Permaafan (Forgiveness) Tinjauan Psikologi dan Spiritual

oleh -184 views
Link Banner

Oleh: Moksen Idris Sirfefa, Pengkaji Islam dan Peradaban

Allâhumma innaka ‘afuŵun karîm tuhibbu al-afwafa’fu ‘annâ
Wahai Tuhan kami,
sungguh Engkau mempunyai permaafan yang agung
Engkau menyukai permaafan,
maafkanlah kami !

Sejak kemarin hingga hari ini, semua media sosial kita dibanjiri ucapan permohonan maaf lahir dan batin. Sebuah tradisi dalam setiap momen hari raya keagamaan di Indonesia. Kita berharap “Maaf Lahir dan Batin” yang dimaksud dalam ucapan hari raya itu diharapkan tidak sekedar lip service dari sebuah tradisi tetapi benar-benar berbekas di dalam relasi interpersonal. Ucapan itu bukan formalitas dan basa-basi relasi sosial (di antara anggota keluarga, kolega, kawan dan rekan kantor, jema’at) tetapi mesti mengkristal dalam jiwa dan menjadi sikap hidup individu pada hari saat diucapkan dan hari-hari sesudahnya.

Ucapan “maaf,” saking menjadi sesuatu yang melekat dengan keseharian kita, ia bisa dipakai untuk teknik komunikasi yang efektif. “Maaf” tidak lagi merupakan pengakuan terhadap kesalahan melainkan telah menjelma menjadi semacam pengkhidmatan di dalam komunikasi interpersonal. Makanya dalam komunikasi sosial, kita sering mendengar ungkapan “mohon ijin” dari orang yang menjadi lawan bicara atau di dalam rapat-rapat. Jadi ungkapan “mohon ijin” ( permission) adalah bentuk penghormatan terhadap audien. Dalam konteks sosiologi Melayu Indonesia, ungkapan “mohon ijin” biasa diungkap dengan kata tabik, tabe, tabea, yang artinya memohon pengkhidmatan dan permakluman publik.

Mari kita masuk lebih dalam tentang makna permaafan ( forgiveness) ini. Saling memaafkan merupakan salah satu bentuk tradisi hubungan antar manusia, akan tetapi tradisi ini seringkali juga hanya basa-basi. Perilaku seperti ini tidak disertai dengan ketulusan. Sering orang berpandangan bahwa dengan memaafkan maka beban psikologis yang ada akan hilang. Pada kenyataannya banyak orang yang memberi maaf kepada orang lain kemudian kecewa dengan tindakan tersebut. Hal ini terjadi karena permintaan maaf sering tidak ditindaklanjuti dengan perilaku yang konsisten dengan permintaan maaf tersebut.

Aspek Individu (Kepribadian)

Setiap hari berkendara di tengah kesibukan dan kemacetan metropolitan Jakarta merupakan fenomena sehari-hari. Sering kita saling berebut ruas dan alur jalan bahkan saling bersenggolan kendaraan. Terkadang kedua pihak yang bersenggolan menepi dan menyelesaikannya secara baik-baik tetapi tak jarang tidak mampu menahan emosi dan melakukan kekerasan fisik. Pengalaman pribadi saya setidaknya adalah sebuah fakta untuk memulai tulisan ini. Awalnya saya emosi, ngedumel, menggerutu dan memaki-maki pengendara yang menyenggol kendaraan saya atau memotong jalur kita tanpa kesantunan lalu lintas. Tetapi pada akhirnya saya berpikir, saya menggerutu pada siapa? Pun yang saya gondokin tidak mendengar ocehan saya. Sebenarnya dengan mengoceh seperti itu kita sedang berada dalam kondisi jiwa yang tidak sehat ( mental disease) tanpa kita sadari.

Baca Juga  Pengurus HMI Ambon Silaturahmi Dengan Kapolda Maluku, Ini yang Dibicarakan

Ketika merenung kembali perilaku itu, saya sadar bahwa tidak mungkin orang lain sengaja menyenggol kendaraan saya, karena saya tidak bermusuhan dengannya. Bagi dia pun sama. Tak ada untungnya dia menyenggol saya. Insiden itu terjadi pasti di luar faktor kesengajaan. Cara kita mengendalikan emosi kita lewat terapi kesadaran seperti ini akan sangat membantu kita untuk memberi permaafan ( forgiveness) kepada orang lain. Lalu bagaimana dengan pengguna jalan raya yang memotong jalur kita tanpa sopan-santun?

