Nuku Jou Barakati

oleh -161 views
Link Banner

Oleh: Moksen SirfefaPeminat Sejarah dan Peradaban.

GUBERNUR Belanda di Ternate, Jacob Roland Thomazen menangkap Sultan Tidore Jamaluddin, Pangeran Goramahongi, Pangeran Zainal Abidin dan Sultan Bacan. Mereka dikirim ke Batavia dan diajukan ke pengadilan. Pangeran Goramahongi dan Pangeran Zainal Abidin kemudian diasingkan ke Sri Lanka. Sultan dan para pangeran secara formal dituduh melakukan permufakatan jahat. Diantaranya, gubernur Thomazen mendengar bahwa Sultan Jamaluddin dan Sultan Bacan telah melakukan pembicaraan empat mata memberi hadiah dan mengirim orang-orangnya membantu Thomas Forest, utusan Perusahaan Dagang Hindia Timur Inggris,¹ dalam ekspedisinya ke Raja Ampat dan Dorei (Manokwari) di pesisir utara Papua.

Sebenarnya dengan ditawannya Sultan Jamaluddin, masih terdapat tiga orang Kaicil (Pangeran/Putra Mahkota) yang berpotensi menduduki jabatan sultan yakni Nuku, Malikuddin dan Kamaluddin. Tetapi gubernur Thomazen malah mengangkat saudara tiri Sultan Jamaluddin, yakni Kaicil Gaigira, yang sudah sepuh dan sakit-sakitan. Buktinya tidak sampai setahun memerintah, Sultan Gaigira wafat. Alexander Cornabé yang saat itu hanya sebagai penjabat gubernur sebenarnya berkesempatan memilih tiga putra mahkota Nuku, Malikuddin dan Jamaluddin, namun ia lebih memilih mengangkat putra almarhum Sultan Gaigiri, yakni Patra Alam yang dia anggap dapat bekerjasama.

Nuku dan Kamaluddin memobilisasi rakyat dan para bobato melakukan pembangkangan massal. Gubernur Ternate menggunakan orang-orang Alifuru dan Halmahera dan seratus orang Eropa dengan empat kora-kora menuju Tidore dan membumihanguskan Toloa. Nuku selamat, melarikan diri ke Halmahera tetapi Kamaluddin dan beberapa sangaji dan gimalaha ditangkap dan dibawa ke Ternate. Para sangaji dan gimalaha serta orang-orang Tidore yang memberontak diberi amnesti, tetapi Pangeran Kamaluddin dikirim ke Batavia dan selanjutnya diasingkan (mengikuti jejak dua saudaranya) ke Sri Lanka, yakni Pangeran Goramahongi dan Pangeran Zainal Abidin.

Politik devide et impera VOC adalah suatu ketika Kamaluddin kembali dari pengasingan di Sri Lanka dan direstui menjadi Sultan yang kemudian berhadap-hadapan dengan Nuku. Mirip dengan perjanjian Giyanti (1755) yang memecah kerajaan Mataram. Arya Mangkunegaran yang seharusnya menggantikan posisi ayahnya, Amangkurat IV justru diasingkan ke Srilangka dan mengangkat Pangeran Prabasuyasa atau Pakubuwana II sebagai raja. Ia lalu memindahkan istana dari Kartasura ke Surakarta dan berdirilah Kasunanan Surakarta.

Baca Juga  Olivier Giroud Mulai Kerasan Tinggal di Chelsea

Siapa Nuku?

Nama lengkapnya adalah Sayidul Jehad Muhammad El-Mabus Amiruddin Syah Kaicil Paparangan alias Nuku (1738-1805), seorang Kaicil (Pangeran), putra kedua Sultan Jamaluddin. Ia menjadi Sultan Tidore ke-19 setelah secara heroik berperang melawan VOC selama kurang lebih dua puluh tahun. Beliau adalah tokoh sejarah yang ditulis bagus oleh Muridan S. Widjojo (alfatihah untuk almarhum) lewat penelitian disertasinya di Leiden dan telah diterbitkan dalam bentuk buku terjemahan Indonesia yang menjadi referensi utama tulisan ini. Namun yang belum diungkap di dalam buku tersebut adalah sisi mistiknya.

Hemat saya, gelar “Jou Barakati” atau Tuan Yang Diberkati pada sosok Nuku tidak begitu saja disematkan. Tentu terdapat aspek lain yang menjadikan tokoh yang disegani VOC ini memperoleh gelar tersebut. Muridan mencoba membandingkan Pangeran Nuku dan Pangeran Diponegoro :

“Diponegoro harus ditempatkan dalam kategori berbeda. Karakter tokoh dan pemberontakannya yang milenarianisme tidak disangsikan lagi. Walaupun ia merupakan putra seorang sultan, Diponegoro dibesarkan di luar istana. Dikelilingi oleh para guru agama, ia tumbuh sebagai pangeran yang sangat religius yang terwarnai oleh ide-ide mistik tingkat tinggi.”²

Pendukung fanatiknya bahkan menyebut Pangeran Diponegoro sebagai “Ratu Adil”, raja penyelamat yang telah lama ditunggu. Sebaliknya menurut Muridan, ciri-ciri milenarianisme sangat sedikit ditemukan pada Pengeran Nuku walaupun Andaya berpendapat bahwa Pangeran Nuku memiliki semacam mana³ karena ia disebut Jou Barakati di kalangan orang Maluku.

