Pemuda di Maluku Dalam Menghadapi Masa Depan

oleh -148 views
Link Banner

Porostimur.com | Ambon: Dalam rangka HUT 92 Sumpah Pemuda yang akan berlangsung pada 28 Oktober 2020 yang akan datang, KNPI Kota Ambon melakukan berbagai kegiatan, diantaranya pembagian masker kepada masyarakat kota Ambon dan xiskusi dengan tema ” Bersatu dan Bangkit Menumbuhkan Semangat Pemuda Yang Kreatif, Inovatif, Mandiri serta Berdaya Saing di Tengah Pandemik”, dengan narasumber, Rhony Sapulette, SH, MH, CLA.

Dalam penjelasannya, Sapulete mengatakan, pemuda sering dikenal dengan sekelompok manusia yang berada pada rentang usia 15 sampai dengan 65 tahun. Pemuda juga sering disebut sebagai suatu entitas yang menjadi harapan masa depan bangsa, negara dan daerah dimana mereka dilahirkan, tumbuh dan dibesarkan.

Pemuda jika diibaratakan sebagai satu barang mewah dan sangat berharga untuk membangun sebuah peradaban manusia. Pemuda adalah salah satu pilar yang memiliki peran besar dalam perjalanan bangsa dan negara, karena maju mundurnya suatu bangsa sangat ditentukan oleh pemikiran dan kontribusi aktif dari pemuda itu sendiri

“Dalam kehidupan bermasyarakat, pemuda merupakan satu identitas yang potensial sebagai penerus cita-cita perjuangan karena pemuda pada umumnya dikatakan sebagai power of world seperti dikatakan presiden Ir. Sukarno “berikan aku sepuluh pemuda akan kuguncang dunia”. Dari kata-kata Bung Karno tersebut menggambarkan bahwa sesungguhnya pemuda adalah fokus dan lokus dari sebuah pergerakan suatu bangsa”, beber Sapulete.

Link Banner

Lanjutnya, jika dilihat dari spirit yang dimiliki pemuda, maka dapat dikatakan bahwa pemuda adalah kelompok manusia yang memiliki semangat dan kekuatan yang besar dan kuat. Idealisme pemuda sangat diperlukan di tengah-tengah permasalahan besar bangsa dan khususnya Maluku terutama yang ada di kota Ambon.

Baca Juga  PKS: Pilkada Lewat DPRD Hanya Menguntungkan Oligarki

Karena itu, menurut Sapulete, peran dan fungsi pemuda merupakan agen pembangunan (agent of development). Pemuda juga adalah agen pembaharuan (agent of changes). Pemuda juga adalah agen pengawasan sosial – politik (agent of social ang political control).
Sebagai agen pembangunan (agent of development), maka pemuda diposisikan pada dua fungsi utama yaitu sebagai “obyek” dan subyek” pembangunan.

“Sebagai obyek pembangunan maka pemuda tentu menjadi salah satu tujuan dari pembangunan itu sendiri yang berkaitan dengan peningkatan pendidikan, kesehatan, dan kualitas pemuda sebagai SDM yang potensial yang memiliki kemampuan profesionalitas di bidang masing-masing; kemampuan berpikir secara terstruktur, sistimatis, dan sistemik untuk berperan di masyarakat,dan dalam kedudukannya sebagai suyek pembangunan maka pemuda menjadi bagian penting untuk terlibat dan melibatkan diri secara aktif dalam proses pembangunan yang dilakukan terutama yang ada di Maluku,”ujarnya.

Sapulete bilang, keterlibatan pemuda dalam pembangunan di Maluku bukan dalam arti pemuda menunggu bola tetapi pemuda harus menjemput bola pembangunan, artinya pemuda dituntut untuk mampu membaca peluang-peluang dan menjadikan tantangan sebagai peluang.

Baca Juga  Warga Desa Wailau Digemparkan dengan Penemuan Seekor Buaya

“Sebab ketika pemuda mampu menjadikan tantangan menjadi peluang maka di sinilah letak fungsi dan peran pemuda sebagai agen pembangunan (agent of development),” tutur Sapulette

Disamping itu, Dia juga mengatakan bahwa pemuda yang disebut sebagai agen pembaharuan (agent of changes), maka pemuda dituntut untuk mampu melakukan aktivitas-aktivitas kreatif dan innovatif yang mampu memberikan kontribusi nilai tambah baik sosial maupun ekonomi, sehingga dalam posisi sebagai agent of change ini pemuda benar-benar memiliki kontribusi positif dalam pembangunan.

“Bukan hanya itu tapi pemuda juga disebut sebagai agen pengawasan sosial – politik (agent of social ang political control), maka dalam kedudukan ini posisi pemuda harus benar-benar ada di tengah-tengah masyarakat yang ikut melahirkan pemuda itu sendiri,” katanya.

Baca Juga  Puncaki Klasemen Liga Inggris, Southampton Olok-olok Donald Trump

Khusus pemuda yang adalah mahasiswa, di satu pihak mereka adalah masyarakat ilmiah tetapi juga mereka adalah bagian dari masyarakat sosial.

Dalam kedua fungsi ini, menurut Sapulete, pemuda yang namanya Mahasiswa harus bersama-sama dengan kelompok pemuda non-mahasiswa dapat menjalankan fungsi dan peran pengawasannya, terutama di bidang pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah daerah setempat.

“Itu berarti pemuda harus menjadi, motivator, katalisator, stabilisator, dan mediator di antara masyarakat dan pemerintah. Fungsi dan peran-peran di atas dapat dilakukan melalui berbagai program dan kegiatan-kegiatan kepemudaan dalam berbagai bentuk terutama yang berkaitan dengan upaya mengedukasi masyarakat dalam berbagai aspek,” urai Sapulette. (olof)