Militer Myanmar yang Kudeta Aung San Suu Kyi Berubah, Dulunya Membantai Kini Dekati Etnis Rohingya

oleh -57 views
Link Banner

Porostimur.com | Naypyidaw: Sebuah perubahan ditunjukkan militer Myanmar yang melakukan kudeta kepada pemerintah Aung San Suu Kyi.

Pihak Militer yang melakukan kudeta ke pemerintahan sah tersebut dilaporkan mulai mendekati Muslim Rohingya di Rakhine.

Perubahan yang dilakukan pihak militer tersebut muncul setelah mendapat kecaman luas dari pihak internasional terkait kudeta mereka.

Terlebih soal kecaman jika mereka melakukan kudeta akan membuat Rohingya semakin menderita sebagai mana dulu mereka membantainya.

Bahkan demonstrasi besar-besaran juga terjadi di Myanmar. Apa yang dilakukan militer menjadi tanda tanya besar.

Pasalnya militer turut melakukan pembantaian etnis Rohingnya beberapa tahun silam.

Kabara terbaru, rezim militer baru mengirimkan surat kepada pemerintah Bangladesh melalui duta besarnya di Myanmar untuk menjelaskan alasan kudeta tersebut.

Hal itu seperti diberitakan Intisari dari asiantimes.com (9/2/2021), tak lama setelah menggulingkan pemerintahan Aung San Suu Kyi yang terpilih secara demokratis.

Mereka menjelaskan tentang tuduhan penipuan pada pemilu November 2020, di mana partai Aung San Suu Kyi, Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) menang dengan gemilang.

Baca Juga  Bertambah 2 Kasus, Pasien Positif COVID-19 di Maluku Utara Jadi 14 Kasus

Tawarkan Solusi Masalah Rohingya

Dikatakan, dalam surat yang isinya belum dipublikasikan secara lengkap itu, rezim militer juga menyebutkan kemungkinan solusi untuk menyelesaikan krisis Rohingya.

Hal itu mendorong Menteri Luar Negeri Bangladesh Abdul Momen, yang dikutip oleh Dhaka Tribune pada 6 Februari, mengatakan “Ini adalah kabar baik. Ini awal yang bagus. ”

Kemudian, di dalam negara bagian Rakhine, Myanmar, beberapa komandan militer lokal telah mengunjungi daerah berpenduduk Muslim.

(GACAMigran diselamatkan sebagian besar Rohingya dari Myanmar dan Bangladesh tidur di balai desa di kota nelayan Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat Propinsi Sumatera Utara pada 16 Mei 2015 setelah 95 diselamatkan oleh nelayan lokal Indonesia dari laut lepas Pangkalan Susu. AFP PHOTO / ROMEO GACAD (AFP PHOTO / ROMEO GACAD)

Lokasinya di dekat perbatasan Bangladesh dan sebuah kamp untuk pengungsi Rohingya di ibu kota negara bagian Sittwe.

Menurut laporan United News Bangladesh (UNB) 5 Februari, para komandan berbicara dengan para tetua Rohingya.

Mereka menyumbangkan 500.000 kyat Myanmar (US $ 350) dan makanan untuk masjid di Aung Mingalar Quarter.

Di lokasi ini terdapat ribuan pengungsi internal (IDP) telah mendekam sejak kerusuhan komunal antara Muslim dan Buddha pada tahun 2012.

Kunjungan militer juga dilaporkan terjadi di Maungdaw, kota negara bagian Rakhine yang berbatasan dengan Bangladesh.

Baca Juga  ISIS Ancam Bom Kampus Unpatti Ambon

Para komandan dilaporkan memberi tahu Rohingya hal yang sama, bahwa bukan militer, melainkan Suu Kyi yang harus disalahkan atas eksodus besar- besaran mereka dari Myanmar ke Bangladesh pada 2017.

Belum jelas apakah Rohingya menganggap serius klaim tersebut.

Namun selama ini diyakini, apa yang terjadi pada 2017 adalah kampanye militer di mana Suu Kyi,

atau pemimpin sipil terpilih lainnya, tidak memiliki pengaruh mengingat militer mengendalikan pertahanan, urusan perbatasan, dan kementerian dalam negeri.

Laporan: Muslim Rohingya di Bangladesh Bahagia Atas Jatuhnya Suu Kyi

Namun, laporan UNB menyatakan bahwa Rohingya di kamp-kamp yang penuh sesak di Cox’s Bazar Bangladesh sangat gembira atas berita jatuhnya Suu Kyi.

Laporan serupa juga muncul di media Bangladesh lainnya.

Pihak berwenang Bangladesh sendiri telah menyerahkan daftar 840.000 Rohingya ke Myanmar untuk verifikasi kewarganegaraan.

(FILES) Dalam file foto yang diambil pada 10 Desember 2019 ini, orang-orang berpartisipasi dalam unjuk rasa untuk mendukung Penasihat Negara Myanmar Aung San Suu Kyi, saat dia bersiap untuk membela Myanmar di Pengadilan Internasional di Den Haag terhadap tuduhan genosida terhadap Rohingya. Muslim, di Yangon. Militer Myanmar telah menahan pemimpin de facto negara itu Aung San Suu Kyi dan presiden negara itu dalam kudeta, kata juru bicara partai yang berkuasa pada 1 Februari 2021. (Sai Aung Utama / AFP)

Namun hanya 5% dari mereka, atau 42.000, yang telah diverifikasi oleh Myanmar dan hampir tidak ada yang dapat kembali karena masalah keamanan yang masih ada, menurut asiantimes.com.

Baca Juga  Inspektorat Kabupaten Kepulauan Sula Proses 17 Kades Ke Kejari Sanana

Bangladesh, yang takut akan radikalisasi di antara para pengungsi muda yang gelisah dan aktivitas geng kriminal di antara mereka.

Hingga kini telah memindahkan 5.300 pengungsi dari kamp-kamp yang penuh sesak dan padat di dekat Cox’s Bazar ke Bhasan Char.

Sementara para analis yang berbasis di Yangon berpendapat, bahwa sebagian dari tipu muslihat militer mengatakan mereka yang menentang pengambilalihan militer dan kebijakannya dapat dicap “rasis” atau “Islamofobia”.

Termasuk jika mereka mencela militer karena menyarankan pemulangan komunitas yang menurut mayoritas warga Myanmar merupakan imigran ilegal dari Bangladesh.

Mengenai peran China, Bangladesh telah menggantungkan harapannya pada bantuan Beijing untuk menemukan solusi bagi krisis pengungsi.

Menteri Luar Negeri bangladesh, Abdul Momen, berbicara kepada wartawan Bangladesh pada 3 Februari,

“Kami memiliki kepercayaan di China. Mereka telah maju untuk mengambil inisiatif dan beberapa kemajuan telah dibuat.”

(red/tribunnews)