Persinggahan Sementara

oleh -402 views

“Apa sahabatmu melakukan sesuatu yang buruk lagi?”
“T-tidak, aku sudah tidak berhubungan dengannya lagi.”
“Syukurlah.. Aku dengar dari Ibumu kalau kau selalu menangis setiap pergi ke rumah beliau dan mengoceh karena telah ditipu.”
“Astaga, jadi kau menguping?!”
“E-eh bukan begitu. Habis kau tidak bisa kuhubungi karena selalu menghapus nomor asing kan?”
“Salah siapa yang selalu mengganti nomor?”
“Haha. Iya itu salahku.. Maaf ya.”
“Pfft! Aku bercanda, sekarang berikan nomor teleponmu yang baru dan berjanjilah untuk tidak menggantinya lagi.”
“Akhirnya! Oke ini dia! Aku akan menyimpan kontakmu dengan nama Milikku.”
Lagi-lagi dia berhasil memancing perasaanku.

“Jadi, apa yang membawamu kembali kemari Noah?”
“Sudah kubilang, aku merindukanmu..”
“Kau kan bisa menghubungiku lewat video call dengan nomor Ibuku. Bagaimana jika aktivitasmu terganggu gara-gara aku?”
“Aku tak masalah.” jawabnya santai.
Obrolan terus berlanjut hingga tengah malam. Aku yang tak bisa menahan kantuk, terlelap lebih dahulu membiarkan Noah tetap terjaga di sampingku.

Baca Juga  Puslitbang Polri Teliti Penanganan Unjuk Rasa di Polres Tual

“Selama ini, kau dikelilingi orang-orang licik. Aku merasa bersalah karena telah meninggalkanmu. Maafkan aku Rika..”

Sejenak, aku bermimpi melihat kenangan masa kecil kami. Noah adalah teman masa kecilku. Walaupun bukan yang pertama, tetapi momen yang kuhabiskan bersamanya lebih banyak daripada dengan si pengkhianat itu. Saat itu, aku benar-benar merasa terpukul mendengar kabarnya yang akan pindah ke luar negeri. Aku hanya bisa pasrah dan merelakan kepergiannya. Meskipun dalam lubuk hatiku masih ada harapan bahwa dia akan kembali. Aku mempercayai itu, dan benar saja dia kembali. Janji yang kami buat berhasil ia tepati.

No More Posts Available.

No more pages to load.