Nalar Berpartai Jadi Bahasan Utama di Hari Kedua Rakersus NasDem

oleh -119 views
Link Banner

Porostimur.com | Ternate: Partai NasDem menggelar hari kedua Rapat Koordinasi Nasional Khusus (Rakornasus), Rabu (24/2/2021).

Pada hari kedua tersebut, gagasan penting yang disampaikan Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh adalah nalar berpartai.

“Ruang demokrasi yang bebas perlu nalar yang sehat. Agar kritik jadi elegan dan meluruskan sesuatu yang keliru. Gagasan harus dilawan dengan gagasan. Selama ini, yang kosong dari sistem kepartaian kita adalah keteladanan kepemimpinan politik,” ujar Surya Paloh.

Wakil Ketua Organisasi Kaderisasi dan Keanggotaan DPW Partai NasDem Maluku Utara, A. Malik Ibrahim kepada tandaseru.com mengatakan, buruknya kinerja DPRD juga disumbangkan oleh peran partai politik yang tak signifikan dalam membentuk karakter kader.

Link Banner

Fakta tersebut menunjukkan bahwa partai-partai politik di daerah belum berhasil merumuskan perannya sebagai institusi agregasi kepentingan politik publik.

Baca Juga  5 Surfer Cantik yang Andal Taklukan Ombak dan Hati Para Pria

“Partai hanya terlibat dalam upaya pengumpulan massa melalui jargon-jargon dangkal dan guyuran uang. Partisipasi kegembiraan rakyat daerah dalam momentum menyongsong pilkada dan pileg bukanlah tuntutan ideologis dan kohesivitas dengan pengurus partai dengan basis elektoral, melainkan sekadar ramaian, kerumunan orang yang hiruk-pikuk menunggu pembagian sembako,” paparnya.

Rakornasus NasDem juga membahas hal elementer terkait penguatan militansi kader partai sebagai suatu keharusan. Karena politik seperti ini tentu bukan basis sebuah demokrasi yang sehat.

“Demokrasi yang tanpa argumen adalah demokrasi yang hanya menjadikan rakyat sebagai obyek yang gampang dan terus dimanipulir,” sambung Malik.

Sejatinya, kata Malik, NasDem memang partai tanpa mahar. Tapi kenyataan di lapangan, justru yang terjadi adalah banyak kader yang melakukan “praktek dagang sapi”. Ini ironis, yang tak sesuai dengan spirit restorasi.

Baca Juga  6 Trik Padukan Celana Jeans Ala Hijab Influencer yang Wajib Kamu Tahu

“Kepicikan pikiran, kekerdilan watak dan oportunisme kepentingan adalah hasil dari perpolitikan kita di daerah selama ini,” ucapnya.

Malik menilai, kultur ketertutupan dalam proses pengambilan keputusan pemberian rekomendasi di setiap pilkada misalnya, juga menjadi gejala yang begitu akut. Di situ terjadi apa yang disebut “black market politics” yang bertentangan dengan prinsip kolektivitas partai modern.

“Betul secara prosedural praktik demokrasi itu sudah terjadi. Tapi esensi substansial demokrasi itu masih jauh dari harapan. Dan bagi saya, kunci untuk mengatasi segala kebuntuan ini kembali pada penguatan kaderisasi partai. Mengapa memerlukan penguatan kaderisasi? Karena langkah ini diyakini sangat berkorelasi dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” tandasnya. (red)