Oleh: Ady Amar, Kolumnis
Jam’iyyah Nahdlatul Ulama yang selama ini dipandang sebagai jangkar moral bangsa justru dilanda gelombang kegelisahan. Dua persoalan yang berbeda namun saling berkelindan—undangan terhadap akademisi pro-Zionis, Peter Berkowitz, serta sorotan atas tata kelola keuangan dan indikasi pelanggaran administratif—menggetarkan tubuh organisasi pada saat yang mestinya menjadi ruang persiapan menuju usia emas.
Persoalan pertama mencuat ketika Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf, secara langsung mengundang Peter Berkowitz untuk menjadi pembicara dalam forum kaderisasi elit, AKN–Akademi Kepemimpinan Nasional– NU. Berkowitz adalah figur yang secara terbuka menyuarakan gagasan pro-Israel dan pro-Zionisme.
Di tengah tragedi kemanusiaan di Gaza, undangan kepada tokoh seperti ini menuai kritik tajam dari warga NU dan publik luas.
Ketika gelombang keberatan menguat, KH Yahya Staquf menyampaikan permohonan maaf dan menjelaskan bahwa keputusan itu terjadi karena dirinya “kurang cermat” dalam mempertimbangkan rekam jejak sang akademisi. Namun bagi banyak pengamat dan kalangan internal, alasan itu terdengar sulit diterima.
Seorang ketua umum organisasi sebesar NU, dengan akses pengetahuan dan jejaring yang luas, tentu dituntut memiliki kecermatan moral yang lebih tinggi—terlebih dalam isu yang menyangkut martabat umat Islam dan sejarah panjang dukungan NU terhadap Palestina.








