oleh

Pemerintahan dan Klenik

Link Banner

Oleh : Herry Santoso

Menteri Sekretaris Kabinet Pramono Anung melarang Presiden Joko Widodo, untuk mengunjungi Kediri. Hal itu terkait adanya mitos Jawa yang menyatakan, “Pemimpin negara / presiden yang berani berkunjung ke Kediri pasti akan mengalami kesialan yaitu turun tahta sebelum masa jabatannya berakhir”,

Pertanyaannya adalah mungkinkah mitos tersebut akan benar-benar terjadi ?

Link Banner

Dalam sejarah kekuasaan di Nusantara memang tak dapat dipisahkan antara dimensi realita (rasional) dengan ilmu “klenikisme”. Bahkan dalam terminologi tertentu sulit membedakan antara sosio-kultural, dan sosio-supranatural. Persenyawaan politik, sosial, budaya dan klenik justru acap menjadi keyakinan yang rekat dan sulit dipisahkan di masyarakat budaya, sungguhpun orang tertentu (baca : pejabat) terkesan “malu-malu kucing” untuk memberi pembenaran keyakinan tersebut di ruang publik. Para penganut mitos dan klenikisme umumnya lebih bersikap ambivalen.: mereka harus tahu diri pada siapa harus berbicara.

Gegar Budaya

Keyakinan terhadap mitos tersebut lebih identik dengan penyakit budaya daripada rasiokultural. Sebagaimana larangan Pramono Anung terhadap Jokowi untuk tidak mengunjungi Kediri tersebut lebih identik dengan pembodohan publik lantaran mengedukasi berpikir tidak sehat, tidak logis, bahkan tidak bernalar. Padahal kehadiran Jokowi ke daerah-daerah (bukan cuma Kediri) sangat dinanti-nantikan. Lebih-lebih Kediri sebagai penyumbang pemasukan negara yang tidak sedikit, sebagaimana pajak Pabrik Kretek Gudang Garam memberikan kontribusi berupa pajak dari pita cukai triliunan rupiah pertahunnya.

Bukan itu saja, PT Gudang Garam Kediri juga akan membangun sebuah bandara berkualifikasi internasional. Dengan demikian sudah tentu turut serta menyumbang infrastruktur yang sangat penting bagi bangsa ini.

Jadi bisa dikatakan larangan seorang Pramono Anung tersebut sangat menggores hati orang Kediri. Sebab pada pilpres tahun lalu Jokowi justru mendulang suara lebih 60% dari Kabupaten/Kota Kediri.

Jadi apa yang disampaikan oleh Pramono Anung tersebut sangat tidak logis dan kurang mendidik. Itu lebih identik dengan “gegar budaya” lantaran budaya klenik yang tidak sehat mengontaminasi di jalannya pemerintahan, dan pemerintahan saat ini bukan governance based on accult science (penerintahan berdasarkan ilmu gaib).

Kediri Rasional

Ada baiknya Pemkab/Pemkot Kediri menyanangkan gerakan Kediri Rasional. Berbagai klenik yang membalut kultur Kediri sejak zanan bahulea laiknya : Jangka Jayabaya, Pemimpim Sial (jika menginjak tanah Kediri), sampai yang paling jelek mitos Sumo Bawuk biarlah mengapung di alam antah berantah tetapi jangan mencemari pemerintahan Jokowi yang sudah bagus ini. Siapapun presidennya wajib datang ke Kediri. Sebab tanpa Kediri tak akan ada Indonesia. Begitu…***

Herry Santosopemerhati sosial, politik, dan budaya sekarang menetap di Kediri.

Sumber: jurnalfaktual

Link Banner

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed