Pelajaran Penting dari Jiwa Besar Ajax Amsterdam

oleh -128 views
Link Banner

Porostimur.com | Amsterdam: Ajax Amsterdam layak jadi contoh bagi klub-klub Eropa dan dunia yang saat ini kompetisinya terhenti karena pandemi virus corona serta tidak memiliki kejelasan untuk dilanjutkan kembali.

De Godenzonen, julukan Ajax, harus menerima nasib mereka di musim ini tanpa gelar Eredivisie. Asosiasi Sepak Bola Kerajaan Belanda (KNVB) telah mengambil keputusan untuk menghentikan total liga tersebut tanpa tim juara dan juga degradasi sebagai imbas dari wabah Covid-19.

Ketika Liga Belanda dihentikan sementara pada pertengahan Maret, Ajax menjadi pemuncak klasemen dengan keunggulan selisih gol atas AZ Alkmaar yang berada di posisi kedua. Ajax dan AZ sama-sama mengoleksi 56 poin dari 25 pertandingan.

Persaingan menuju gelar juara di Liga Belanda musim ini cukup seru. Ajax yang merupakan juara bertahan mendapat persaingan sengit dari PSV Eindhoven sejak awal musim, yang kemudian dilanjutkan oleh AZ hingga sebelum liga disetop karena corona.

Melihat posisi klasemen terakhir pada pertengahan Maret, potensi Ajax mempertahankan gelar atau AZ yang jadi juara di akhir musim tetap terbuka.

Namun sayang, Covid-19 yang jadi wabah global menghentikan rivalitas tersebut. Dua minggu sejak liga dihentikan, belum juga ada tanda-tanda Eredivisie 2019/2020 bakal dilanjutkan. Sebaliknya, kasus virus corona terus bertambah.

Ketika Eredivisie dihentikan pada 12 Maret, kasus Covid-19 di Negeri Kincir Angin itu ada di angka 503 kasus, berdasarkan statistik Johns Hopkins. Namun pada akhir Maret, angkanya melonjak tajam menjadi 12 ribuan kasus.

Kondisi itu membuat klub-klub Liga Belanda risau, termasuk Ajax yang tengah memimpin klasemen. Juara Liga Belanda 34 kali itu pun tidak habis pikir ketika UEFA ngotot ingin 55 anggotanya menyelesaikan kompetisi musim ini di tengah pandemi virus corona usai rapat jarak jauh pada 1 April.

Baca Juga  Buaya Kembaran Manusia Mati Dibunuh Warga Buru
Edwin van der Sar memaklumi keputusan KNVB yang menghentikan total Liga Belanda.Edwin van der Sar memaklumi keputusan KNVB yang menghentikan total Liga Belanda. (AFP PHOTO / ANP / Robin van Lonkhuijsen)

Direktur Teknik Ajax Amsterdam Marc Overmars berang dan menyamakan UEFA dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang dianggap hanya mementingkan keuntungan saja dibandingkan keselamatan banyak orang.

Padahal dalam rapat itu Ajax berharap KNVB bisa memiliki pemikiran yang berbeda dengan UEFA, yaitu segera menghentikan total Liga Belanda karena peningkatan kasus di negara tersebut.

Ketika itu Overmars tidak menyinggung soal gelar juara Liga Belanda jika kompetisi tersebut harus dihentikan total. Kubu Ajax juga sudah tidak lagi berpikir soal keuntungan atau finansial.

“Saya sangat sulit memahami hal itu. Kami di Belanda tidak tergantung pada pendapatan hak siar televisi, seperti liga di Spanyol, Inggris, Italia, dan Jerman,” tutur Overmars.

“Halo! Lebih dari 100 orang meninggal setiap hari di Belanda karena virus corona. Liga sudah mati, hidup lebih penting,” ucap Overmars menambahkan

Keinginan Ajax agar Liga Belanda dihentikan karena virus corona mendapat dukungan dari rival terdekat mereka, AZ Alkmaar. Klub papan atas Eredivisie lainnya, PSV Eindhoven juga memiliki keinginan serupa.

Namun sayang, di balik ketulusan Ajax dan tim-tim lain agar Liga Belanda dihentikan sejak awal April, ada saja pihak yang tidak senang dengan usulan tersebut.

Louis van Gaal, mantan pemain dan juga pelatih Ajax, yang tidak mendukung rencana bekas klubnya tersebut. Lebih dari itu, Van Gaal menuding keinginan Ajax agar Liga Belanda dihentikan total merupakan akal-akalan mantan klubnya tersebut agar bisa dinyatakan sebagai juara.

Louis van Gaal menuding Ajax punya tujuan tersembunyi di balik keinginan agar liga dihentikan.Louis van Gaal menuding Ajax punya tujuan tersembunyi di balik keinginan agar liga dihentikan. (Diolah dari getty images)

“Olahraga ada untuk menemukan pemenang. Belum lagi setelah 25 pertandingan kita memotong semuanya, dan Ajax jadi juara. Di saat pemerintah juga mengikuti petunjuk para ahli selama berminggu-minggu, beberapa klub tiba-tiba mengatakan liga tidak mungkin dilanjutkan, Ajax yang pertama,” ucap Van Gaal.

