Pemburu Hewan Langka Unggah Foto ke Jejaring Sosial, di Mana Polisi?

oleh -310 views
Link Banner

Porostimur.com | Ambon: Maraknya tampilan foto di media sosial mengenai perburuan satwa liar, hingga secara vulgar mengolahnya menjadi masakan, menjadi keprihatinan semua pihak. Pengunggah foto satwa liar dianggap tidak memiliki etika serta pendidikan yang cukup untuk menyayangi makhluk hidup.

Ketua Protection of Forest and Fauna (Profauna) Indonesia, Rosek Nursahid mengungkapkan, ramainya postingan foto satwa liar hasil buruan oleh generasi muda menjadi bukti lemahnya pendidikan konservasi satwa liar oleh lembaga pendidikan. Seharusnya, lembaga pendidikan terlibat dalam mengedukasi serta membekali generasi muda agar memiliki kesadaran menyayangi dan menjaga kelestarian satwa.

“Mahasiswa atau pelajar, kan generasi muda terdidik. Tapi, mereka justru menunjukkan tidak memiliki etika menyayangi satwa. Ini cermin kegagalan edukasi tentang konservasi alam,” ujar Rosek Nursahid kepada Mongabay-Indonesia, Rabu (21/10/15).

Rosek juga menilai, generasi muda kini kehilangan karakter dan budi pekerti cara mencintai alam dan lingkungan. Pendidikan yang keliru, menyebabkan generasi muda terjerumus pada praktik perdagangan satwa liar yang berujung pada hukum. “Seharusnya mereka lebih ditekankan bagaimana menyayangi satwa. Ini soal pembentukan budi pekerti serta karakter.”

Penjelasan Rosek erat kaitannya dengan postingan foto binatang satwa yang mati diburu salah satunya Kuskus.

Baca Juga  Maluku Dirugikan, Murad Umumkan Perang Terhadap Menteri Susi

Kali ini pelakunya adalah Ipin Curva Sud. Lewat halaman facebooknya Upon mengunggah kurang lebih 9 ekor Kuskus yang sudah tidak bernyawa dan ditumpuk di tanah.

Foto pertama memperlihatkan seorang pemuda tengah berdiri sambil memikul senapan dengan tumpukan Kuskus yang berhasil diburu didepannya. Kuskus yang baru dibunuhnya itu, ada yang masih berdarah dan yang kedua saat.

Foto media, nampak seorang pemuda berkaos biru tengah menenteng senapan diburu dadanya, sedangkan foto ketiga dan kelima, memperlihatkan kedua pemuda itu menenteng senapan masing-masing, masih dengan tumpukan Kuskus Basil bureau.

Foto kelima memperlihatkan tumpukan Kuskus dari jarak dekat.

Aksi sadis Ipin Curva ini mendapat banyak kecaman dari ratusan orang. Terbukti aksinya ini sudah dikomentari sebanyak 961 orang dan sudah dibagikan sebanyak 341 kali.

Dalam akun facebooknya pria ini mencantunkan dirinya pernah menimba ilmu di SMA 45 Ambon dan berdomisili di Kota Ambon.

Ragam macam tanggapan bermunculan lewat halaman facebook Ipin Curva seperti berikut ini:

“Itu binatang di lindungi goblok..
Nambah lagi para penghuni hotel pordeo, kata akun Bhen Hiencher Wala’a,

“Goblok dipiara.. kambing piara biar gendut”.omel akun Muhammad Rifki Sofyan.

Baca Juga  Kegiatan Sula Got Talent dan Festival Tanjung Waka Dinilai Tak Professional

“Kus Kus hewan yang hampir punah ,dan dilindungi,” tulis Muhammad Idris.

Puluhan akun lain bahkan mentag akun polda Maluku, Mabes Poor bahkan Bakamla.


Kuskus adalah hewan endemik berkantung (tergolong marsupialia). Berdasarkan beberapa sumber, penyebaran kuskus tersebar hampir di seluruh Indonesia bagian timur. Hewan berkantung ini termasuk dalam famili Phalangeridae. Menurut para ahli, satwa ini digambarkan bertubuh agak besar dan kokoh, juga memiliki panjang seukuran ternak babi berumur dua bulan. Genus yang termasuk spesies kuskus yakni Ailurops, Phalanger, Spilocuscus, dan Strigocuscus. Pola pewarnaan bulu mereka pun dibedakan dalam dua genus, yaitu genus Spilocuscus dan Phalanger yang masing-masingnya terdiri dari 3 sampai 8 jenis.

Kepulauan Maluku menjadi tempat tinggal bagi beberapa jenis kuskus endemik yaitu Phalanger ornatusPhalanger rothschildiPhalanger sp. dan Spilocuscus sp. Selain di Indonesia, kuskus juga dapat ditemukan di New Guinea dan sebagian daerah Australia.

Populasi kuskus semakin menurun akibat ancaman deforestrasi dan banyak diburu. Melalui data IUCN, marsupialia langka dari Indonesia ini dikategorikan Endangered Species, dalam CITES digolongkan Appendiks II. Adapun faktor-faktor yang melatar-belakangi perburuan liar yang dilakukan oleh masyarakat setempat antara lain unsur kebudayaan, konsumsi, diperdagangkan secara ilegal, dipelihara, diambil kulit sebagai bahan tas dan dijadikan hiasan.

Baca Juga  Klasemen Akhir La Liga dan Orang-Orang Terbaik Musim Ini

Kuskus di Indonesia sendiri telah dilindungi sejak tahun 1990 melalui Peraturan Perburuan Binatang Liar (PPBL) No. 226 /1931, UU No. 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, dan UU No. 7/1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

Perburuan kuskus yang dilakukan secara terus-menerus dipastikan akan menyebabkan terjadinya penurunan jumlah populasi bahkan dapat mencapai angka kepunahan. Studi kasus di Desa Lumoli, Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku, berdasarkan informasi dari masyarakat lokal setempat menunjukkan bahwa kuskus masih diburu oleh masyarakat untuk dikonsumsi dagingnya serta diambil rambutnya (dikutip dari penelitian Usmany et al, Universitas Patimura pada jurnal Sain Veteriner, 2015).

Deforestasi dan perburuan liar memiliki kaitan yang sangat erat, sudah sepatutnya hal ini tidak dipandang sebelah mata oleh segala pihak dan kalangan. Siapa lagi yang akan bercerita keunikan dari satwa khas Indonesia kepada anak-anak dan cucu kita di masa depan jika satwanya saja harus punah bukan karena dimakan oleh waktu namun karena kerakusan manusia. (red/rtl)