Meriah, bakudapa Kapolda Maluku dan Uskup Amboina

oleh -37 views
Link Banner

@Porostimur.com | Ambon : Usai sudah penyelenggaraan Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) Nasional I di Kota Ambon.

Namun sukacita dalam persaudaraan masih ditunjukkan beberapa kontingen.

Salah satunya, kontingen asal Sulawesi Utara (Sulut) yang melakukan pertemuan persaudaraan dengan Uskup Diosis Amboina, Mgr Petrus Canisius Mandagi,M.SC, Jumat (2/11).

Kebersamaan ini pun berlanjut saat kontingen dari negeri nyiur melambai ini bertolak menuju kediaman dinas Kapolda Maluku, Irjen Pol Drs Royke Lumowa,MM.

Tak lupa, mereka turut menggandeng Mandagi bersama-sama menuju kediaman dinas Lumowa.

Kemeriahaan dan suasana persaudaraan lebih terasa kental dan mendarah daging ketika kontingen asal Sulut dijamu dalam acara makan siang dengan menu masakan Minahasa yang sudah disiapkan Lumowa sebelumnya.

Baca Juga  Tips Sederhana Agar Pria Jadi Idaman Pacar

”Ada RW, ada pangi. Ada juga sate,” singkatnya.

Sesudahnya, acara bakudapa ini diisi dengan acara bergoyang bersama.

Lagu-lagu yang menghipnotis itu seperti Tobelo, Ge Mu Fa Mi Re dan beberapa lagu lain, memaksa seluruh kontingen berdiri dan bergoyang bersama.

Polones dan goyang lagu ”Anjing Kacili” pun kedengaram memeriahkan acara bakudapa ini.

Bahkan Lumowa pun tak kuasa menolak ajakan untuk bergoyang bersama dari Pastor Paroki Batu Gantong Ambon, Pastor Anthon Kaseger,MSC.

Mengisi kemeriahan ini, Lumowa pun meminta kontingen  Sulut untuk menyanyi, di antaranya lagu ”Pulang Jo” yang dipopulerkan Tantowi Yahya.

Atas penyelenggaraan Pesparani Nasional I, Ketua Kontingen Sulut, Edwin Kindangen, pun angkat bicara.

Baca Juga  Purna Tugas, Personel Satgas Teritorial di Malut Ikuti Swab Test

”Ambon luar biasa. Penerimaan bahkan pengamanan luar biasa,” ujarnya.

Saat saling membagikan kisah, Mandagi menceritakan pengalamannya selama 24 tahun berada di Ambon.

Diakuinya, yang dibawanya ke Ambon ialah sikap orang Manado, yaitu semboyan Torang Samua Basudara.

Mandagi bahkan sempat berkelakar bahwa dirinya hampir mati di Ambon karena kerusuhan.

”Saya bilang sama ibu Megawati saat itu kerusuhan harus dihentikan. Kalau tidak, penyanyi dan preman Ambon tidak akan ada lagi. Hanya akan tinggal Mandagi dan Sarundajang (Plt gubernur saat itu),” pungkasnya. (keket)