asimetris ini toh bisa melawan. Kita bisa kalah dalam pertempuran namun sangat bisa menang dalam perang. Perang Ukraina-Rusia dan Iran-AS/Israel memperlihatkan ini.
Sehingga ini menjadi pertanyaan besar: Mengapa kita harus belajar ke Amerika, yang berperang dengan peralatan militer yang sangat canggih, yang kita tidak akan pernah mampu membelinya? Berhadapan dengan mesin-mesin perang Amerika kita hanya bisa melongo dan melompong, karena kita tidak akan pernah memakainya karena tidak mampu membelinya.









