Peringati Hari Sumpah Pemuda, Tujuh Promotor Indonesia Deklarasikan APMI

oleh -16 views
Link Banner

Porostimur.com | Jakarta: Bertepatan peringatan Hari Sumpah Pemuda, Rabu (28/10/2020), berdiri APMI (Asosiasi Promotor Musik Indonesia).

APMI adalah perkumpulan para promotor yang bertujuan memajukan eksosistem pertunjukan dan festival musik Indonesia.

APMI juga ingin bersama-sama meningkatkan kualitas dan kuantitas karya pelaku industri musik Indonesia.

Tujuh promotor musik besar Indonesia mendeklarasikan berdirinya APMI.

Para promotor ternama itu adalah Dewi Gontha (Java Jazz Festival, Java Festival Production), Dino Hamid (Berlian Entertainment) dan Emil Mahyudin (Nada Promotama).

Ada pula David Karto (Synchronize Festival), Darshan Pridhnani (Hype Festival) serta Donny Junardy (Hammersonic Festival) dan Anas Syahrul Alimi (Prambanan Jazz, Rajawali Indonesia).

APMI yang sudah berbadan hukum ini mempunyai empat pilar utama, yakni Idea, Network, Education dan Innovation.

Idea berkaitan dengan kreatifitas pertunjukan. Network menitikberatkan pembentukan dan perawatan jaringan kerja hingga bekerja sama dengan pemerintah terkait aturan dan kebijakan terkait industri ini.

Baca Juga  Siti Zuhro Ungkap Alasan Mengapa RUU HIP Patut Ditolak

Education akan fokus pada diskusi dan pembelajaran bagi para promotor untuk bisa membuat sebuah pertujukan dan atau festival musik yang sesuai dengan standar internasional.

Innovation menjadi esensial karena pentingnya inovasi terbaru dalam festival atau pertunjukan musik yang bisa digunakan pelaku industri untuk menciptakan tatanan kerja yang bermanfaat dan efisien.

“Kami sepakat menciptakan visi dan misi yang sama untuk mengembangkan industri ini melalui program yang dapat menciptakan ide baru, edukasi, networking dan pengembangan lain,” kata Emil Mahyudin, Sekretaris Umum APMI.

Megadeth saat beraksi di panggung JogjaROCKarta.
Megadeth saat beraksi di panggung JogjaROCKarta. (Dokumentasi Rajawali Indonesia.com)

Dino Hamid, Ketua APMI, mengatakan, APMI akan mengajak para promotor festival musik di Indonesia untuk bergabung dan bersama sama menggerakkan industri musik Indonesia.

“Kehadiran APMI sebagai asosiasi formal promotor musik satu-satunya di Indonesia saat ini sangat penting,” kata Dino Hamid.

Baca Juga  32 CCTV Siap Pantau Titik Strategis Kota Ambon

Apalagi potensi industri pertujukkan dan festival musik di negeri ini yang begitu besar. “Kami ingin coba membangun ekosistem yang baik dan sustainable bagi pelakunya,” ujar Dino Hamid.

APMI diharapkan bisa menjalankan fungsi sebagai asosiasi promotor musik secara profesional.

Andalan Banyak Negara

Di banyak negara, sudah ada asosiasi promotor maupun penyelenggara pertunjukan musik, semisal Association of Independent Festival (AIF) dan Music Venue Trust (MVT).

Ada pula Association of Festival Organisers (AFO), All Japan Concert & Live Entertainment, bahkan Turki punya Tesder alias Turkish Promotor Association.

Keberadaan asosiasi ini penting bagi negara-negara yang menjadikan sektor pertunjukan musik sebagai salah satu sumber pendapatan, seperti Britania Raya maupun Amerika Serikat.

Mariah Carey tampil di Candi Borobudur, Jawa Tengah.
Mariah Carey tampil di Candi Borobudur, Jawa Tengah. (Warta Kota/Heribertus Irwan Wahyu Kintoko)

Seperti umum diketahui, Britania Raya meraup 1,1 miliar Poundsterling dari sektor live music (2018), naik 10 persen dari tahun sebelumnya.

Baca Juga  Tak Ada Ucapan Dukacita untuk Mendiang Djoko Santoso, Akun Jokowi Disorot

Sektor ini juga mempekerjakan lebih dari 30 ribu orang, naik 7 persen dari 2017.

Di Amerika Serikat, menurut data yang dirilis Nielsen Music (2018), sekitar 52 persen dari total populasi AS pergi menonton live music setiap tahunnya.

Pendapatan promotor raksasa seperti Live Nation juga terus naik. Pada 2019 mereka meraup 9,4 miliar dolar, naik dari 8,7 miliar dolar dari 2018.

Upaya Pengembangan Industri Live Music Indonesia, setidaknya sejak sewindu terakhir, industri live music di Indonesia semakin meriah.

Festival-festival besar seperti Java Jazz, Prambanan Jazz, Djakarta Warehouse Project, We The Fest, Hammersonic, Love Festival, hingga Synchronize Festival didatangi puluhan ribu penonton tiap tahun. (red/wartakotalive)