Merasa Dirugikan Tindakan Kasat Pol-PP Mahasiswa Bacan Barat Bakal Tindaklanjuti Sesuai Aturan yang Berlaku

oleh -109 views
Link Banner

Porostimur.com | Labuha: Merasa dirugikan atas tindakan depresif oknum Aparatur Sipil Negara (ASN) yang diduga kuat telah menyalahi aturan sebagai ASN, M Risal Abusama mahasiswa Bacan Barat yang saat hendak melakukan aksi di depan Kantor Bupati Halsel pekan kemarin akan terus melakukan tindak lanjuti terkait tindakan oknum ASN yang di ketahui Kasat Pol-PP Sugandi.

Hal ini disampaikan Risal kepada wartawan porostimur.com melalui liris pribadinya. Selasa, (18/02/20).

Menurutnya Pegawai Aparatur Sipil Negara yang selanjutnya disebut Pegawai ASN adalah
pegawai yang berfungsi sebagai pelaksana
kebijakan publik, pelayan publik, dan perekat
dan pemersatu bangsa, sebagaimana tecantum
pada Pasal 10 Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 5 Tahun 2014 tentang
Aparatur Sipil Negara (UU ASN), dan pasal 2 Asas Prinsip Nilai Dasar Serta Kode Etik dan Kode Perilaku
sebagai ASN.

Sudah seharusnya dalam menjalankan tugas dan perannya menjunjung tinggi asas penyelenggaraan kebijakan dan Manajemen ASN berdasarkan pada asas, a. kepastian hukum;
b. profesionalitas;
c. proporsionalitas;
d. keterpaduan;
e. delegasi; f. netralitas;
g. akuntabilitas; h, efektif dan efisien;
i. keterbukaan;
j. nondiskriminatif;
k. persatuan dan kesatuan; l. keadilan dan kesetaraan; dan
m. kesejahteraan. Yang di atur dalam UU Nomor 5 Tahun 2014 tentang
Aparatur Sipil Negara (UU ASN),” tambahnya.

Risal menjelaskan kronologis kejadian pada saat aksi M Risal mangaku bahwa dirinya bersama beberapa rekan mahasiswa mencoba masuk menanyakan rapat yang digelar apakah sudah selesai atau belum. Pada saat masuk Kantor Bupati Risal bersama rekan mahasiswa ditemuai salah satu Pegawai di lingkup Kantor bupati Halsel, dan saat itu menurutnya mencoba untuk menyakan rapat tersebut ke salah satu petugas tersebut pasalnya dari mulai aksi sejumlah Pol-PP mengkatakan bahwa pihak pemerintah sedang melakukan rapat. Untuk memastikan bahwa rapat tersebut benar masih berjalan dirinya bersama reman mahasiswanya mencoba untuk kembali menanyakan kembali rapat tersebut.

Baca Juga  Dengan 7 Perahu Motor, KPU Kepulauan Aru Distribusi Logistik ke Kecamatan
M Risal Abusama

“Saya dengan teman mahasiswa pada saat itu masuk dalam kantor Bupati kemudian mengucapkan salam kami tanyakan di salah satu pegawai yang hendak berdiri di depan pintu, disitu kami menanyakan terkait rapatnya dorang sudah selesai atau belum tetapi kemudian kami sempat aduh mulut dengan sejumlah Satuan Polisi Pamong Paraja (Satpol-PP) tiba-tiba kasat pol-pp Sugandi keluar dan saya teriak ini kan sudah menjadi alasan dan kami keluar masuk yang kedua kalinya Kasat tersebut kembali bertanya sapa itu? Jawab Risal saya “(Saya langsung jawab saya).” dari situ mungkin karena pisokologinya terganggu dengan sendiri kasat itu mau melakukan pemukulan pada saya saya merasa aneh kemudian saya tadah muka dengan nada saya suruh kasat pukul sudah nah dari situnya dia langsung meninjok tangannya ke saya “(dia langsung kase siruju tangan di saya)”, tangannya kenal di dagu saya dan terjadi saling tolak menolak antara kami dan kasat beserta anggota pol-pp lainnya sampai diluar lingkungan kantor bupati, bahkan pada saat itu kasat juga sempat injak teman saya namun dalam video itu yang diviralkan hanya saya saat kasat melalukan tindakan depseresinya, “Jelas Risal

Baca Juga  Terkait Penyebab Kematian Saniah, Polisi Masih Tunggu Hasil Visum

Lanjutnya akan tetapi, di dalam tatanan dinamika birokrasi republik dua warna ini, terkhususnya di kabupaten Halmahera Selatan (Halsel) mengalami suatu faseh birokraksi yg pasif dan tidak mengerti akan kode etik dan tugasnya dalam melayani pelyanan publik. Yg sudah di jelaskan dalam undang-undang republik Indonesia nomor 5 tahun 2014. Salah satu kasus adalah Kadis Satpol-PP yg kemudian melakukan tindakan represif kepada masa aksi yg melakukan demonstrasi kemarin.

“Salah satu tindakan tdak terpuji atau represif yang dilakukan oleh Kasat Satpol-PP Subandi kepada masa aksi yaitu, melakukan tindak kekerasan pemukulan masa aksi dan menginjak masa aksi, sehingga masa aksi merasa dirugikan dengan tindakan premanisme Satpol PP tersebut, “Kayanya

M Risal Abusama bilang, saya selaku korban yg kemudian dalam aksi kemarin tidak terima dengan tindakan premanisme tersebut, dan meminta kepada pihak penegak hukum dalam hal ini Polres Hasel dan juga komisi aparatur sipil negara ( KASN ) agar supaya memberikan teguran dan memberikan efek jera kepada Kadis Satpol PP Kabupaten Halsel sesuai dengan UU yg berlaku, “Katanya lagi

Baca Juga  Febry Calvin Tetelepta Sentil Balai Sumberdaya Air Maluku Terkait Bendungan Way Apu

Masih Risal, setelah kejadian tersebut kami mau melaporkan atas tindakan depresif Kasat tersebut namun karena kami tau dinamika politik di Halsel seperti apa sehingga kami belum menindkalanjuti hal hal itu.

Lanjut Risal yang sering disapa Che Abu’ Saya juga takut dan khawatirkan tindakan premanisme Satpol PP ini yang juga bisa menjadi budaya di dalam birokrasi kab. Halsel dan bisa menghambat dinamika demokrasi kita dalam penyampaian pendapat di muka umum. Maka dari pada itu sekali lagi saya tegaskan bahwa saya tidak terima dengan hal premanisme Satpol PP ini, saya dan beberapa kawan-kawan akan menindak lanjuti hal ini agar supaya tidak menjadi budaya yang merusak harkat dan martabat selaku ASN yang seharusnya mengayomi dan melindungi aspirasi masyarakat dimana telah di wakili oleh teman-teman mahasiswa kemarin, “Tegasnya

Terpisah Kasat Pol-PP M Sugandi saat dikonfirmasi wartawan Selasa, (18/02/20)
Dirinya meminta untuk bertemu menjelang beberapa jam kemudian wartawan kembali menghubungi nomornya 082189239xxx sudah tidak aktif (diluar jangkaun).

Sebelumnya Kasat M Sugandi sempat mengirimkan dua kali sms namun saat dihubungi tidak ada jawaban alias tidak aktif. (adhy)