Natal 3 gandong, bukti kerukunan beragama

oleh -153 views
Link Banner

@Porostimur.com | Ambon :Digelarnya perayaan Natal 3 gandong/negeri, Hutumuri, Tamilouw dan Siri Sori, membuktikan eksistensi kerukunan beragama yang terus terjaga di Maluku, sebagai bukti warisan tradisi dan budaya para leluhur.

Hal ini ditegaskan Gubernur Maluku, Ir. Said Assagaff, dalam sambutannya pada perayaan natal yang digelar di Negeri Hutumuri, Kamis (28/12).

”Untuk kedua kalinya saya berdiri di lapangan ini. Pertama, 6-7 tahun setelah menjadi Wakil Gubernur dan sekarang setelah menjadi gubernur. Karenanya, untuk melanjutkan kepemimpinan sebagai gubernur periode yang akan datang saya tidak malu lagi untuk meminta dukungan dari warga Gereja Protestan Maluku. Peristiwa hari ini menjadi sangat bersejarah dan penuh makna karena teruji semua, pra natal pela gandong kota ambon sebagai warisan para leluhur itu telah memungkinkan membuatnya yang penuh rasa perhatian, semangat saling tolong-menolong dan komitmen untuk maju secara bersama-sama,” ujarnya.

Menurutnya, perayaan Isa Almasih Kajadiang 3 saudara ini, menegaskan relevansi kearifan lokal, sebagaimana terpatri dalam ungkapan ale rasa beta rasa, potong di kuku rasa di daging.

Link Banner

Apalagi, jelasnya, ketika saudara Hutumury beragama Kristen yang merayakan kajadiang, maka dua saudara yang lain yaitu Tamilouw dan Siri Sori Salam maupun Serani, turut merasakan apa yang dirasakan saudara- saudaranya.

Baca Juga  Tak Punya Uang, Pemprov Malut Pinjam 500 Miliar Ke Pihak Ketiga

”Demikian nanti jika basudara Muslim merayakan hari raya keagamaan, maka beta sangat turut percaya bahwa basudara Sarani dari Hutumury dan Siri Sori Sarani akan turut merasakan menopang perayaan tersebut. Itulah indah orang basudara dalam pela gandong dan ale rasa beta rasa,” jelasnya.

Isa almasih yang datang ke dalam dunia, tegasnya, digambarkan sebagai pembawa damai dan cinta kasih.

Dimana, damai dan cinta kasih itu bersifat besar yang menjadi dambaan, tujuan hidup umat manusia dan semua umat beragama.

Semua agenda agama, akunya, pada akhirnya bermuara pada hidup damai dan sejahtera, baik damai antar manusia dan penciptanya, sesama manusia dan manusia bahkan manusia dengan alam ciptaannya damai sejahtera.

Baca Juga  Pendidikan, seni menciptakan anak berkarakter baik

”Itulah warta yang melekat pada kajadiang Isa Almasih yang memberi jaminan bahwa perdamaian itu bukan sesuatu yang mustahil. Perdamaian itu merupakan anugerah TuhanYang Maha kasih. Merayakan hari kajadiang berarti merayakan hidup damai satu sama lain, hidup yang solider, saling peduli, saling sayang serta saling berbagi kepada sesama manusia. 3 negeri yakni Tamilouw, Hutumury dan Siri Sori saat ini sudah melakukan 3 peristiwa sekaligus, yakni peristiwa sejarah, peristiwa teologi dan peristiwa budaya,” tegasnya.

Menurutnya, peristiwa sejarah yang dilakoni karena merupakan fakta sejarah yang tidak terbantahkan.

Bahwasanya pada hari itu juga sejarah hidup orang sodara tak hanya dalam kata-kata tetapi nyata tertuang dalam perayaan kajadiang Isa Almasih saat ini.

Begitupun dengan peritiwa teologis, karena agama Salam dan Sarani juga saling memahami hidup bersama dalam perbedaan.

”Peristiwa budaya sebab nilai-nilai kearifan lokal sebagai warisan dari orang tatua katong, akan terus merajut kebersamaan dan solidaritas 3 basudara ini. Peristiwa saat ini dapat menjadi contoh, dapat menjadi teladan tentang hidup bersama dalam umat beragama, perbedaan kampong dan perbedaan latar belakang akan sosial. 3 negeri ini sudah menunjukannya,” terangnya.

Baca Juga  Hari Ini Majelis Kode Etik ASN Halbar Dijadwalkan Menggelar Sidang Lanjutan Pejabat "Genit"

Dan dalam semangat orang basudara dapat tercipta saling pengertian, saling menolong saling menerima kajadiang atau natal yang dirayakan bersama, saat ini merupakan sebuah bukti yang benar-benar nyata bahwa warisan budaya leluhur di Maluku ini sangat relevan dan luar biasa dalam konteks maluku yang

”Jika kita bandingkan di berbagai wilayah di seluruh tanah air kita, maka mungkin hanya di Maluku suasana kebersamaan lintas agama merupakan sesuatu yang khas dan murni. Karena itu harus bangga. Bangga terhadap nilai nilai budaya yang bersifat intrusif, terbuka dalam menghargai perbedaan,” pungkasnya. (Febby Sahupalla)