Oleh: Made Supriatma, Peneliti dan jurnalis lepas. Saat ini bekerja sebagai visiting research dellow pada ISEAS-Yusof Ishak Institute, Singapura
Indonesia menjadi negara pertama yang akan mengirim pasukan ke Gaza. Ada 8.000 TNI yang akan menjadi “penjaga perdamaian” di wilayah yang telah mengalami konflik menahun itu.
Koran The Jerusalem Post mengatakan bahwa Indonesia adalah penyumbang pasukan penjaga perdamaian pertama yang akan datang ke Gaza sebagai “Gaza’s International Stabilization Force.” Ini adalah bagian dari fase II gencatan senjata antara Israel dan Hamas yang diinisiasi oleh Donald Trump.
Ini bukan pasukan biasa. Selama ini, Indonesia mengirim pasukan dengan mandat dari PBB. Dewan Keamanan PBB rutin mengirim pasukan ke daerah-daerah konflik di dunia. Pasukan Perdamaian Indonesia berkali-kali bertugas di Lebanon atau Kongo.
Namun kali ini, mandat tidak datang dari Dewan Keamanan PBB. 8.000 personil TNI ini dikirim sebagai bagian keanggotaan Indonesia dalam Board of Peace (BoP). Saya tidak tahu siapa yang membeayai pasukan ini karena jumlahnya yang besar, yaitu sekitar 11 batalyon.
Apakah ini akan diambil dari APBN kita? Yang jelas, dari keterangan Menteri Sekretaris Negara yang saya baca, “Indonesia akan menegosiasi iuran US$ 1 milyar” yang akan menjadi kontribusi sebagai anggota tetap BoP. Mungkinkah, dalam bahasa lain, sebanyak 8.000 prajurit TNI ini adalah bagian dari “iuran” tersebut?









