Penyiram Novel Dituntut 1 Tahun, Ini Respons Amnesty Internasional Indonesia & Lokataru Foundation

oleh -116 views
Link Banner

Porostimur.com | Jakarta: Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid, mengkritik keras tuntutan 1 tahun kepada pelaku penyiraman penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan. Dia menilai tidak ada keadilan dalam proses hukum tersebut.

“Tuntutan JPU di Kejati DKI terhadap penyerang Novel Baswedan jelas mencederai rasa keadilan di negara ini,” kata Usman kepada wartawan, Jumat (12/6/2020).

Dia pun tak sepakat jika kasus Novel ini hanya dikategorikan penganiayaan. Baginya, penyerangan ini sudah masuk kategori percobaan pembunuhan. Hal itu terlihat dari kecacatan yang ditimbulkan pada bagian mata Novel.

“Pelaku yang bisa saja membunuh Novel, tetap dikenakan pasal penganiayaan, sementara Novel harus menanggung akibat perbuatan pelaku seumur hidup,” jelasnya.

Lebih lanjut, Usman menilai kasus penyerangan Novel bukan hanya sebatas teror. Namun mengancam agenda reformasi dalam bidang pemberantasan korupsi dan Hak Asasi Manusia (HAM).

Oleh karena itu dia tetap mendorong otak penyarangan ini turut diungkap. Jika dibiarkan, maka kasus penyerangan semacam ini akan kembali terulang. “Ada kesan kasus dipersempit dengan hanya menjaring pelaku di lapangan, bukan otaknya,” pungkas Usman.

Baca Juga  Resmi Gereja St. Yosep Ohoijang, Hanubun: Momen Merajut Tali Kasih Persaudaraan Antar Umat Beragama

Nuansa Rekayasa Perkara Novel Baswedan, Haris Azhar Nilai Wajar Tuntutan Jaksa Ringan

Direktur Eksekutif Lokataru Foundation Haris Azhar di Gedung Merah Putih KPK, Selasa (18/2/2020).
Haris Azhar: Direktur Eksekutif Lokataru Foundation 

Direktur Eksekutif Lokataru Foundation Haris Azhar menilai bahwa rendahnya tuntutan terhadap terdakwa kasus penyiraman air keras ke penyidik KPK Novel Baswedan memang aneh. Namun, Haris Azhar menilai wajar dengan rendahnya tuntutan jaksa.

Haris menjelaskan, memang aneh jika tuntutan rendah  lantaran efek kejahatan tersebut sangat besar. Sebab, teror dan kejahatan itu mengakibatkan terganggunya pekerjaan seorang penegak hukum seperti Novel.

Di sisi lain, ia mewajari rendahnya tuntutan tersebut karena sejak awal kasus itu kental nuansa rekayasa.

“Jadi, tuntutan rendah ini aneh tapi wajar. Aneh, karena kejahatan yang kejam kok hanya dituntut rendah. Jika mereka diyakini pelaku,” kata Haris melalui keterangan tertulis, Jumat (12/6/2020).

“Wajar, ya karena memang (terdakwa) sekadar boneka saja,” ujar dia.

Bahkan, Haris menyatakan bahwa berdasarkan hasil investigasi yang dilakukan, bukan mereka yang berciri sebagai pelaku kejahatan terhadap Novel.

Baca Juga  Dua Komisariat PC. PMII Halsel Resmi Dilantik

“Keduanya dipasang untuk mengakhiri polemik kasus Novel yang tidak kunjung jelas. Nunasa rekayasa sangat kental,” ucap dia.

Haris Azhar menyatakan, beberapa keanehan terlihat dari bukti yang digunakan sebagai dalil. Menurut dia, jaksa mengacuhkan bukti forensik dan kamera CCTV.

“Sejak awal penanganan, polisi klaim sudah mendapati hasil CCTV sekitar wilayah tempat tinggal. Ini hanya beberapa kejanggalan saja,” kata dia.

Diberitakan sebelumnya, dua terdakwa kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan, Rahmat Kadir Mahulette dan Rony Bugis, dituntut hukuman satu tahun penjara.

Rahmat dianggap terbukti melakukan penganiayaan dengan perencanaan dan mengakibatkan luka berat pada Novel karena menggunakan cairan asam sulfat atau H2SO4 untuk menyiram penyidik senior KPK itu.

Sedangkan, Rony dianggap terlibat dalam penganiayaan karena ia membantu Rahmat dalam melakukan aksinya.

Keduanya dituntut dengan Pasal 353 KUHP Ayat 2 jo Pasal 55 Ayat 1 ke 1 KUHP.

Menurut Jaksa, Rahmat dan Ronny menyerang Novel karena tidak tidak suka atau membenci Novel Baswedan karena dianggap telah mengkhianati dan melawan institusi Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri).

Baca Juga  Negeri Urimessing Bangun Tiga Sarpras Pakai Dana Desa

“Seperti kacang pada kulitnya, karena Novel ditugaskan di KPK padahal dibesarkan di institusi Polri, sok hebat, terkenal dan kenal hukum sehingga menimbulkan niat terdakwa untuk memberikan pelajaran kepada Novel dengan cara membuat Novel luka berat,” ungkap jaksa.

Atas perbuatannya itu, Rahmat dan Ronny dituntut dengan Pasal 353 KUHP Ayat 2 jo Pasal 55 Ayat 1 ke 1 KUHP.

Jaksa menuntut dua terdakwa penyiram air keras Novel Baswedan, dengan hukum 1 tahun penjara. Keduanya dinilai terbukti melakukan penganiayaan berat terhadap Novel.

“Menjatuhkan pidana penjara terhadap terdakwa Ronny Bugis dan Rahmat Kadir dengan hukuman pidana selama satu tahun,” kata Jaksa Fedrik Adhar membacakan surat tuntutan di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Kamis (11/6).

Dalam pertimbangan Jaksa, hal yang memberatkan Ronny dinilai telah mencederai institusi Polri. Sedangkan hal yang meringankan, keduanya berlaku sopan selama persidangan dan mengabdi di institusi polri. (red/rtm/jpc/fajar)