Open Data Masela Terkendala Restu ESDM

oleh -49 views
Link Banner

Porostimur.com | Jakarta: Royal Dutch Shell yang berniat melepas hak partisipasi di Blok Masela disebutkan telah memulai tahapan open data demi mencari pembeli 35% saham di blok tersebut.

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK migas) Dwi Soetjipto mengungkapkan sejauh ini perizinan baru diberikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk investor yang beroperasi di dalam negeri.

“Iya ada (yang berminat). Kan perlu persetujuan ESDM yang overseas (luar negeri) belum dapat persetujuan,” ungkap Dwi di Jakarta, Selasa (4/8/2020).

Dwi mengatakan untuk open data yang mengakses investor dalam negeri sudah bisa dilakukan karena pemerintah sudah memberikan izin akses buka data ini.

Link Banner

Namun, dalam kasus Blok Masela ini yang akan masuk untuk menjadi mitra baru Inpex adalah investor luar negeri. Maka, open data untuk investor luar negeri baru bisa dilakukan kalau Kementerian ESDM sudah memberikan izin.

Baca Juga  Briptu Heidar. Polisi Sarat Prestasi yang Jadi Incaran TPNPB-OPM

Untuk investor dalam negeri sendiri, Dwi tak menampik sudah ada pihak-pihak yang melirik data share Shell dalam Blok Masela. Meskipun, Dwi sendiri belum mendapatkan laporan berapa perusahaan yang mengintip besaran share Shell tersebut.

“Belum dapat laporan saya,” ujar Dwi.

Dwi menambahkan, sejauh ini sudah ada perusahaan dari luar yang menyatakan minat. Sayangnya, ia masih enggan merinci mengenai hal tersebut.

Adapun, Dwi mengakui kondisi pandemi covid-19 menjadi penghambat dalam proses open data. Pasalnya selama ini para calon investor yang tertarik akan datang ke Indonesia untuk melihat data potensi blok migas.

Sementara itu, mengenai niatan perusahaan yang beroperasi di dalam negeri, Dwi mengungkapkan belum mendapatkan laporan terbaru.

Baca Juga  Ibu-ibu Madura Dukung Usman-Bassam di Pilkada Halsel

Sebelumnya, SKK Migas memprediksi proses divestasi Shell di Masela baru akan rampung di 2021 mendatang.

Adapun, mengutip energyvoice.com Shell mengincar dana senilai US$ 2,2 miliar dari proses divestasi 35% hak partisipasinya itu. Besaran angka itu dipaparkan oleh lembaga riset Rystad Energy.

Kendati demikian, Rystad memperkirakan akan sulit bagi Shell mendapatkan pembeli sekalipun Proyek Masela yang terletak dekat dengan pasar Asia. Terlebih lagi, Blok Masela belum memasuki fase pengembangan.

Direktur Penelitian Asia Pasifik Wood Mackenzie Andrew Harwood menjelaskan, kabar mundurnya Shell bukanlah hal baru pasalnya 2019 silam isu yang sama sempat beredar.

Namun, rencana pelepasan hak partisipasi itu dianggap jauh lebih kompleks dari isu sebelumnya.

Baca Juga  Postingan FB Ali Key, picu konsentrasi massa di Kota Tual

Memang, pada tahun 2019 itu, Shell dikabarkan hengkang dari Blok yang ada di Maluku itu. Namun Kemudian di tahun yang sama, Inpex selaku operator berhasil memperoleh persetujuan rencana pengembangan (PoD) yang baru serta insentif fiskal untuk meningkatkan keekonomian proyek.

“Ada lebih banyak substansi di balik berita kali ini, dengan keputusan Shell baru-baru ini untuk menuliskan nilai portofolio hulu mungkin menandakan review portofolio yang lebih luas,” ujar Andrew, dikutip Jumat (17/7). (red/rtm/rep/kontan)