Ngeri! PBB Ramal Akan Ada ‘Awan Gelap’ Buat RI Cs

oleh -78 views

Porostimur.com, New York – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyuarakan peringatan terkait potensi krisis ekonomi di negara-negara berkembang Asia. Bahkan, badan global itu menyebut krisis ini bisa jadi lebih parah dibandingkan tahun 2008 dan krisis saat pandemi Covid-19 pada 2020.

Konferensi PBB tentang Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) menyatakan kebijakan moneter dan fiskal di negara maju dapat mendorong timbulnya stagnasi global. Ini akan berdampak bagi negara-negara berkembang yang memiliki utang.

“Semua wilayah akan terpengaruh, tetapi bel alarm paling sering berbunyi untuk negara-negara berkembang, banyak di antaranya mendekati default utang,” kata UNCTAD dalam Laporan Perdagangan dan Pembangunan 2022 yang dikutip dari CNBC Internasional, Rabu (5/10/2022).

Sekretaris Jenderal UNCTAD, Rebeca Grynspan, memprediksi negara-negara berkembang di Asia sedang menuju resesi ekonomi. Apalagi, bila kebijakan negara-negara maju justru mengarah pada kenaikan suku bunga.

“Kita masih punya waktu untuk mundur dari tepi resesi. Tidak ada yang tak terelakkan. Kita harus mengubah arah,” ujar Grynspan.

“Kami kemudian menyerukan campuran kebijakan yang lebih pragmatis yang menerapkan kontrol harga strategis, pajak rejeki nomplok, langkah-langkah anti-trust dan peraturan yang lebih ketat tentang spekulasi komoditas,” jelasnya.

Dalam laporan UNCTAD, kenaikan suku bunga tahun ini di AS saja akan memangkas sekitar US$ 360 miliar pendapatan masa depan untuk negara-negara berkembang kecuali China. Pasalnya, aliran dana investasi yang seharusnya mengalir ke negara berkembang berubah ke arah negatif.

“Di internet, negara-negara berkembang sekarang membiayai negara-negara maju,” kata laporan itu.

“Kenaikan suku bunga oleh negara-negara maju adalah yang paling rentan. Sekitar 90 negara berkembang telah melihat mata uang mereka melemah terhadap dolar tahun ini,” jelas laporan lagi.

Asia Timur dan Tenggara akan mencatat tingkat pertumbuhan di bawah lima tahun sebelum pandemi. UNCTAD memprediksi Asia Timur tumbuh sebesar 3,3% tahun ini, dibandingkan dengan 6,5% tahun lalu.

“Impor yang mahal dan melemahnya permintaan global untuk ekspor serta perlambatan China juga akan menambah tekanan lebih lanjut pada bagian kawasan itu.”

Di Asia Selatan dan Barat, permasalahan utang yang menumpuk masih menjadi momok bagi kawasan itu. Sri Lanka telah jatuh ke dalam default negara, Afghanistan tetap dalam kesulitan utang, dan Turki dan Pakistan menghadapi kenaikan imbal hasil obligasi.

Sementara itu, sebuah catatan baru oleh Capital Economics pada hari Selasa menggemakan temuan UNCTAD. Penelitian itu menemukan melemahnya performa industri global akibat inflasi dan kenaikan suku bunga.

“Sisi baiknya adalah bahwa kapasitas cadangan ini akan mengurangi kekurangan global dan menekan tekanan harga,” papar Simon MacAdam, ekonom global senior Capital.

UNCTAD mengatakan situasi ini adalah hasil dari terburu-buru untuk menetapkan suku bunga setelah bertahun-tahun mempertahankan angka yang rendah. Akhirnya, ini gagal dalam melawan inflasi dan pertumbuhan ekonomi.

“Berfokus hanya pada pendekatan kebijakan moneter – tanpa mengatasi masalah sisi penawaran di pasar perdagangan, energi dan makanan – terhadap krisis biaya hidup memang dapat memperburuknya,” jelas laporan UNCTAD.

“Di bawah tantangan rantai pasokan saat ini dan meningkatnya ketidakpastian, di mana kebijakan moneter saja tidak dapat dengan aman menurunkan inflasi, pragmatisme perlu menggantikan kesesuaian ideologis dalam memandu langkah kebijakan selanjutnya,” kata lembaga itu lagi.

(red/cnbc-indonesia)