Baca Juga  Viral Lagu Indonesia Raya Dilecehkan: Matilah Jokoko, Mampuslah Soekaporno

Setelah membuktikan diri melalui perjuangan selama hampir 20 tahun melawan Belanda, orang-orang Maluku Utara percaya bahwa Sang Pangeran benar-benar diberkahi dengan kekuatan supranatural. Namun di paragraf lain, Muridan memberi stetmen yang barangkali rekognisi atas pencapaian sang tokoh :

“Apakah Pangeran Nuku memang diberkahi dengan kekuatan supranatural ataupun tidak adalah masalah interpretasi. Faktanya adalah ia merupakan salahsatu pemberontak yang pada akhirnya tidak menyerah dan ia juga tidak dikalahkan atau ditangkap seperti Diponegoro. Ia juga merupakan salahsatu pemberontak yang berhasil kembali ke pulau tanah airnya dengan menjadi sultan tanpa perlawanan yang berarti.”⁴

Rupanya sosok kuat di belakang Nuku dalam paparan Muridan adalah “Geboca” (panggilan sayang Nuku pada satu-satunya wanita yang menjadi istrinya). “Geboca adalah Raja, Ratu dan Tuan Semuanya,” demikian Thomas Crotty, pelaut Inggris yang berhutang-budi pada Nuku dan istrinya, dimana ia diselamatkan oleh Nuku dan pasukannya yang ditawan orang-orang Papua di Salawati dalam perjalanannya dari Seram ke Cina.

Di akhir paparannya, Muridan dengan penuh takzim mengungkap “kelemahan” Nuku :

“Jika catatan-catatan biografis tentang Nuku akan dilengkapi, kita tidak boleh mengabaikan sisi lain dari karakternya yang kurang baik. Selain dari tanda kebesarannya dan ‘kemanusiaan’ sebagai seorang pemimpin seluruh Maluku, ia, sayang sekali saya harus mengatakan demikian, juga merupakan seorang pria yang dikepung oleh kelemahan dan rasa takutnya sendiri. Seorang Makassar yang melarikan diri dari Tidore ke Ternate menceritakan hal-hal berikut ini kepada orang Belanda tentang perilakunya sehari-hari.”⁵

Muridan mengutip salah satu sumber Belanda tertanggal 13 Juli 1797 menyebutkan :

Baca Juga  "Korano” Papua

“Pangeran Nuku kuat meminum arak dan mabuk setiap hari. Selama waktu yang dihabiskannya di Benteng (Tahula) di Tidore ia dikelilingi 12 pengawal pribadi yang bersenjatakan pedang dan perisai karena kecilnya rasa percayanya terhadap semua orang Tidore. Pangeran Nuku memerintahkan agar seorang Ngofamanjira tertentu dari Makian diikatkan ke mulut sebuah kanon yang dimuati dengan amunisi dan sebatang kayu lalary dan meminta kanon tersebut ditembakkan. Tubuh orang ini tercabik-cabik dan tersebar ke empat penjuru mata angin.”⁶

Selanjutnya Muridan menjelaskan bahwa pemberontakannya yang panjang membuat Nuku selalu diperhadapkan dengan ancaman dan pengkhianatan yang membuat ia terlalu berhati-hati dan dalam kondisi tertentu ia sangat kejam. Ia menghukum siapa saja yang dianggap berkhianat dan tidak setia sebagai contoh sekaligus rasa takut dan kesetiaan para pengikutnya.⁷

Sampai disini kita tidak menyaksikan penjelasan sisi mistik yang dimiliki Pangeran Nuku. Maka saya mencoba untuk menelusurinya dari uraian Muridan di bab-bab lain di bukunya tersebut sekaligus membandingkan dengan sumber-sumber lain yang relevan. (bersambung)


Catatan Kaki:

¹Ian Burner, East Indies, NSW : Rosenberg Publishing, 2013, h. 93-7.

²Muridan S. Widjojo, Pemberontakan Nuku, persekutuan lintas budaya di Maluku-Papua sekitar 1780-1810, Depok : Komunitas Bambu, 2013, h. 339.

³ Mana adalah konsep Austronesia yang sangat merasuk dan sering diasosiakan dengan masyarakat pulau Pasifik, merujuk pada individu-individu terpilih oleh Yang Maha Kuasa. Selanjutnya, lihat, Leonard Y. Andaya, Dunia Maluku (Indonesia Timur Dalam Zaman Modern Awal), Yogyakarta : Ombak, 2015, h. 320.

⁴Muridan, Op.Cit. h. 341.

Ibid. h. 343

Loc.Cit.

Loc.Cit.

No More Posts Available.

No more pages to load.