Pariwisata Kota Ambon Salah Satu Prioritas Pembangunan 2022-2027

oleh -427 views
Link Banner

Oleh: Rhony Sapulette, SH, MH, CLA, Calon Walikota Ambon Periode 2022 – 2027

Seperti kita ketahui bahwa di Kota Ambon banyak Negeri / Desa / Kampung yang memiliki kekayaan alam dan budaya yang potensial untuk dikembangkan menjadi daerah tujuan wisata baik skala nasional maupun internasional. Kekayaan alam baik laut maupun daratan merupakan potensi yang tinggi untuk dikembangkan. Potensi kekayaan budaya juga patut diperhitungkan sebagai komoditi yang dapat ditawarkan dalam konsep pengembangan Wisata Kota Ambon ke depan.

Keanekaragaman budaya dan kesenian telah dikenal masyarakat dunia, termasuk keterbukaan dan keramahan masyarakat, serta kekayaan kuliner dipercaya memberi andil besar bagi tumbuhnya minat wisatawaan untuk datang berkunjung ke Ambon. Selain dari potensi alam dan budaya, keberadaan infrastruktur aksesibilitas udara dan laut yang memadai mampu menjadi pendukung pengembangan Kota Ambon sebagai destinasi wisata Indonesia, selain sarana dan prasarana kepariwisataan juga perlu mengalami peningkatan kapasitas dan kualitas pelayanan yang memadai.

Akan tetapi usaha pengembangan kepariwisataan di Kota Ambon tetap dan terus akan dikembangkan dengan mengacu kepada paradigma baru. Pengalaman pembangunan di daerah lainnya yang sudah lebih awal berkembang dan maju perlu menjadi pertimbangan. Perencanaan yang matang melalui penyiapan Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (RIPPDA) di Kota Ambon lima tahun kedepan (2022 – 2027) akan saya lakukan, karena saya melihat RIPPDA adalah cetak biru (blue print) dalam usaha pengembangan wisata secara komprehensif dan menyeluruh di Kota Ambon.

Dengan RIPPDA para investor yang akan berinvestasi di sektor ini akan lebih mengenal dan menemukan wilayah yang akan dijadikan sebagai lokasi pengembangan kepariwisataan yang tetap ditujukan untuk meningkatkan peran serta dan kesejahteraan masyarakat seluas-luasnya. Penyiapan sumberdaya manusia (SDM) yang memiliki kompetensi tinggi di bidang pelayanan jasa kepariwisataan juga menjadi hal yang perlu dilakukan.

Kemampuan masyarakat dalam berinteraksi dan bersosialisasi perlu dilengkapi pula dengan kemampuan teknis, operasional dan manajerial dalam penyediaan barang dan jasa kepariwisataan. Stigma bahwa pekerja di bidang pariwisata merupakan pelayan harus mulai diubah menjadi pekerja profesional. Kemampuan masyarakat di daerah tujuan wisata di Kota Ambon akan saya tumbuh kembangkan kapasitas dan kompetensi mereka di bidang kepariwisataan sehingga mereka mampu meningkatkan kualitas pelayanan serta pengalaman berwisata bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.

Baca Juga  Parlemen Eropa Desak China Tutup Kamp Uighur di Xinjiang

Berdasarkan berbagai kondisi tersebut, pengembangan pariwisata di berbagai daerah di Maluku, khususnya Kota Ambon harus difokuskan pada pengembangan pariwisata berbasis bahari dengan dukungan budaya yang kaya. Fokus pembangunan kepariwisataan ini akan mampu memposisikan berbagai kawasan di Maluku sebagai destinasi utama pariwisata Indonesia yang berbeda dengan daerah lainnya seperti Papua, Bali dengan budaya dan alamnya (pantai) maupun DI Yogyakarta dengan budayanya. Fokus pembangunan kepariwisataan ini perlu dibicarakan dan menjadi komitmen seluruh stakeholders dalam pembangunan kepariwisataan di Maluku.

Kota Ambon adalah wilayah yang sangat strategis baik dilihat dari segi ekonomi, sosial dan politik serta keamanan pengunjung. Karena itu dalam pengembangan wisata Kota Ambon ke depan khususnya yang berbasis kearifan lokal di setiap Negeri / Desa / Kampung yang ada perlu dihindari persaingan yang tidak sehat di antara Negeri / Desa / Kampung tersebut.

Salah satu contoh konkrit bentuk persaingan itu adalah persaingan pariwisata yang bukan mengarah pada peningkatan komplementaritas (saling melengkapi) dan diversivikasi alternatif berwisata. Bentuk persaingan ini sering terjadi di lapangan di beberapa kawasan wisata yang sudah berkembang di daerah lain yang saya ketahui.

Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti kurangnya kesadaran dan pemahaman tentang pariwisata, bias juga disebabkan karena lemahnya kebijakan pariwisata oleh Pemerintah Kota sendiri sehingga ke depan perlu diberikan penguatan lagi, dan mungkin tidak kalah pentingnya adalah belum adanya pedoman dari pemerintah Kota yang mengakibatkan pengembangan pariwisata di Kota Ambon cenderung bersifat parsial.

Artinya banyak Negeri / Desa / Kampung yang ada di Kota Ambon dalam mengembangkan pariwisatanya tanpa melihat, menghubungkan dan bahkan menggabungkan dengan pengembangan Negeri / Desa / Kampung tetangganya yang terdekat. Bahkan cenderung meningkatkan persaingan antar Negeri / Desa / Kampung yang pada akhirnya akan berdampak buruk terhadap kualitas produk yang dihasilkan.

