Pernahkah Bertanya Kesal: Pernahkah??

oleh -22 views
Link Banner

Oleh: Frieda Amran, Anthropolog, penulis dan pemerhati sejarah, bermukim di Belanda

Jadi, ceritanya tadi pagi artikel sudah selesai. Sebetulnya masih ada lagi yang harus serius diolah, tapi tiba-tiba saja aku kepingin menjahit.

Aku hendak menjahit sarung bantal hias untuk kursiku yang belum lama ini kuganti menjadi sarung berwarna biru. Tadinya merah. Kursi biru tampak rapi dan ceria tapi kini bantal-bantal hiasnya yang bersarung serasi dengan kursi warna merah, sekarang jadi tabrakan ga karuan dengan kursi warna biru. Untunglah, Mertua sedang mengosongkan lemari dan aku menemukan harta karun kain-kain. Ada pula yang berwarna biru. Ada juga sarung bantal songket Palembang yang belum dijahit. Kubawa pulanglah semua harta karun itu. Hatiku sudah tergelitik untuk menjahitnya. Hari ini. Mumpung satu artikel sudah selesai dan mumpung belum memulai artikel yang baru.

Gredek-gredek-gredek … satu sarung bantal songket sudah selesai. Tinggal satu lagi. Gredek-gredek-gredek … plekkeplekeplek … waduh. Benang bawah habis. Terpaksa kuisi dulu. Wrrrrrrrrr … mesinku canggih betul menggulung benang di gelendongnya (bobbin). Setelah selesai, gelendong itu mau kucopot dan pasang lagi di tempatnya supaya aku bisa menyelesaikan jahitan.

Link Banner

Eh … ga mau lepas! Kukerahkan tenaga untuk melepasnya sehalus mungkin, supaya pemegangnya tidak patah. Gelendong benang itu bergeming!

Baca Juga  Reaktif Rapid Test, Satu Pasien Diisolasi di RSUD Halsel

“Bungsuuuuuuu! Bantuin Mamaaaaaa!” teriakku memanggil Bungsu. Anakku pun mencoba melepaskan gelendong itu. Sia-sia.

Aku melenguh putus asa. Lalu, karena tak ada tempat menggerutu (Si Bungsu langsung melarikan diri ke kamarnya melihat wajahku yang asam), aku lantas menulis di facebook. Omelanku kuberi judul: Pernahkah?

Walau lega, menggerutu tak ada gunanya. Mesin jahit kusimpan di dalam tasnya, kuangkut ke mobil. Di desa kami tak ada tukang yang bisa membetulkan mesin jahit. Aku harus ke kota. Di sana ada suami-isteri yang berkiprah di bidang jahit-menjahit (Sang Isteri) dan di bidang mesin jahit (Sang Suami). Sebetulnya aku jarang ke toko jahit Sang Isteri karena aku biasanya membeli kain-kain dan benang di pasar karena harganya lebih murah, tetapi beberapa kali aku pernah ke rumah/toko bengkel mesin jahitnya.

Mobil kuparkir di depan bengkel mesin jahit (rumah mereka). Waduh … tutup. Memang mereka sudah agak tua. Pastilah sudah pensiun. Aku berdiri agak bengong. Mau ngomel, hatiku sudah letih ngomel. Mau pulang membawa mesin jahit dengan gelondong yang nyangkut di mesin itu, malas pulak. Ketika sedang bengong begitu, seorang lelaki tua keluar dari garasi rumah itu. Rasanya bapak tua itulah yang dulu pernah membetulkan mesin jahitku.

Baca Juga  Lima Puisi Dino Umahuk

“Meneer!” panggilku. “Apakah toko ini sudah tutup?”

“Ya”, katanya. “Sudah beberapa tahun lalu tutupnya.”

“Bukankan anda dulu yang suka membetulkan mesin jahit?”

“Ya, betul,” katanya. “Tapi saya sudah pensiun. Saya sudah 72 tahun.”

Kami berpandangan sejenak. Lalu, aku memberanikan diri merayunya.

“O, Meneer. Ik kijk U nu heel erg lief aan!” (“Saya pasang muka memohon nih). ..”

Ia tertawa.”Saya putus asa. Saya tadi sedang asik menjahit, lalu benang bawah habis, saya isi, tapi gelondongnya sekarang nyangkut!”

Ia menggelengkan kepala. “Saya tidak bisa membantu kalau tidak melihat sendiri mesinnya,” katanya.

Aku langsung menunjuk ke bagasi mobil. “Meneer! Mesin jahitnya ada di mobil saya!”

Ia memandangku sejenak, lalu tertawa lagi.

“Ya, sudah. Ayo, bawa saja mesin itu ke dalam. Saya lihat dulu.”

Ia mengangkat mesinku dan menghilang di dalam garasinya.

Aku terbirit-birit mengikutinya. Ke dalam garasi, ke teras belakang rumahnya yang sangat asri dengan aneka bebungaan.

“Liaaaaaa!” teriaknya memanggil isterinya.

Seorang perempuan gemuk keluar. Pemilik toko jahit di kota. Kuceritakan tentang gelondong yang menyangkut itu dan putus-asaku sambil meminta maaf karena aku mengganggu masa pensiun mereka.

Baca Juga  Warga Bobo Terstigma Covid-19, IPB Desak Pemkot Tidore Kepulauan Bersikap

“Saya mengaku saja. Saya tadi merayu Meneer ..” kataku.

Perempuan itu tertawa. “Ya, pastilah ia tak tahan dirayu,” katanya.

“Kebetulan saya akan ke montir kami,” kata Meneer. “Biar kubawa saja mesin jahit ini supaya dibetulkannya. Kamu kasih nomer telpon ke isteri saya dan nanti dikabari kalau mesinnya sudah bisa diambil. Sekarang saya betul-betul harus pergi!”
Lalu, ia melambai dan pergi.

Isterinya menuliskan resi untukku. “Mungkin besok sudah selesai,” katanya.

“Besok, kau sudah bisa menjahit lagi!” 😃

Hatiku seperti bersayap. Matahari cerah. Angin sepoi bertiup. Sayap-sayap di hatiku mengepak. Aku serasa terbang. Bahagia betul . ☺️

Pernahkah kau sebahagia ini??

Tambahan cerita. Pk. 18.42.
Hapeku berdering.

“Selamat malam, Frieda. van Poppelen di sini. Mesin jahitmu sudah dibetulkan.”

“Waduuuh! Terima kasiiiiih!”

Terdengar tawanya, renyah. “Kalau mau, kamu bisa ambil sekarang .. atau besok pagi.”

“Ah, besok pagi saja, Meneer. Saya tak ingin mengganggu waktu istirahatmu. Saya berhutang berapa?”

“Niks. Tidak berhutang. Tak banyak yang harus dibetulkan kok. Besok, kamu ambil saja mesin jahitmu.”

“Dankuwel! Dankuwel! Dankuwel!”

Ia tertawa lagi. “Niks te danken. Sampai besok.”

Ya. Sampai besok, Meneer. 😊❤️