Untuk mengantisipasi hal tersebut saya harus berjuang meredam “kejantanan” saya agar bisa diam dan menahan emosi. Saya harus berusaha keras mengendailkan rasa kesal dan dongkol saya sebagai bagian dari cara saya menerapi emosi saya. Bukankah salah satu ciri orang bertakwa adalah menahan emosi ketika marah dan memaafkan kesalahan orang (Qs. 3:134). Terkesan agak apologetik, tetapi begitulah kalau mau sehat secara kejiwaan. Jika tidak begitu, bisa dibayangkan, sehari, seminggu, setahun selama bertahun-tahun berkendara di Jakarta dengan tingkat emosi yang tidak terkontrol, sudah pasti akan menggangu stabilitas kepribadian. Bisa menjalar dari stres ke depresi lalu ke disis mental yang membahayakan.

Aspek Sosial

Para psikolog sosial seperti McCullough dan kawan-kawan (1997), Zechmeister dan Romero (2002) berpandangan bahwa permaafan ( forgiveness) dapat dijadikan seperangkat motivasi untuk mengubah seseorang untuk tidak membalas dendam dan meredakan dorongan untuk memelihara kebencian kepada pihak yang menyakiti. Permaafan sering diberikan oleh korban karena dituntut memenuhi peran sosial di dalam masyarakat. Selain itu, korban bersedia memaafkan karena merasa mempunyai moral yang tinggi dan ingin mendapat penghargaan dari yang menyakiti. Permaafan ( forgiveness) secara sosial dijadikan instrumen untuk menghalangi keinginan seseorang membalas dendam. Ketika dua pihak saling memaafkan itu menandakan bahwa keduanya membuka lembaran baru hubungan interpersonal di antara mereka saat itu dan masa depan.

Memaafkan orang lain yang berbuat salah pada kita dalam rangka memperbaiki hubungan interpersonal memerlukan tindak lanjut sesuai dengan tujuan ke masa depan, tidak berhenti pada sekedar mengatakan “maaf” sambil menempel kedua telapak tangan di depan antara ruang dada dan perut seperti dalam emoticon/emoji media sosial. Karena kata “maaf” sering dipakai untuk menformalkan kesalahan yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Sering kita mengalami pelayanan publik yang tidak prima, tetapi kata “maaf” selalu menjadi pamungkas permakluman untuk menutupi kesalahan atau kelemahan yang tidak perlu terjadi. Suatu ketika saya sampai kesal dan “menggugat” mengapa Tuhan menciptakan kata “maaf” yang kemudian dipakai manusia untuk menetralisir kesalahannya? Tapi kemudian saya menyadari bahwa dalam hidup ini memang membutuhkan kata “maaf” itu. Sebab, tanpa permaafan, hidup ini pasti kacau-balau karena setiap orang akan berada pada prinsipnya masing-masing dan tak akan ada permakluman.

Baca Juga  Persekongkolan 14 Klub Liga Inggris Ancam Status Juara Liverpool

Permaafan ( forgiveness) ada di semua ajaran moral. Dalam pidatonya di lautan rakyat sebesar 100.000 di stadion kriket Durban, Nelson Mandela yang mengalami siksaan kejam rezim politik apartheid menegaskan bahwa “..if there are dreams about a beautiful South Africa, there are also roads that lead to their goal. Two of these roads could be named Goodnes and Forgiveness.”

Rasa dendam dan saling membenci sudah sepatutnya tidak punya ruang berkembang kalau mereka mendambakan kehidupan demokrasi dan kesetaraan martabat sebagai manusia. Tanpa kemampuan memaafkan, cita-cita itu mungkin tidak pernah ada. Contoh permaafan dari Mandela adalah sejarah untuk dunia dalam konteks kemanusiaan. Apa yang dilakukan Mandela sepatutnya menginspirasi kita dalam menyelesaikan konflik di Tanah Papua yang berkepanjangan.

