Ngeri. Puluhan Ribu Mahasiswa Kepung Gedung DPR

oleh -121 views
Link Banner

Porostimur.com | Jakarta: Aksi menolak sejumlah rancangan undang-undang, terus bergulir luas. Tak sedikit mahasiswa dari luar Jakarta datang di Ibu Kota untuk bergabung dengan rekannya dalam aksi demo.

Para mahasiswa bersatu dalam aksi demo penolakan sejumlah RUU, antara lain RKUHP, RUU Pemasyarakatan, RUU Agraria, dan UU KPK hasil revisi yang telah disahkan.

Demo ini pun bukan hanya terjadi di Jakarta, tapi juga di berbagai daerah di seluruh Indonesia.

Di Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (24/9/2019), ribuan mahasiswa dari berbagai universitas terlihat berjubel.

Mahasiswa secara bersama-sama menggelar longmarch dari arah Semanggi menuju Gedung DPR.

Mereka menyerukan untuk menolak semua RUU seperti RKHUP dan RUU Agraria. Termasuk seruan penolakan UU KPK hasil revisi yang telah disahkan, juga bergema.

“Tolak..tolak..tolak RUU, tolak..tolak..tolak RUU,” seru ribuan mahasiswa.

Sambil berjalan, massa membentangkan spanduk dan mengibarkan bendera Merah Putih.

Para mahasiswa yang berunjuk rasa itu juga meneriakkan sejumlah tuntutannya.

“Tolak revisi UU KPK, tolak RUKHP,” teriak ribuan mahasiswa itu.

“Revolusi, revolusi, revolusi sampai mati.”

Ribuan mahasiswa lalu berhenti tepat di gedung DPR/MPR RI. Mereka langsung berorasi meminta semua pembahasan RUU dibatalkan.

Sementara itu, Jalan Gatot Soebroto dari arah Semanggi menuju Slipi ditutup.

Mahasiswa dari berbagai daerah berbondong-bondong menuju Gedung DPR RI di Senayan, Jakarta. 

Berkumpul di Trisakti
Sebelumnya, ribuan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Indonesia berkumpul di Universitas Trisakti.

Mereka melakukan long march menuju Gedung DPR MPR untuk menyuarakan aspirasinya dalam menolak Revisi UU KPK dan RKHUP bersama mahasiswa lainnya dari berbagai universitas.

“Untuk dari mahasiswa Trisakti sendiri ada sekitar 3.000 mahasiswa yang turun. Belum lagi dari kampus-kampus lain yang gabung disini,” ujar Wakil Presiden Mahasiswa Universitas Trisakti, Dheatantra Dimas di kampusnya, Selasa (24/9/2019).

Baca Juga  Sambut Natal, Disperindag gelar Pasar Murah

Ia mengatakan, dipilihnya kampusnya sebagai titik kumpul lantaran memiliki sejarah dalam pergerakan mahasiswa serta jaraknya tak terlalu jauh dari lokasi aksi di Gedung DPR MPR.

“Mungkin karena kedua hal itu jadi teman-teman dari kampus lain sepakat kumpul disini,” kata Dheatantra.

Polisi pasang kawat berduri dan separator di sepanjang pintu utama gedung DPR RI, Senayan, Jakarta Selatan, Selasa (24/9/2010).
Polisi pasang kawat berduri dan separator di sepanjang pintu utama gedung DPR RI, Senayan, Jakarta Selatan, Selasa (24/9/2010). (Kompas.com/WALDA HARISON)

Ia menuturkan, sejak beberapa hari lalu sudah ada mahasiswa dari kampus lain yang bermalam di kampusnya. Mereka tak hanya berasal dari Jakarta.

“Ada yang dari luar kota juga. Yang banyak itu gabungan dari beberapa kampus di Bandung, dan dari Kalimantan juga ada. Ada yang tidur di sekret, ada juga yang di musolla, intinya kami satu suara dalam tuntutan kali ini,” paparnya.

Diberitakan sebelumnya, aksi demo bertajuk Gejayan Memanggil menjadi momentum bagi kalangan mahasiswa di berbagai daerah di Indonesia untuk melakukan pergerakan.

Kini kalangan mahasiswa berduyun-duyun turun ke jalan untuk menyuarakan penolakan atas UU KPK hasil revisi, RKUHP, dan sejumlah revisi UU lainnya.

Aksi demonstrasi mahasiswa ini merupakan penolakan atas sejumlah kebijakan eksekutif dan legislatif.

Pada Selasa (24/9/2019) hari ini, ratusan mahasiswa asal Universitas Diponegoro (Undip) dan Universitas Negeri Semarang (Unnes), Jawa Tengah, bertolak ke Jakarta untuk mengikuti demo di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta.