Baca Juga  Kapolda Maluku Cek Kemampuan Peralatan Command Center

“[Ajax], klub yang menyalahgunakan krisis corona ini untuk keuntungan mereka sendiri, dan kemudian membuat itu sebagai pernyataan demi kesejahteraan publik. Saya orang yang tidak bisa menerima itu,” tutur Van Gaal menambahkan.

Hanya saja, tudingan Van Gaal tidak terbukti. KNVB akhirnya memutuskan menghentikan kompetisi, namun tidak ada klub yang jadi juara ataupun terdegradasi.

Keputusan KNVB itu membuat Ajax merugi, kehilangan pemasukan dari hak siar televisi dan pendapatan dari tiket penonton.

Selain tidak lagi memiliki pendapatan dari sektor finansial, Ajax juga kehilangan peluang meraih gelar juara Liga Belanda ke-35 di musim ini.

Hakim Ziyech kesal karena Ajax gagal juara.Hakim Ziyech kesal karena Ajax gagal juara. (AFP/JOHN THYS)

Padahal, dalam dua musim terakhir Ajax memiliki skuat dengan mayoritas pemain potensial guna meraih gelar juara dua musim beruntun: Andre Onana, Donny van de Beek, Dusan Tadic, Hakim Ziyech, hingga David Neres.

Meski demikian, manajemen Ajax tetap menerima keputusan KNVB itu dengan lapang dada. CEO Ajax, Edwin van der Sar menyebut ada hal yang jauh lebih penting daripada sepak bola, yaitu kesehatan dan keselamatan banyak orang.

Kalaupun pihak Ajax tidak puas dengan pembatalan liga, itu adalah pemain mereka, Hakim Ziyech. Pemain berdarah Maroko itu menyebut pembatalan kompetisi sebagai hal omong kosong.

Namun wajar bila pemain kesal dengan pembatalan itu. Karena Ziyech dan pemain Ajax lainnya adalah yang ‘berdarah-darah’ di lapangan sejak kompetisi dimulai. Di saat mereka sedang dalam kepercayaan diri tinggi karena berada di puncak klasemen, Covid-19 datang, lalu tidak lama kompetisi dihentikan total. 

Baca Juga  Dandim 1509/Labuha Ikuti Rapat Penanganan Covid-19 Bersama Wakil Bupati dan Unsur Forkopimda

Terlebih lagi Ziyech berkeinginan kuat mempersembahkan trofi untuk Ajax sebelum pindah ke Chelsea di musim depan.

Walau begitu dalam kondisi ini secara umum Ajax sudah memberikan banyak pelajaran penting kepada klub-klub lain di Eropa yang situasi negaranya masih belum menentu karena virus corona.

Liga Italia, Liga Spanyol, Liga Prancis, dan Liga Inggris adalah empat dari lima liga top Eropa yang masih belum memutuskan nasib mereka ke depan. Sementara itu, Bundesliga Jerman dikabarkan akan kembali memulai kompetisi pada 9 Mei nanti dengan sejumlah syarat.

Liga Inggris dan Spanyol adalah kompetisi yang masih ngotot ingin melanjutkan perjalanan mereka di musim ini. Terutama Premier League yang dikabarkan tengah dalam bayang-bayang denda besar dari pemegang hak siar jika kompetisi dihentikan total.

Ajax dan Liga Belanda menunjukkan jiwa besar yang mereka miliki. Demi kepentingan warga Belanda, faktor finansial mereka abaikan. Walaupun pada akhirnya muncul gejolak dari klub-klub lain.

FC Utrecht tim peringkat keenam Eredivisie serta Cambuur Leeuwarden dari Eerste Divisie adalah klub-klub yang menentang serta kecewa dengan keputusan KNVB itu.

Utrecht bahkan akan menggugat keputusan KNVB, karena mereka bersikeras ingin lolos ke Liga Europa. Utrecht ada di posisi keenam klasemen tertinggal tiga poin dari Willem II. Namun Utrecht memiliki jumlah pertandingan lebih sedikit dan produktivitas gol yang lebih banyak dari Willem II.

Kini, menarik menanti reaksi dari liga-liga serta klub-klub top Eropa terkait masa depan kompetisi domestik mereka di masa darurat corona saat ini, seperti Liverpool, Paris Saint-Germain, Barcelona, Juventus, hingga Bayern Munchen.

Terutama Liverpool dan suporternya yang tengah menanti gelar Liga Inggris pertama setelah 30 tahun. Apakah bisa mengikuti jejak Liga Belanda dan Ajax yang legawa serta berjiwa besar atau tidak?