Padahal pengembangan pariwisata di Kota Ambon harus lintas Negeri / Desa / Kampung, bahkan tidak lagi mengenal batas karena kemajuan teknologi informasi. Isu kedua terkait dengan kondisi pengembangan pariwisata Kota Ambon yang masih bertumpu pada daerah tujuan wisata utama tertentu saja seperti Pintu Kota, Pantai Namalatu.

Baca Juga  Boikot Bella Hadid: Buang Kosmetik dan Hapus Foto di Mal

Padahal masih banyak juga Negeri / Desa / Kampung di Kota Ambon walaupun yang juga memiliki keragaman potensi kepariwisataan, seperti Pantai Hukurila dan beberapa Pantai lain di Kecamatan Leitimur. Hal yang mengemuka dari pemusatan kegiatan pariwisata ini adalah dengan telah terlampauinya daya dukung pengembangan pariwisata di berbagai lokasi, sementara lokasi lainnya tidak berkembang sebagaimana mestinya.

Selain itu kekhasan dan keunikan atraksi dan aktivitas wisata yang ditawarkan masih belum menjadi suatu daya tarik bagi kedatangan wisatawan domestik dan mancanegara, karena produk yang ditawarkan tidak dikemas dengan baik dan menarik seperti yang dilakukan oleh daerah-daerah pesaing seperti Bali, Lombok, Tanah Toraja, Raja Ampat, Candi Borobudur dan lain sebagainya.

Salah satu kelemahan yang menyebabkan Kota Ambon kalah bersaing dengan daerah-daerah lain adalah kurangnya diversifikasi produk dan kualitas pelayanan wisata di Kota Ambon. Para pelaku kepariwisataan di Ambon dalam amatan saya belum memberikan perhatian yang cukup untuk mengembangkan produk-produk baru yang lebih kompetitif dan sesuai dengan selera pasar.

Isu lain yang berhubungan dengan situasi dan kondisi Ambon yang berbeda baik dari potensi wisata alam, ekonomi, adat budaya, mata pencaharian, kependudukan dan lain sebagainya yang menuntut pola pengembangan yang berbeda pula, baik dari segi cara atau metode, prioritas, maupun penyiapannya, dan saya berkomitmen untuk melakukan hal-hal apa yang saya katakan ini.

Proses penentuan pola pengembangan ini membutuhkan peran aktif dari semua pihak, agar sifatnya integratif, komprehensif dan sinergis. Selain itu dapat dilihat dari banyaknya Negeri / Desa / Kampung tujuan wisata yang sangat potensial di Ambon apabila dilihat dari sisi daya tarik alam dan budaya yang dimilikinya. Namun sayangnya belum bisa dijual atau mampu bersaing dengan daerah-daerah tujuan wisata baik di kawasan regional, nasional maupun internasional.

Hal tersebut semata-mata karena daya tarik yang tersedia belum dikemas secara profesional, rendahnya mutu pelayanan yang diberikan, interpretasi budaya atau alam yang belum memadai, atau karena belum dibangunnya citra (image) yang membuat wisatawan tertarik untuk datang mengunjungi dan lain sebagainya. Memperbanyak variasi produk baru berbasis sumber daya alam (SDA) atau kearifan lokal (Negeri / Desa / Kampung) dengan prinsip pelestarian lingkungan dan partisipasi masyarakat Negeri / Desa / Kampung setempat merupakan strategi yang ditempuh untuk meningkatkan pemanfaatan keunikan Kota Ambon sebagai salah satu tujuan wisata di Kawasan Timur Indonesia.

Baca Juga  Cerita di Balik Viral Bayi 10 Hari yang Hidup di Kolong Jembatan

Selain kualitas kemasan dan pelayanan, produk pariwisata berbasis alam atau kearifan lokal (Negeri / Desa / Kampung) di Ambon harus memberikan pengalaman lebih kepada wisatawan. Selanjutnya, pengemasan produk wisata dan pemasarannya, haruslah memanfaatkan teknologi terkini. Produk-produk wisata yang ditawarkan harus sudah berbasis teknologi informasi, sebagai upaya meningkatkan pelayanan dan sekaligus meningkatkan kemampuan menembus pasar internasional.

Di luar seluruh permasalahan, tantangan dan hambatan yang dimiliki Kota Ambon kemarin, hari ini dan yang akan datang dalam pengembangan kepariwisataan, potensi yang dimiliki sebagai penunjang pembangunan kepariwisataan sangat tinggi. Kekayaan alam dengan keanekaragaman jenis atraksi wisata alam kelas dunia masih kita miliki.

Kekayaan budaya yang tinggi dan beranekaragam juga menjadi potensi yang sangat tinggi untuk dilestarikan melalui pembangunan kepariwisataan. Pada dasarnya minat utama wisatawan datang ke Negeri / Desa / Kampung destinasi pariwisata di Ambon, lebih disebabkan karena daya tarik wisata budaya dengan kekayaan seperti adat istiadat, peninggalan sejarah dan purbakala, kesenian, monumen, upacara-upacara dan peristiwa budaya lainnya. Kemajemukan suku, adat budaya yang variatif menjadi potensi yang sangat besar dalam peningkatan kepariwisataan.

Saya percaya bersama rakyat Kota Ambon kita bangun dan tingkatkan sadar wisata di tengah masyarakat dan sadar lingkungan sehingga mengmbangkan wisata berbasis Negeri / Desa / Kampung di Ambon tetap menjaga kelestarian ;lingkungan dan ekosistim baik di darat maupun di laut, sehingga sasaran saya dalam membangun Ambon Mandiri, Ambon Bermartabat dan Ambon berkelanjutan dapat dicapai dengan ijin dari Tuhan pemilik alam semesta ini. (*)