Pemkot Ambon Telusuri Alasan Rapid Test Penumpang Ferry Tidak Divalidasi

oleh -18 views
Link Banner

Porostimur.com | Ambon: Sebuah postingan di FB atas nama akun Kemal Rey, senin (22/2) mendadak viral dan dibagikan lebih dari tiga ribu kali. Isi postingannya tentang satu keluarga yang terdiri dari suami bernama Udin (warga Kulur – Saparua), istrinya dan seorang anak mereka yang berusia lima tahun batal berangkat dengan kapal Ferry ASDP dari Pelabuhan Galala, Ambon tujuan Namlea, Buru, karena hasil rapid testnya belum divalidasi.

“Hari ini meraka tunda keberangkatan ke kota Namlea lantaran surat rapid test mereka belum divalidasi, sementara mereka sudah mengurus surat rapid test dengan susah payah,” tulis Kemal Rey dalam postingan tersebut.

Dijelaskan Kemal Rey keberangkatan Udin dan keluarga secara mendadak karena mendengar kabar bahwa mertua dari Udin meninggal dunia, sehingga pihak keluarga di Namlea menanti kedatangan Udin dan keluarga untuk pemakaman almarhum, namun akhirnya gagal karena persoalan rapid test yang belum divalidasi.

Baca Juga  Juergen Klopp: Orang Biasa yang Dikelilingi Orang-orang Hebat di Liverpool

“Bapak Walikota Ambon yang sungguh kami hormati di manakah letak keadilan itu berpihak. Rakyat kecil di negeri ini dibuat susah, sementara para penguasa dan orang orang kaya dipermudahkan setiap urusannya dengan cara sogok – menyogok,” kecamnya.

Mencoba menelusuri persoalan yang dihadapi, Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon melalui Plt. Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub), Robby Sapulette, telah berkoordinasi dengan pihak Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Ambon serta Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP), dan menemukan sejumlah fakta terkait masalah yang terjadi.

Bahwa, pihak KSOP Kelas I Ambon, hanya akan mengijinkan jumlah penumpang kapal Ferry ASDP sesuai dengan penerapan protokol kesehatan di masa pandemi. Artinya ada pembatasan jumlah penumpang per-pelayaran.

“Jadi sesuai dengan standart operasional, jumlah penumpang sudah memenuhi kapasitas pelayaran sehingga pak Udin dan keluarga serta penumpang lainnya yang datang terlambat tidak diperkenankan untuk menumpangi kapal ferry tersebut,” kata Kadishub.

Selain itu, dalam hal persyaratan perjalanan berupa rapid test, yang seharusnya dimiliki oleh setiap penumpang, ternyata hanya dikantongi oleh satu dari tiga orang penumpang yang hendak berangkat.

Baca Juga  Ikuti Jejak Sang Ayah, Kini Giliran Fachri Albar Ditangkap Karena Narkoba

“Selain datang terlambat, mereka hanya mengantongi satu surat hasil rapid test, sehingga tidak divalidasi oleh KKP,” ungkapnya.

Menurut Kadishub, dalam hal ini pihak KSOP dan KKP sudah menjalankan tugas melaksanakan pengawasan, dan penegakan hukum di bidang keselamatan dan keamanan pelayaran sesuai dengan standar operasional prosedur yang berlaku, sehingga pak Udin dan keluarga tidak mungkin diijinkan untuk berangkat dengan menumpang ferry tujuan Ambon – Namlea.

Dirinya mengakui, permasalahan yang dihadapi sesungguhnya diluar kewenangan Pemkot. Namun kedepan pihaknya, akan berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan Provinsi Maluku, KSOP dan KKP agar dapat memberi dispensasi bagi penumpang dengan alasan – alasan khusus.

“Kedepan akan kita konsolidasikan lagi, misalnya ada kabar duka atau keluarga yang meninggal dunia, atau hal – hal lain yang sifatnya benar – benar mendesak, penumpang dapat diijinkan berangkat dengan melampirkan bukti yang valid, misalnya ada surat keterangan dan sebagainya,” tandasnya.

Baca Juga  Sekda Maluku Buka Rakor Pengawasan Daerah

Senada dengan itu, Kadis Kesehatan Kota Ambon, Drg. Wendy Pelupessy, menyatakan bahwa validasi dan verifikasi surat hasil rapid tes adalah kewenangan KKP yang merupakan UPTD Kementerian Kesehatan.

“Untuk permeriksaan rapid test antibody bagi pelaku perjalanan dalam provinsi maluku khususnya masyarakat ber-KTP Kota Ambon dapat diperoleh di puskesmas Kota Ambon tanpa dipungut biaya, sedangkan untuk masyarakat yang bukan warga kota dapat dilakukan di fasilitas kesehatan swasta yang direkomendasikan,” singkatnya. (alena/agi)