Ole Gunnar Solskjaer Menjelma Menjadi Sir Alex Ferguson Baru di Manchester United, Enggak Percaya? Ini 6 Alasannya

oleh -44 views
Link Banner

Porostimur.com | Manchester: Tidak ada yang pernah memprediksi Ole Gunnar Solskjaer bakal menempatkan Manchester United di jajaran tiga besar Premier League 2019-2020. Banyak orang mengolok-oloknya sebagai pelatih gagal melihat performa Setan Merah di sepanjang paruh pertama kompetisi.

Jangankan bicara posisi tiga besar, untuk masuk zona big four saja Manchester United tertatih-tatih. Namun situasi berubah.

Memasuki putaran kedua Premier League, United menjelma menjadi tim yang menakutkan. Pelan namun pasti anak asuh Ole menemukan stabilitas permainan.

Posisi Manchester United di klasemen akhir Liga Inggris, buah tangan emas Ole Gunnar Solskjaer.

Link Banner

Musim depan klub pengoleksi gelar terbanyak Liga Inggris ini bersiap bangkit dari kubur. Banyak pundit memprediksi Manchester United bakal jadi klub dengan peluang terbesar merusak dominasi persaingan Liverpool dan Manchester City di Premier League.

Jangan lupakan juga, musim ini mereka punya kans besar memenangi Liga Europa. Jika bisa angkat trofi ini bakal jadi gelar perdana Ole Gunnar Solskjaer.

Pelan namun pasti, Ole mulai mengikuti jejak sukses mentornya Sir Alex Ferguson, Si Spesialis Juara di era sebelumnya. Apa sih yang membuat nakhoda asal Norwegia itu spesial?

Punya Hubungan yang Harmonis dengan Pemain

Striker Manchester United (MU) Anthony Martial (tengah) bersama Juan Mata dan Marcus Rashford merayakan gol ke gawang Partizan pada matchday keempat Grup L Liga Europa di Old Trafford, Jumat (8/11/2019) dini hari WIB.(AP Photo/Dave Thompson)

Ole Gunnar Solskjaer yang punya kepribadian ramah amat dekat dengan anak-asuhnya. Problem kisruh ruang ganti di era Jose Mourinho, sukses diatasinya dengan baik dengan melakukan pendekatan intens dengan pemainnya.

Ia tak pernah melontarkan kritik ke para pemainnya di ranah publik, sekalipun mereka tampil jelek. Hal ini membuat para pemain Manchester United merasa nyaman bermain untuknya.

Walau dekat, Ole juga tetap bisa bertindak tegas. Lihat saja bagaimana ia sukses melepas pemain-pemain yang sudah tak satu tujuan dengan cara baik. Dengan tegas para pemain diminta pergi pindah klub untuk mengembangkan kariernya.

Baca Juga  Kabupaten Buru Sabet Juara Umum MTQ XXXVIII Provinsi Maluku 2019

Romelu Lukaku menyebut Ole sosok yang fair. “Ia bicara langsung ke saya bagaimana ide-idenya, dan dapat menerima dengan baik keputusan saya untuk pergi ke Inter Milan.”

Transfer Pemain yang Brilian

Pemain Manchester United Bruno Fernandes mencetak gol ke gawang Chelsea pada semifinal Piala FA di Wembley Stadium, London, Inggris, Minggu (19/7/2020). Chelsea sukses mengamankan tiket final Piala FA usai mengalahkan Manchester United 3-1. (AP Photo/Alastair Grant, Pool)

Sir Alex Ferguson dikenal sebagai pelatih yang cerdik melakukan transfer pemain. Mayoritas pemain yang ia beli kesemuannya bisa memberi efek positif buat Manchester United.

Fergie juga pelatih yang doyan mengumbar uang berlebihan di bursa transfer. Di tiap musim ia paling hanya menambah satu hingga dua pemain saja untuk menambal kelemahan tim asuhannya.

Hal itu menurun ke Ole. Pelatih asal Norwegia itu amat hati-hati dalam melakukan pembelian pemain. Ia selalu menyebut pemain yang direkrutnya harus sesuai filosofi Manchester United.

Sama seperti Ferguson, ia juga tak memaksakan diri menggaet pemain, kalau memang pemain incarannya tak ia yakini bakal membawa dampak besar buat timnya.

Tengok di awal musim ini, saat United kehilangan Alexis Sanchez dan Romelu Lukaku, ia tak buru-buru mencari penyerang pengganti. Ia lebih fokus membereskan lini belakang dengan memboyong Harry Maguire dan Aaron Wan-Bissaka yang dinilai mendesak.

Pada paruh kedua kompetisi Ole mendatangkan Odion Ighalo dan Bruno Fernandes untuk melengkapi kepingan puzzle skuatnya. Hasilnya dasyat, Bruno jadi mesin permainan Manchester United di sektor tengah. Ia jadi duet sehati Paul Pogba, yang sudah lama ingin punya rekan untuk membantunya di lini kedua.

Bagaimana dengan musim ini? Nama Jadon Sancho belakangan dikait-kaitkan dengan Manchester United. Jika jadi bergabung ia bakal jadi aset berharga untuk menambah daya dobrak tim. Lengkap sudah kedalaman lini depan United, mereka punya banyak pemain cepat dan tajam yang bisa diandalkan bergantian.