Namun, ratusan mahasiswa itu tertahan selama 6 jam di Brebes. Informasi yang diterima Kompas.com, mereka berangkat dari Semarang, pada Senin (23/9/2019), sekitar pukul 23.00 WIB. Mahasiswa menumpang lima bus pariwisata.

Baca Juga  Cermat Berbagi Sembako pada Masyarakat Terdampak Pandemi di Ternate

Namun, di tengah perjalanan, bus yang mereka tumpangi dihentikan oleh polisi dari Polres Brebes, pada Selasa (24/9/2019) dini hari, atau sekitar pukul 03.30 WIB.

Tidak lengkapnya surat-surat kendaraan satu dari lima bus itu menjadi alasan polisi membawa rombongan mahasiswa ke depan Mapolres Brebes.

Menurut seorang mahasiswa Mahendra, saat melintasi Tol Pejagan-Pemalang, pada sekitar pukul 03.30 WIB dini hari, bus dihentikan anggota Satuan Lalu Lintas Polres Brebes untuk pemeriksaan surat-surat kendaraan.

Satu dari lima sopir bus tidak bisa menunjukkan surat kendaraan yang lengkap. “250 mahasiswa pakai 5 bus. Tujuanya mau ke Senayan, gelar aksi damai. Dihentikan sementara karena satu bus surat tidak lengkap. Kita menunggu bus penggantinya,” kata Mahendra, saat ditemui di lokasi.

Mahendra didampingi mahasiswi Iza mengatakan, tujuan ke Jakarta untuk melakulan aksi damai demo, bergabung dengan mahasiswa lain dari berbagai daerah.

“Mau menyampaikan aksi menyuarakan keprihatinan kita atas kondisi negara ini. Ini bentuk komitmen kita bersama terkait revisi UU KPK, KUHP, kejadian karhutla, dan lainnya,” kata dia.

Sementara itu, bus pengganti yang datang selanjutnya membawa rombongan untuk kembali melanjutkan perjalanan ke Jakarta. Rombongan berangkat dari depan Mapolres Brebes sekitar pukul 09.00 WIB.

Sementara itu, Kepala Satlantas Polres Brebes AKP M Adimas belum memberikan keterangan terkait rombongan mahasiswa yang tertahan.

Sementara itu, beberapa bus yang surat-surat kendaraanya tidak lengkap, hingga berita ini dibuat, masih tertahan di depan Mapolres Brebes.

Mahasiswa Purwokerto Rela Tidur di Jalanan

Baca Juga  Beredar Kabar Kesempatan Menjadi TNI Tertutup, Kasdam: Hoax Itu!!!

Sementara itu, ratusan mahasiswa gabungan dari tiga universitas asal Purwokerto, Jawa Tengah, juga bergerak ke Jakarta demi mengikuti demo di depan Gedung DPR.

Mereka bahkan rela tidur di jalanan demi menyikapi kondisi terkini di Tanah Air.

Afif, salah satu koordinator lapangan dari Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) mengatakan ada mahasiswa dari tiga universitas di Purwokerto yang datang ke Ibu Kota.

Ketiga kamus itu yakni UMP, Institut Agama Islam Negeri (IAIN), dan Universitas Jenderal Sudirman (Unsoed).

“Total ratusan mahasiswa. Berangkat dari setelah aksi kemarin, pukul 23.00 WIB jalan dan sampai Jakarta pukul 08.00 WIB. Kami naik bus bermalam perjalanan dan tadi sampai tidur di sini (bahu jalan),” katanya saat ditemui di kawasan Senayan, Jakarta, Selasa (24/9/2019).

Menurut Afif, mereka tergerak setelah tidak adanya upaya DPR untuk membatalkan Rancangan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (RKUHP).

Bahkan DPR juga mengesahkan revisi Undang-undang KPK.

“Dari situ kita koordinasi dengan mahasiswa yang ada di Jakarta. Akhirnya kita berangkat ke sini. Kita juga tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Banyumas,” katanya dikutip dari artikel Kompas.com berjudul “Ikut Demo di DPR, Mahasiswa Purwokerto Berangkat Tengah Malam dan Tidur di Jalan”.

Dari pantauan Kompas.com, mahasiswa dari berbagai universitas terus berdatangan dengan menggunakan sepeda motor yang dilengkapi dengan bendera identitas masing-masing.

Mereka memadati jalan di depan Gedung Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) di Jalan Gerbang Pemuda, Tanah Abang, Jakarta Pusat. (red/kcm/dtc)