“Tidak… Noah.. Bagunlah…”
“Rika.. Kau tidak boleh menangis… Berjanjilah padaku untuk tetap bertahan…” setelah mengatakan hal itu, dia menutup matanya perlahan-lahan.
“Noah?! Noah bangunlah!! Noah! Iya aku berjanji! Tapi tolong jangan pergi!!”
Aku segera menghubungi pihak berwajib. Tak lama kemudian, polisi dan ambulan datang menjemput. Karena terlalu lama melihat darah, aku tak sadarkan diri dalam perjalanan menuju rumah sakit. Aku membuka mata dan meratapi tubuh yang sudah tidak bernyawa. Ternyata dia benar-benar pergi meninggalkanku untuk selamanya. Jika saja aku bisa menghentikannya malam itu, maka hal ini tidak akan terjadi. Hanya itulah yang terus berlalu lalang di pikiranku. Tatapan yang kosong seakan menggambarkan rasa penyesalan yang amat teramat dalam. Ternyata, hanya persinggahan sementara. Tidak ada gunanya menangisi orang yang sudah tiada. Perpisahan untuk yang terakhir kalinya. Aku tidak akan membiarkan orang lain datang sebagai penyambut dihari esok. Aku merelakan dirinya, tetapi akan selalu mengingatnya. Tak masalah jika harus sendiri. Dia akan tetap menjadi penutup diakhir kisahku. (*)












