Pengadilan Tipikor Ternate Hadirkan Mantan Bupati Sula dan Istri Sebagai Saksi Kasus Jembatan Air Bugis

oleh -46 views
Link Banner

Porostimur.com – Ternate: Pengadilan Tindak PIdana Korupsi (Tipikor) Ternate, kembali menggelar sidang terkait perkara dugaan korupsi jembatan Air Bugis di Desa Auponhia, Kecamatan Mangoli Selatan, Kabupaten Kepulauan Sula, Maluku Utara, Senin (22/11/2021).

Sidang digelar dengan agenda pememeriksaan saksi yakni mantan Bupati Kepulauan Sula, Hendrata Thes dan istrinya Vince Hongarta.

Hendrata dan istrinya diperiksa sebagai saksi atas kasus yang merugikan keuangan negara itu.

Hendrata yang dikonfirmasi wartawan usai menjalani persidangan mengatakan, dia dipanggil hanya sebagai saksi terkait proyek pembangunan jembatan Air Bugis. Hendrata enggan berkomentar banyak terkait kesaksian dirinya bersama istri.

Sementara disisi lain, penasehat hukum (PH), Irwan Hongarta alias Cuan dan Rusmin, Maharani Caroline, SH, mengatakan, saat itu Hendrata Thes (HT) selaku kepala daerah, seharusnya Hendrata mengambil langkah ketika ditemukan ada pekerjaan proyek yang tidak beres atau tidak sesuai bestek.

“Tadi saat persidangan berlangsung, dia (Hendrata Teis) selaku saksi kasus proyek jembatan Air Bugis hanya jawab, saya tidak tahu. Hendrata juga bilang sudah koordinasi dengan instansi terkait untuk bekerja sesuai dengan prosedur,” beber Maharani.

Baca Juga  BNPB: 23 Meninggal, 15 Ribu Mengungsi Akibat Gempa Guncang Maluku

Lanjut Maharani, jawaban Hendrata sangat tidak masuk akal, karena pada saat itu menjababat sebagai Bupati Kepsul, otomatis powernya besar bisa mengambil tindakan terkait dengan proyek jembatan Air Bugis.

“Jawabnya hanya, saya tidak tahu, saya tidak tahu. Kami juga susah mau menggali, padahal pekerja proyek ini merupakan orang yang tinggal dalam rumah Hendrata, masa dia tidak tahu dari awal,” tukasnya.

Namun Maharani juga tetap menghargai apa yang disampaikan saksi Hendrata di persidangan,. “Apa yang dia bilang tadi tetap torang (kami red) hargai,” jelasnya.

Jembatan Air Bugis

Selain itu, Maharani bilang, keterangan dari istri Hendrata Thes, Vince Hongarta saat di persidangan tadi, bahwa anggaran 20 persen untuk membayar hutang-hutang bahan bangunan terhadap dirinya dan sisanya tidak lagi di tagih, lantaran yang bersangkutan sudah meninggal dunia pada tahun 2020 kemarin, jelasnya.

Baca Juga  September 2019, Inflasi Bulanan Maluku Terkendali

“Proyek Air Bugis kan dari tahun 2017 kemarin, masa sampai tahun 2020 dia tidak tagih dengan alasan yang bersangkutan sudah meninggal dunia,” ujarnya.

Dikatakan Maharani, kuncinya ada di kepala daerah pada saat itu, membuat kebijakan atau bersikap lebih tegas karena menurutnya jembatan tersebut merupakan aset daerah yang bersumber dari dana alokasi khusus (DAK).

“Ngoni dengar to (kalian dengar kan-red) apa yang dia bicara tadi di ruang sidang, saya hanya koordinasi, saya hanya koordinasi, tapi ini jawaban umum buat kitorang (kami-red). Jembatan tersebut ambruk dirinya masih menjabat bupati, tanggung jawab dia meski pihaknya bukan sebagai PPK langsung tetapi, itu dia harus turut bertanggung jawab selaku kepala daerah, ujar Maharani.

“Kewenanganya kan tinggi seharusnya kalau dia sudah liat begitu, panggil PPK nya, oh ini perusahaan pemenang namun yang kerjakan lain itu di panggil, kan dia sendiri yang katakan bahwa aturanya salah, tapi dia hanya panggil kornasi kerjakan baik-baik,” sambungnya.

Baca Juga  KKP Dorong Gerakan Pakan Ikan Mandiri untuk Tekan Biaya Pakan Ikan di Maluku, Malut & Papua

Sebagai informasi, pekan depan, pengadilan berencana menghadirkan saksi kunci atas nama Marcel selaku penerima uang muka atau anggaran tahap pertama yang saat itu bersama Ali Usman yang mencairkan anggaran. Selain itu juga, ada ahli teknik, ahli perencanaan dan ahli pendata.

Sekedar diketahui, dalam kasus dugaan korupsi jembatan Air Bugis dengaan empat orang terdaksa adalah IK alias Ikram, mantan Kadis PUPR Kepulauan Sula sekaligus Pengguna Anggaran (PA), MIM alias Iswan selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), RL alias Umin selaku Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK), dan Direktur PT. Kristi Jaya Abadi/Kontraktor  IH alias Cuan. (red)

No More Posts Available.

No more pages to load.