Namun, syukurlah ada para ulama, akademisi, tokoh masyarakat, hingga organisasi sipil yang tegak berdiri menggantikan posisi negara.
Mereka mengecam perang yang kini masih dan mungkin akan terus menyala entah sampai kapan. Bahkan, perang ini mereka jadikan momentum baik bagi Indonesia untuk keluar Board of Peace yang digagas Presiden AS Donald Trump.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) secara resmi mendesak pemerintah menarik diri dari BoP. Mereka menilai langkah AS menyerang Iran tak mengindahkan perdamaian. Perang yang mereka mulai justru memicu kekerasan regional.
Mereka menilai Trump sama sekali tak punya niat menegakkan perdamaian di antara Israel dan Palestina. Bagi mereka, arsitektur perdamaian yang dibangun BoP sekadar retorika palsu yang memperkuat ketimpangan keamanan global.
Sejumlah tokoh sipil dan akademisi juga mengajukan petisi serupa. Mereka menilai struktur BoP menyimpang dari mandat multilateral PBB, tidak merujuk resolusi Dewan Keamanan, serta menempatkan kendali pelaporan di bawah kepemimpinan politik Amerika Serikat.
Dalam bahasa awam: ini bukan forum keluarga besar, melainkan rapat RT yang notulennya ditulis sendiri oleh ketua. Itu sebabnya, mereka mendesak Presiden Prabowo Subianto memanfaatkan momentum perang untuk hengkang dari BoP.









