Jika proksi-proksi Iran di beberapa negara Timur Tengah turun meriam, Israel pasti kewalahan karena harus menangkis banyak sekali serangan balasan.
Pepatah yang berlaku di banyak tempat berbunyi: “Musuhnya musuhku adalah kawanku.” Tapi di Timur Tengah adagium ini tak berlaku. Seperti pernah dikatakan Menlu AS Henry Kissinger, “Di Timur Tengah, musuhnya musuh Anda tetaplah musuh Anda.”
Iran dan Israel sama-sama hidup dalam kepungan musuh dan teman yang tidak bisa dipercaya sepenuhnya. Israel bisa menghantam fasilitas nuklir Iran, tapi tak bisa membasmi tekad politik Teheran beserta militansi tentaranya yang jauh lebih besar — penduduk Iran sembilan kali lipat warga Israel.
Iran bisa menyerang dengan ratusan rudal dan drone, tapi tak mampu meruntuhkan ketahanan dan sistem pertahanan Israel yang kompleks.
Maka konflik ini akan terus berputar dalam pola lama: serangan balasan, pembalasan atas balasan, dan dunia selalu berada satu tarikan napas dari perang besar.
Kemenangan atau Kuburan?
Tapi mungkin di sinilah letak tragedi kita yang paling menyayat hati: bangsa-bangsa yang lahir dari kitab-kitab suci, yang mewarisi ajaran tentang kasih, keadilan, dan penebusan, justeru yang paling bernafsu menyulut dan mempertahankan api kebencian.