Baca Juga  Piala Dunia: Mourinho sebut Inggris layak diperhitungkan

Taktik Permainan Kekinian

Pemain Manchester United, Mason Greenwood, melakukan selebrasi usai mencetak gol ke gawang West Ham United pada laga Premier League di Stadion Old Trafford, Rabu (22/7/2020). Kedua tim bermain imbang 1-1. (Cath Ivill/Pool via AP)

Ole Gunnar Solskjaer sosok pelatih muda yang fasih memainkan sepak bola kekinian.

Beda dengan pendahulunya macam Jose Mourinho dan Luis van Gaal, yang banyak dikritik karena membuat permainan United menjemukan, Ole sukses mengadopsi permainan ofensif cepat yang tengah populer saat ini.

Manchester United di era Ole bermain ciamik sama bagusnya dengan Liverpool dan Manchester City, yang menjadi cerminan pakem terkini sepak bola modern. Cepat, bertenaga, dan mematikan.

Gaya bermain di rezim Ole amat dinikmati suporter, mirip dengan era Alex Ferguson. Manchester United bermain menyerang, mencetak banyak gol dengan cara yang enak untuk ditonton.

Manchester United tak kuat hanya bermain ofensif, strategi serangan balik mereka amat menakutkan. Lihat bagaimana Pep Guardiola bersama Manchester Citynya dibuat tak berdaya menyaksikan kolaborasi trio penyerang United yang garang.

Menenangkan Pemain Bermasalah

Pemain Manchester United Paul Pogba (kanan) berebut bola dengan pemain West Ham United Declan Rice pada pertandingan Liga Inggris di Old Trafford, Manchester, Inggris, Rabu (22/7/2020). Pertandingan berakhir dengan skor 1-1. (Clive Brunskill/Pool via AP)

Kekuatan Sir Alex Ferguson di masa lalu adalah ia sukses mengendalikan ruang ganti. Tidak ada pemain Manchester United yang berani mbalelo.

Di era Jose Mourinho hal itu hilang. Ia kehilangan kepercayaan di ruang ganti karena kerap menjelekkan pemainnya ke pers. Paul Pogba adalah sosok pemain pemberontak di era The Special One.

Paul Pogba sejatinya bukan pemain yang disukai oleh supoter. Kinerjanya kerap dicibir. Gelandang asal Prancis itu dinilai tak pernah bermain dengan sepenuh hati buat klub.

Baca Juga  Wali Kota Ambon Raih Anugerah Kebudayaan PWI Tahun 2020

Di tangan Ole semua berubah. Pogba jadi sosok penurut yang gampang teratur. Ia terlihat tak berontak sekalipun dicadangkan pelatihnya.

Belakangan sang mantan pemain Juventus itu menunjukkan kualitas terbaiknya. Kolaborasinya dengan Bruno Fernandes membuat lini tengah United lebih agresif.

Motivator Ulung

Bek Manchester United, Harry Maguire (kanan) berselebrasi dengan gelandang Nemanja Matic usai mencetak gol ke gawang Chelsea pada pertandingan lanjutan Liga Inggris di Stamford Bridge, London (18/2/2020). MU menang 2-0 atas Chelsea. (AFP Photo/Glyn Kirk)

Seperti halnya Fergie, Ole Gunnar Solskjaer jagoan memotivasi para pemainnya.Tengok saja bagaimana Nemanja Matic, yang sempat patah arang bermain di Manchester United, kemudian mampu bangkit unjuk kapasitas sebagai salah satu jangkar terbaik di dunia.

Contoh lain: David De Gea. Saat ia jadi sasaran kritik media, Ole selalu pasang badan membela kipernya. Demikian pula dengan Anthony Martial, yang terpinggirkan di era Jose Mourinho. Di tangan Ole, ia jadi striker yang amat tajam.

Gaya komunikasi Ole membuat para pemainnya nyaman. Mereka selalu menurut kata sang pelatih yang berstatus legenda Tim Setan Merah.

Mengutamakan Didikan Akademi

Para pemain Manchester United merayakan gol yang dicetak oleh Mason Greenwood ke gawang Bournemouth pada laga Premier League di Stadion Old Trafford Sabtu (4/6/2020). Manchester United menang 5-2 atas Bournemouth. (AP/Clive Brunskill)

Sama seperti seniornya, Ole Gunnar Solskjaer amat peduli dengan pemain-pemain didikan Akademi Manchester United.

Salah satu alasan Manchester United tak membeli striker baru pengganti Lukaku atau Sanchez karena ia ingin memberikan peran besar pada striker muda, Mason Greenwood. Hasilnya: sang pemain belia menggila. Ia jadi mesin gol baru Manchester United.

Pemain veteran akademi lainnya: Axel Tuanzebe, Scott McTominay, James Garner, dan Brandon Williams, juga dapat peran besar musim ini.

Pola ini membuat Manchester United bermain dengan jati diri yang kuat. Para pemain bangga menggunakan jersey merah berlambang Setan Merah. (red/rtm/bola.com)

Sumber: Berbagai sumber