Partai Golkar Maluku Dalam Catatan

oleh -69 views
Link Banner

Oleh: Julius R. Latumaerissa, (Akademisi dan Pemerhati Pembangunan Maluku)

Partai Golkar adalah salah satu Partai Politik yg sangat tua di Indonesia. Sejak kelahirannya Partai Golkar dikenal dengan nama Golongan Karya (Golkar).

Kelahiran Golkar pada awalnya tidak terlepas dari perkembangan dan dinamika perjuangan Bangsa ini pada masa pasca kemerdekaan dengan kondisi politik negara saat itu dalam situasi yg belum stabil.

Proses kelahiran partai Golkar dibidani oleh Sekretariat Bersama Golkar (Sekber Golkar) pada tanggal 20 Oktober 1964. Sekber ini lahir karena rongrongan dari PKI dan ormasnya dalam kehidupan politik baik di dalam maupun di luar Front Nasional yang makin meningkat.

Sekber Golkarmenjadi wadah dari golongan fungsional/golongan karya murni yang tidak berada di bawah pengaruh politik tertentu. Ketua pertama Sekber Golkar adalah Brigadri Jenderal Djuhartono.

Sekber Golkar ini dibentuk oleh kelompok Militer pada waktu itu dengan tujuan utama untuk menghadang gerakan PKI dengan berbagai aktivitasnya pada waktu itu. Letkol Suhardiman yg kemudian dikenal dengan Dukun Politik pada era ORBA muncul dengan organisasi Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI) untuk menandingi gerakan PKI dengan organisasi SOBSI, GERWASI di bentuk untuk menghadang gerakan PKI dengan GERWANI.

Baca Juga  Mengingat Kembali Dua Gol Maradona ke Gawang Indonesia

Selain SOKSI maka lahir juga organisasi yang aktivitasnya di bidang ekonomi yang dikenal dengan nama Koperasi Serbaguna Gotong Royong (KOSGORO) dan wadah yang bergerak di bidang keagamaan dan dakwah yang dikenal dengan nama Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (MKGR). Ketiga wadah ini kemudian disebut dengan nama Kelompok Induk Organisasi (KINO).

Ketika menghadapi Pemilu tahun 1971 maka Sekber Golkar kemudian berkomitmen ikut dalam pemilu 1971 dengan nama Golongan Karya (Golkar) yang saat ini disebut Partai Golkar, dan kemudian Golkar memenangkan pemilu 1971.

Pada tahun 1973 partai Golkar melakukan musyawarah Nasional ( MUNAS) pertama di Surabaya dengan komandan pertama adalah Mayor Jenderal Amir Murtono, dan dalam perkembangannya Golkar menjadi kekuatan politik yg bersama pemerintahan ORBA bergeliat membangun bangsa ini.

Baca Juga  Dibangun di Kepulauan Tanimbar, Pemda Maluku Minta Konstruksi Kilang LNG Masela Mulai 2021

Tantangan Partai Golkar Maluku Kedepan

Khusus untuk Maluku, partai Golkar juga membuat sejarah panjang sejak ORBA sampai masa atau Era Reformasi, partai Golkar tetap memainkan peran peran politik strategis di panggung politik terutama di Maluku.

Partai Golkar Maluku dengan semua jajaran kaders yang ada secara bersama ikut membesarkan Golkar dalam dinamika politik dan demokrasi di Maluku.

Dalam berbagai kontestasi politik era reformasi catatan Golkar banyak menjadi partai yg membawa beberapa kepala daerah baik Kabupaten / Kota yang berprestasi sekalipun dengan banyak catatan penguatan yg harus dilakukan partai beringin ini ke depan.

Secara praksis Golkar selalu memiliki kuota kursi di Senayan setiap periode Pileg, namun pada Pileg 2019 Golkar Maluku dihadapkan kepada satu fakta politik yg sangat memprihatikan adalah kuota langganan setiap pileg lima tahunan harus lepas dari genggaman partai Golkar.

Realitas politik ini tidak boleh menjadi suatu konstrain politik yang membuat langkah mundur, tetapi justru menurut saya, realitas ini harus dijadikan materi kajian dan evaluasi bagi partai Golkar Maluku dalam merebut kembali kejayaannya dalam pileg 2024.

Baca Juga  IKBKS Minta Pemkab Kepulauan Sula Serius Tangani Covid-19

Untuk mencapai tujuan ini maka Golkar Maluku perlu melakukan konsolidasi internal partai secara tepat dengan melihat variabel kelemahan spesifik yang membuat kekalahan partai beringin ini pada periode 2019.

Proses konsolidasi ini perlu juga diikuti dengan proses rekonsiliasi dengan berbagai kader potensial yg ada diluar struktur partai. Hal ini menjadi elemen penting guna memperkuat proses konsolidasi itu sendiri, apalagi dinamika perpolitikan Maluku saat ini yg kurang kondusif menghadapi pilkada serentak Kabupaten/Kota 2020, 2022 dan pilkada Gubernur Maluku 2024 nanti.

Akhirnya saya mengucapkan Dirgahayu Partai Golkar Ke 56. Lanjutkan terus perjuangan Golkar dengan tetap berlandaskan doktrin Karya Kekaryaan. Bravo Golkar. (*)