Pegadaian alami penurunan off standing Rp 7 M

oleh -62 views
Link Banner

@Porostimur.com | Ambon : Trend pendapatan pada kantor pegadaian pada akhir tahun, tepatnya  bulan Desember 2016 dan 2017 mengalami penurunan.

Pasalnya, pada saat itu banyak nasabah memilih untuk menebus barang gadaiannya.

Alhasil, pegadaian pun mengalami penurunan Off Standing Laugh sekitar Rp 7 milyar lebih.

Pegadaian sendiri, mengembangkan sebuah produk inovasi kredit yang dinamakan kredit cepat aman (KCA).

Link Banner

Dalam program ini, kendaraan bermotor disimpan bersama dengan STNK dan BPKBnya dalam jangka waktu 120 hari dan kapan saja bisa di tebus.

Sayangnya, menjelang tahun baru 2018, gudang pegadaian pun mengalami kekosongan.

Hal ini disebabkan rata-rata nasabah pegadaian menebus barang jaminannya, baik itu mobil maupun motor.

Hal ini dibenarkan Deputi Kantor Pegadaian Pimpinan Wilayah bidang bisnis Area Kota Ambon, Asih Subekti, saat berhasil dikonfirmasi porostimur.com, Jumat (5/1).

Baca Juga  2018, Dinkes Ambon lacak 214 kasus HIV/AIDS

”Dari sisi jaminan barang yang di gadai pada pegadaian kota ambon masi di dominasi perhiasan emas, 98% masih perhiasan emas,” ujarnya.

Menurutnya, yang mengalami peningkatan justru pinjaman kredit mikro.

Dimana, nasabah menitipkan BPKB pada pegadaian dalam jangka waktu 1-2 tahun, dan modal pinjaman akan dibuat usaha.

”Dan ada juga peningkatan pada kredit mikro, peningkatan juga terjadi pada kredit Pembiayaan istilah dalam pegadaian yaitu amanator. Jadi, pembiayaan atau semacam pembiayaan untuk kendaraan bermotor atau roda empat. Untuk masyarakat yang membutuhkan angkutan atau kepemilikan misalnya motor atau kendaraan beroda empat. Pegadaian juga menyalurkan sekitar Rp 1,5 milyar sampai 1,7 milyar selama periode mulai dari bulan April kemarin. Jadi, transaksi masyarakat yang ingin membeli kendaraan bermotor mulai meningkat,” jelasnya.

Baca Juga  Be Careful of What You Wish For

Selain kredit yang digencarkan pihaknya, ada juga pelelangan terhadap barang yang digadaikan.

Dimana, pelelangan biasanya dilakukan 2 kali dalam setiap bulan pada setiap cabang.

Pasalnya, tanggal lelang biasanya 3 hari atau 4 hari atau satu minggu kemudian, karena pada surat lelang sudah tertera tanggal jatuh temponya.

”Ketika sudah jatuh tempo atau tanggal lelang, masyarakat sudah tidak dikenakan biaya sewa modal. Jika sudah jatuh tempo, kami pihak pegadaian akan segera menghubungi nasabah. Jika tidak ada tangapan atau respon dari nasabah, maka pelelangan atau penjualan pun dilakukan. Jika nasabah sudah tidak menebus atau memperpanjang, maka pihak kami harus segera melelangnya. Karena jika tidak segera dijual, akan mengalami kerugian atau modalnya nihil,” pungkasnya. (Yuli Harmusial)