Dalam memaafkan, perasaan/sikap negatif harus digantikan dengan perasaan/sikap positif. Namun pada kenyataannya tidak mudah dilakukan, apalagi secara cepat. Ada orang yang bisa memaafkan kesalahan orang lain kepadanya, tetapi sulit baginya melupakan peristiwa yang menyakitkannya. Ada cara lain untuk memaafkan kesalahan yang menyakitkan adalah melupakan peristiwa kesakitan itu. Tapi menurut Smedes (1984) sebagaimana dicatat oleh Latifah Tri Wardhati dan Faturochman (http://fatur.staff.ugm.ac.id), hal itu sangat berbahaya karena berarti melarikan diri dari masalah yang dialami. Kedua penulis ini merekomendasikan dua jenis sakit hati yang bisa dilupakan. Pertama, adalah melupakan rasa sakit hati yang sepele sehingga tidak perlu dipikirkan. Kedua, adalah melupakan rasa sakit hati yang sangat besar sehingga tidak bisa ditampung oleh ingatan otak manusia.

Kutipan atas Latifah dan Faturochman secara in extenso bahwa “peristiwa yang pernah terjadi akan menjadi catatan sejarah kehidupan mungkin sebagai bagian dari fase kesulitan dan kelam di dalam kehidupan seseorang. Sebuah luka psikologis akan dirasakan sakit pada saat luka tersebut diungkap kembali. Memberi maaf identik dengan menutup luka tetapi tidak berarti melupakan bahwa luka tersebut pernah ada. Dengan ataupun tanpa memberi maaf seseorang tidak akan mudah melupakan luka hatinya, karena memberi maaf sesungguhnya tidak bertujuan melupakan luka hati melainkan memberi kesempatan baik kepada orang lain maupun kepada diri sendiri untuk membangun hubungan yang lebih serasi.”

Sisi Spiritualitas

Di dalam Islam, permaafan ( forgiveness) identik pengampunan ( maghfirah) dan pertobatan ( tawbah). “Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya” (Qs. 11 : 3; 52). Dalam banyak kitab Hadits disebutkan bahwa orang yang lebih dahulu meminta maaf derajatnya di hadapan Tuhan lebih tinggi dan dicintai dari yang diminta maaf. Sebetulnya di dalam Islam, membalas kejahatan dengan kejahatan yang sama adalah suatu hukuman yang adil, namun memaafkan kesalahan orang yang berbuat jahat kepada kita dan berbaik dengannya adalah perbuatan baik, dimana Tuhan menanggung kebaikan si pemberi maaf (Qs. 42:40). Tuhan Maha Pemaaf dan Maha Kuasa ( ‘Afuŵan Qadîrá) menyerukan kita memaafkan kesalahan orang lain (Qs. 4:149). Sebab kalau kita memaafkan orang lain, kita digolongkan orang-orang yang berbuat baik ( muhsinin/Qs. 3:134). Permaafan ( forgiveness) harus dibarengi dengan kelapangan dada (tulus dan rela) karena dengan demikian Tuhan akan mengampuni hamba-hambanya yang memaafkan (Qs. 24:22). Ajaran yang sama di dalam kekristenan, jika kita mengampuni kesalahan orang, Tuhan pun akan mengampuni kita (Mat 6:14).

Baca Juga  Update Covid-19 Malut, 15 Mei: 85 Positif, 13 Sembuh, 3 Meninggal Dunia

Memaafkan orang lain harus menjadi idealisme perilaku yang melekat dengan keseharian kita. Jangan karena orang lain marah-marah dan kehilangan keseimbangan akal sehat, kita menjadi ikut-ikutan membalas kemarahannya. “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan kebaikan serta berpalinglah dari orang-orang bodoh” (Qs. 7:199). Sikap tidak memaafkan biasanya mengasah tumbuhnya kemarahan dan dendam. Oleh sebab itu di dalam Islam, kita diajarkan ketika kita menasehati orang dibarengi dengan memarahinya, kita diminta untuk meminta maaf kepadanya, “…dan apabila mereka marah, mereka minta maaf” (Qs.42:37). Sebuah hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Kharati dari dari Abu Hurairah menyebutkan Nabi Musa bertanya kepada Tuhan, “Ya Rabbi siapakah di antara hamba-Mu yang lebih mulia menurut pandangan-Mu? Tuhan menjawab : “orang yang berada pada posisi yang menang (berkuasa) tetapi memaafkan musuhnya.”_ Sikap altruistik seperti ini menjadi sesuatu yang langka di di era ini ketika segala sesuatunya diatasi dengan pendekatan kekuasaan.[]

Ciputat, 1 Syawal 1442 Hijriyah.