Meski Tanpa Profit, Indra Utami Tamsir Terus Berjuang untuk Keroncong Langgam Jawa

oleh -61 views
Link Banner

Porostimur.com | Jakarta: Di Indonesia, musik keroncong langgam Jawa bukanlah jenis musik yang jadi primadona. Bahkan, saking sepinya peminat, musik ini bisa dikatakan tak menghasilkan profit. Pelaku musik keroncong langgam Jawa harus berjuang tanpa lelah bak menguak belantara hutan. Itulah yang dirasakan penyanyi Indra Utami Tamsir.

Indra adalah penyanyi keroncong langgam Jawa yang pernah menerima predikat Penyanyi Keroncong Terbaik AMI Award 2013, lewat album “Nggayuh Katresnan”. Hingga kini, Indra tetap konsisten memperjuangkan keroncong langgam Jawa meski harus penuh perjuangan.

“Sejak 15 tahun lalu, saya memasuki industri rekaman keroncong secara indie, yang semuanya saya biayai sendiri,” ucap Indra yang akrab disapa Mbak IUT dalam wawancara bersama pengamat musik Bens Leo di IG Live akunnya @bensleo52.

Baca Juga  Sarri Inginkan 2 Pemain Ini Gabung Juventus

Demi musik keroncong, Indra mengaku menyokong semua keperluannya lewat beberapa bisnis pribadinya. Dari situ, ia bisa merilis empat album yakni “Pengantin Agung” (2012), “Nggayuh Katresnan” (2013), “Wanita” (2016), dan “Mustika Indonesia” (2018).

Menurutnya, ia tak pernah menyesal melakukan semua itu karena ia merasa bahagia saat menyanyi keroncong. Apalagi, penggemarnya saat ini tak hanya ada di Indonesia, melainkan sampai ke Suriname dan Belanda.

“Mungkin karena keroncong sudah menjadi bagian dari napas saya. Maka, tidak ada kata sulit untuk mengerjakannya,” lanjutnya.

Di industri musik keroncong, apalagi khusus langgam Jawa, memang sedikit sekali nama penyanyi wanita yang meraih popularitas nasional.

Satu di antaranya Waldjinah, yang mendapat julukan Ratu Keroncong dan mempopulerkan “Walang Kekek” . Indra sendiri berada beberapa generasi di bawah Waldjinah yang berkarier sejak tahun 1958. Indra bahkan kerap disebut sebagai The Next Waldjinah.

Baca Juga  Punya Label Sendiri, Lyla Kenalkan Lagu 'Terlalu Baik'

Menurutnya, penyanyi keroncong yang mengambil spesialisasi langgam Jawa memang terasa lambat berkembang.

“Padahal, saat show ke daerah, saya melihat banyak bibit bagus. Namun mereka tidak punya kesempatan untuk berkembang apalagi sampai merilis album,” ujar Indra.

Pada Juli 2021, album kelima Indra akan dirilis. Khusus di penggarapan album ini, ia untuk pertama kalinya turun menulis lirik untuk 7 lagu dari 9 lagu yang dinyanyikan dan direkamnya.

“Notasi dan aransemennya ditulis Budi L Tandang, antara lain ‘Kayungyun’, ‘Kembang Impen’, ‘Cincin Emas’ dan ‘Ngelayun Esemu’,” ujarnya.

(red/beritasatu)