Penemuan Puluhan Rendaman Material Emas Gunung Botak, Tak Disentuh Polisi

oleh -314 views
Link Banner

Porostimur.com | Namlea: Puluhan rendaman menggunakan bahan kimia berbahaya yang berlokasi di jalur sungai Wamsait, Dusun Wamsait, Desa Dafa, Kecamatan Waelata, Kabupaten Buru, ternyata tidak terjamah oleh pihak kepolisian terutama saat proses penyisiran berlangsung pada 28 Juli lalu.

Puluhan rendaman itu terkesan dilewatkan dan hanya menyisir lokasi rendaman yang sedang kosong tanpa material.

Ditemukannya puluhan rendaman aktif itu oleh awak media menyusul adanya upaya penyisiran oleh aparat Kepolisian Polsek Waeapo dan Polres Pulau Buru tanggal 28 Juli lalu yang terkesan tebang pilih. Hal itu dibuktikan dengan adanya puluhan rendaman yang berjejer di kiri kanan sungai mulai dari Jalur A, B dan C yang tidak masuk pada lokasi yang dikunjungi saat operasi berlangsung.

saat para wartawan mendatangi langsung titik-titik rendaman pengolahan emas dijalur A, B dan C, pada Sabtu siang (31/07/2021), terlihat aktifitas masih berjalan normal. Dengan kondisi rendaman yang siap diproses.

Saat lokasi rendaman itu dilihat dari dekat, sejumlah karyawan yang sedang bekerja meproses material untuk rendaman memilih kabur dari TKP.

Baca Juga  Warga Galela Halmahera Utara Temukan Bom Sisa PD II Seberat 600 Kg

Beberapa warga yang bekerja sebagai kodok-kodok di Puncak Gunung Botak sempat melontarkan kekesalan mereka dan mempertanyakan perihal upaya penertiban yang dilakukan polisi pada tanggal 28 Juli lalu.

“Kami hanya mencari sesuap nasi di pandemi Covid 19 ini dengan kodok kodok di GB. Kami kerja tanpa bahan kimia. Tapi usaha kami yang jadi target sedangkan rendaman di Jalur A,B dan C tidak dilirik bapak polisi, Yang diherankannya, kok pengolahan emas sistim perendaman yang justru menggunakan bahan kimia di Jalur A,B, dan C, sungai Wamsait tidak disentuh aparat,” kata sumber yang menolak disebutkan namanya.

Sumber ini bahkan mengatakan tentang adanya donatur besar dibalik bisnis tambang ilegal.

“Katanya yang donatur rendaman orang kuat yang punya bekingan,” tuturnya

Kapolsek Waeapo, Ipda Zainal yang dikonfirmasi di kantornya memilih diam.

“Saya tidak bisa memberikan keterangan kepada teman-teman. Keterangan pers harus satu pintu lewat Humas,” tangkis Ipda Zainal.

Baca Juga  Pemuda Pancasila Pasang Badan untuk Hendrata

Kondisi ini memicu amarah masyarakat juga mahasiswa. Rencananya. Mahasiswa akan melakukan aksi damai terhadapkasus ini.

Dalam seruan aksi damai itu para mahasiswa Buru ini akan meminta dan mendesak Kapolda Maluku agar segera menangkap oknum-oknum besar dibalik Aktivitas Tambang Ilegal di kawasan Gunung Botak yang berdampak negatif dan merusak lingkungan.

“Kami juga mendesak Polda Maluku untuk mencopot Kapolres, Kasatreskim pulau Buru dan juga Kapolsek Waiapo yang diduga membiarkan dan melindungi Aktivitas tambang ilegal di dataran Waiapo,” Isi selebaran yang beredar luas di masyarakat.

Sementara informasi yang berhasil diperoleh lebih jauh menyebutkan, rendaman di tiga jalur tersebut diatas didalangi tiga pemain besar yakni Mantri Mole, Mas Nur alias Ustad alias Jenggot dan Haji Komar.

Dua nama terakhir yakni Mas Nur dan Haji Komar kini digunjingkan warga di dataran Waeapo, karena ada selentingan kalau Mas Nur itu diduga mantan Mujahidin, sehingga ada cerita kurang sedap tentang dirinya.

Sedangkan Haji Komar disebut sebagai salah satu pemasok bahan kimia ke tambang ilegal GB beberapa tahun lampau dan menjadi target .Tapi ia lolos dari jeratan hukum.

Baca Juga  Kantongi ratusan paket ganja, YRY diringkus polisi

Haji Komar dikhabarkan tidak bermain langsung di GB, melainkan melalui perantaraan tangan orang lain .

Ada dua nama yang disebut warga yang mejadi kaki tangan haji Komar, yakni Rais Ternate dan Haji Hadrah.

Selanjutnya sumber terpercaya juga mengungkit ada pemberian upeti Rp.3 juta satu kali toyong (saring hasil olah emas) yang dilakukan satu kali seminggu atau sebulan sebesar Rp.12 juta dari satu tempat perendaman. sementara umber lain mengatakan bage bage hasil itu berjumlah lebih besar.

Terakhir, terpetik lagi kabar kalau diduga ada kesepakatan tambahan jatah 10 gram emas dari setiap rendaman per bulan.

Namun sampai berita ini dikirim, belum diketahui upeti gede-gedean yang mencapai miliaran rupiah
per bulan dari seluruh rendaman itu mengalir kepada oknum siapa saja. (ima)