NTT Dilibatkan, PI 10 Persen Proyek Masela Ditanggung Terlebih Dulu oleh Para Kontraktor

Porostimur.com | Jakarta: Komisi VII DPR mewanti-wanti Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) untuk tidak melupakan masyarakat Maluku dalam pengerjaan proyek gas Abadi, Blok Masela.

Mercy Chriesty Barends, Anggota Komisi VII DPR, mengatakan tujuan utama dari pengembangan Blok Masela dengan membangun kilang di darat atau onshore adalah agar masyarakat Maluku jelas merasakan dampak dari pengerjaan proyek.

“Ini yang harus diperhatikan oleh pemerintah dan SKK Migas. Saya titip masyarakat Maluku harus benar-benar terlibat dalam proyek Masela,” kata Mercy dalam rapat dengar pendapat Komisi VII dengan SKK Migas, Kamis (16/1/2020) kemarin.

Dwi Soetjipto, Kepala SKK Migas, mengatakan proyek Masela ditargetkan mulai konstruksi fisik pada 2022, artinya masih ada waktu dua tahun untuk mempersiapkan sumber daya manusia.

Waktu dua tahun terlalu singkat untuk bisa menyiapkan tenaga ahli di bidang hulu migas.

Menurut Dwi, koordinasi telah dilakukan dengan Pemerintah Provinsi Maluku terkait mekanisme merekrut tenaga kerja untuk dilibatkan dalam proyek Masela.

“Kami minta gubernur segera sosialisasi mekanisme keterlibatan masyarakat daerah seperti apa, maka selanjutnya dengan Inpex mendidik dua tahun itu waktu yang pendek. Tidak mudah dua tahun menyiapkan tenaga kerja yang memiliki kualifikasi di hulu migas,” katanya.

Selain itu, Dwi juga menuturkan nantinya tidak hanya masyarakat Maluku yang akan dilibatkan, tetapi juga masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) lantaran lokasi Blok Masela juga termasuk wilayah NTT.

Dwi mengatakan masyarakat Maluku juga sudah menerima manfaat berupa jatah hak partisipasi (Participating Interest/PI) sebesar 10% yang biayanya ditanggung terlebih dulu oleh para kontraktor.

“Kami sadar yang lalu sudah disampaikan SDM, mengenai SDM melibatkan NTT misalnya kan sudah ada PI,” tukasnya.

Masyarakat Maluku nantinya juga bisa mendapatkan manfaat melalui blok lain. Misalnya, di Blok Tangguh, dimana Inpex juga memiliki hak partisipasi, sehingga bisa saja dilakukan pelatihan kepada masyarakat Maluku.

“BP Tangguh juga melaksanakan pelatihan ke masyarakat Masela nanti seperti itu,” jelas Dwi.

Proyek Masela merupakan proyek gas terbesar yang pernah dikembangkan Indonesia dengan kapasitas produksi fasilitas produksinya mencapai 9,5 juta metrik ton per tahun dalam bentuk LNG dan 150 juta kaki kubik per hari (mmscfd) dalam bentuk gas pipa.

Inpex berperan sebagai operator di blok tersebut yang dikembangkan menggunakan skema onshore.

Dengan skema tersebut maka kilang LNG nantinya akan dibangun di darat. (red/rtm)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: