Ombak

oleh -22 views
Link Banner

Cerpen Karya: Yossi Asna Safitri

Langit biru terang berubah menjadi jingga yang menawan, ketika mentari mulai terbenam, dan pagi kini telah berubah menjadi malam. Namun, aku masih saja terdiam membisu, duduk di bawah pohon besar yang rindang, aku bimbang dengan semua hal yang terjadi dan semua yang aku rasakan juga sikapku. Aneh, tapi ini terlalu nyata bahkan sulit untuk aku lupakan, luka, sepi, bahagia, tawa dan air mata, rindupun itu serta di dalamnya.

Semua yang aku percaya ternyata penghianat, semua yang mereka janjikan hanya ada di bibir saja, semua sikap mereka palsu, rasanya hidupku terlalu rumit.

Tak ada yang bisa aku percaya bahkan orangtuaku pun tak bisa aku percaya, sahabat yang selalu bilang “Dialy, aku akan selalu ada di sampingmu…… aku akan berjanji tak akan meninggalkanmu.” Dia juga meninggalkanku, walau aku punya segalanya tetap saja aku merasa sendiri.

Namaku Dealy Lisyel, hidupku terlalu menyedihkan bagiku, orangtuaku bercerai saat usiaku 12 tahun, mereka yang selalu memperlihatkan kasih dan cinta, yang seakan tak ada akhirnya tenyata kini saling membenci bahkan tak ada diantara mereka yang ingin bertatapan muka.

Dulu aku punya seorang sahabat, namanya Khiren, dulu kami ibaratkan magnet yang sulit dipisahkan. Namun, tiba-tiba dia hilang tanpa kabar.

Semua kekacauan ini dimulai saat orangtuaku bercerai dan dilanjutkan dengan kepergian sahabat dekatku. Sulit dijelaskan karena akulah yang tau rasanya bagaimana rasanya dianggap barang yang selalu diambil dan dikembalikan, terkadang aku bersama Ayah dan terkadang aku bersama Ibu.

Saat usiaku 15 tahun Ayah menghadiahkan sebuah rumah sederhana yang letaknya berada tidak jauh dari pantai, rumah itu aku anggap sebagai jalan keluar dari masalahku saat ini. Ibu mengirim seorang pembantu yang ditugaskan menjaga dan merawatku saat aku memutuskan pindah ke rumah itu, namanya Bi Sekar Syih, usianya tidak kurang dari 40 tahun, dia adalah orang yang ramah, baik, penyayang, teman paling menyenangkan dan dia adalah pengganti orangtuaku yang terus membuat aku terluka. Aku mulai tinggal disana sebulan setelah rumah itu diberikan dan yang paling asiknya disana pemandangan yang sangat indah terlebih saat mentari tenggelam, suara ombak dan pohon-pohon yang rimbun pun berada tidak terlalu jauh dari pantai itu.

Baca Juga  Lantamal IX Gelar Nobar Pertempuran Laut Arafura

Semua berjalan indah menurutkun karena setidaknya aku tidak harus tinggal dengan keluarga baru dari orangtuaku dan aku gak harus bolak balik pindah rumah karena mereka. Aku hidup cukup bahagia bersama Bi Sekar, dan dia bagai ibu yang menghiasi setiap detik kehidupanku, sedangkan Ibu dan Ayah kandungku mungkin sedang berbahagia bersama keluarga barunya.

Rindu, pernah bahkan mungkin masih aku rasakan sampai detik ini, aku merindukan setiap kehangatan dari keluarga kecilku dulu, rindu akan suara tawa mereka, cinta, kasih, perhatian dan semua hal yang kami lakukan saat masih jadi keluarga kecil yang utuh. Ya, mungkin aku terlihat seperti miliki semuanya, tapi nyatanya aku tak punya keluarga yang utuh dan harmonis, terkadang aku mersa iri dengan keharmonisan keluarga teman-temanku.

Aku selalu berharap semua kembali seperti semula dan aku akan bisa bersama dengan orangtuaku saat ini, dan semua kesedihan, perpisahan juga kebencian tidak akan ada diantara kami.

Setiap hari adalah sama bagiku, tiap kali aku berduka hanya satu tempat perlarianku yaitu pantai, setiap beban yang terus memberatkan pikiranku menjadi ringan bahkan hilang saatku memandang langit yang tadinya biru berubah menjadi jingga tat kala mentari akan pergi masuk ke tempat peraduannya. dan kali ini aku akan pergi ke pantai untuk melihat mentari tenggelam karena hari ini sunggu cerah, tak kulihat awan jadi penghalang.

Baca Juga  Aurel Hermansyah Baru Rilis Lagu "Kepastian", Langsung Trending di YouTube

Aku duduk di sebuah ayunan yang terikat di dua batang pohon yang hampir berhimpitan, hanya jarak sekitar satu meter lebih yang memisahkan keduanya. Tak sampai 15 menit aku duduk menyendiri, entah dari mana datangnya seorang lelaki yang terlihat dewasa mungkin usianya sekitar 19 atau 20 an, lelaki itu bertubuh tinggi, putih dan memiliki lesung pipit sebelah kanan pipinya. aku sangat merasa terganggu akan kehadirannya, karena dia berdiri tepat di belakangku. aku merasa tidak nyaman dengan kehadirannya karena itu aku memilih pergi tanpa berkata, saat aku sudah jauh menusuru pasir-pasir basah itu, dia memanggilku dengan berteriak.

Memang dia tidak menyebut namaku tapi karena hanya aku manusia yang berada disana tentu aku yakin kalau dia memanggilku, aku merasa ketakutan karena dia berlari ke arahku dengan berteriak. sayangnya kakiku sedang sakit jadi, aku hanya bisa sedikit berlari lalu berhenti ketika rasa sakit di kakiku semakin menjadi-jadi.

“Maaf dek, ini kalungnya ketinggalan…” belum habis perkataannya, aku sudah merebut dan membuang kalung itu diantara gelombang yang datang menghampiriku.

“Maaf juga Mas, aku emang sengaja buat ninggalin kalung itu di tempat tadi… Em, lebih tepatnya sengaja aku buang karena aku emang gak suka, dan biarkan kalung itu menghilang dalam ombak beserta kenangannya. Mas, saya harus harus pulang karena ini sudah sore dan sebaiknya mas juga pulang saja.” aku tak menunggu jawaban dari dia, aku pergi meninggalkan dia yang masih diam dan terus menatapku dengan tatapan yang aneh.

Harumnya membangunkan setiap makhluk yang sedang tertidur lelap, harumnya menggoda, ini adalah surga dunia, mata yang tadinya mengantuk dan tubuh yang tadinya lesu sekarang menjadi semangat. Harum masakan bi Sekar mempu membuat semua orang tergiur ingin mencicipinya dan ditambah rasanya yang gak ada duanya, mungkin rasanya dapat mengalahkan chaf handal.

Baca Juga  RI 01 Kunker ke Ambon, Assagaff rencana perkenalkan potensi Pulau Seram

“Bi, hari ini masak apa? Harunya sampai ke kamar, pasti resep baru dari mbah google ya kan?” aku menggoda Bibi yang sedang menyajikan makanan di atas meja.
“Non tau aja, iya nih non resep nasi goreng istimewa dan sehat… em.. dijamin deh enak bener nih non. Bibi yakin non pasti ketagihan,” Bibi yang selalu memberikanku senyum tulus di setiap aku memulai hariku.

‘Dring…’ suara bel rumah yang entah siapa yang membunyikannya, suaranya begitu keras dan terus di ulang hingga berkali-kali.
“Biar bi Sekar aja yang buka pintunya, Non lanjutin aja makannya, lalu nanti langsung bersiap-siap untuk pergi ke sekolah karena Bapak akan sampai ke sini setengah jam lagi.” Bibi pun pergi membuka pintu.

Setelah aku selesai bersiap-siap untuk ke sekolah, aku keluar untuk menunggu Ayah menjemputku dan ternyata tamu yang tak diundang tadi masih saja ada di teras rumahku dengan bi Sekar. “Ada apa, ya? oh, kamu! kenapa kamu pake acara datang ke rumah aku segala. Emang ada keperluan apa sehingga pagi-pagi ke sini.” Aku sedikit kaget melihat dia ada di depan rumahku.

“Gak, aku Cuma mau mengembalikan apa yang harusnya aku kembalikan, ini!” dia mengeluarkan sebuah kalung yang berliontin hati, dan memberikannya pada aku. “Ini mulik kamu, oh ya, aku ingin memberikankamu sebuah nasehat… kamu jangan marah ya! walau apapun masalah yang sedang kamu hadapi saat ini, jangan pernah kamu lampiaskan amarahmu pada apapun termasuk benda yang jelas tidak bersalah, masalah itu diselesaikan bukan dipendam lalu dilampiaskan, coba kamu selesaikan masalah kamu dangan kepala dingin…” (*)