Ogah Terjebak, Negara Kecil Ini Pilih Miskin Ketimbang Terima Utang China

oleh -28 views
Link Banner

Porostimur com | Mbabane: Ogah terjebak, negara kecil di Afrika ini pilih miskin ketimbang terima utang dari China.

China memiliki sebuah agenda besar bernama Belt and Road Initiative (BRI) atau yang dikenal dengan Sabuk dan Jalan China.

Proyek ini memungkinkan China untuk mengucurkan dana hingga 8 triliun dollar AS dalam proyek infrastruktur di seluruh Eropa, Asia dan Afrika.

Sehingga, tak sedikit dari negara kecil dan berkembang yang bergantung dari utang pemberian China.

Hubungan ini sering dikenal dengan diplomasi utang China.

Kebijakan luar negeri China itu kerap dijuluki sebagai diplomasi ‘jebakan utang’, dan dianggap membahayakan negara-negara sasaran.

Ada banyak negara yang termasuk dalam daftar penerima pinjaman China, tak terkecuali negara di Afrika.

Melansir africanliberty.org, China adalah mitra dagang terbesar Afrika.

Dikatakan, kerjasama itu akan memperketat cengkeraman China atas Afrika dan memperdalam ketergantungan Afrika.

Baca Juga  World Press Freedom Day, Dewan Pers Ingatkan soal Empati Terkait Corona

Namun ternyata, ada satu negara benua tersebut yang tidak menginginkan satu pun dukungan dari China.

Bahkan, menolak untuk mematuhi persyaratan China untuk mendapatkan keuntungan dari dorongan pembangunan.

Negara penolak utang China

Negara tersebut adalah Eswatini, satu-satunya monarki absolut di dunia yang sebelumnya dikenal sebagai Swaziland.

Diketahui Eswatini, Sao Tome dan Principe serta Burkina Faso adalah satu- satunya negara Afrika yang mengakui sekutu terasing China, Taiwan, dan dihukum dengan pembatasan bantuan.

Kerajaan Eswatini

China berhasil memastikan penutupan semua kedutaan Taiwan di semua negara Afrika yang berhasil mereka rayu.

Sao Tome dan Principe dan Burkina Faso jatuh untuk jutaan dolar yang ditawarkan China, sementara Eswatini lebih memilih untuk mempertahankan Taiwan yang dianggap sebagai wilayah yang memisahkan diri oleh China.

Baca Juga  Sengkarut Politik Dinasti

Sementara, Pemerintah Taiwan memberikan eSwatini bantuan dan bantuan ekonomi.

China telah membantu seluruh benua dengan $ 60 miliar pada tahun 2015 dan pada 2018, digelontorkan $ 60 miliar lagi untuk Afrika.

Juga pembersihan utang yang jatuh tempo pada tahun tersebut dari Negara- negara Terkurang Berkembang (LDC), yang sangat berhutang, terkurung daratan dan Pulau-Pulau Kecil.

Itu merupakan bagian dari delapan inisiatif baru yang diumumkan di Forum for

China juga meluncurkan inisiatif untuk mempromosikan impor China yang tidak berbasis sumber daya dari Afrika dan dana khusus $ 5 miliar untuk mempercepat upaya tersebut.

(red/tribun batam)