PGI Masih Ragu Masyarakat Siap Hadapi Normal Baru

oleh -277 views
Link Banner

Porostimur.com | Jakarta: Persatuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) menilai bahwa saat ini umat beragama tengah dihegemoni narasi “New Normal” atau normal baru di tengah pandemi COVID-19 atau Virus Corona. 

PGI tidak yakin umat beragama di Indonesia benar-benar siap menghadapi tatanan kehidupan baru, meskipun di media sosial dipenuhi antusiasme kolektif dalam menghadapi New Normal tersebut.

Hal tersebut disampaikan oleh Sekretaris Umum PGI Pendeta Jacky Manuputty saat diskusi virtual dengan topik “Tatanan Hidup Baru (The New Normal Life)” yang diselenggarakan oleh Inter Religious Council (IRC) Indonesia, Senin (8/6/2020).

“Bahkan ada prediksi terhadap kembalinya kondisi normal secara ekonomi, sosial dan budaya, pada pemuluk agama sendiri begitu antusias untuk kembali ke tatanan normal dalam beribadah dan beraktifitas lainya, apakah kita sungguh siap-siap berada dalam tatanan normal baru dan beradaptasi di dalamnya ini harus di jawab sama-sama,” terang Pendeta Jacky.

Jacky menuturkan, dalam menghadapi normal baru, PGI sendiri melihatnya dalam dua sisi.

Baca Juga  Kapolres Halsel Berikan Piagam Penghargaan Kepada Forkopimda, TNI, dan Mitra Kamtibmas

Pertama, saat pendemi COVID-19 banyak hal yang berkembang baru yang membutuhkan adaptasi, misalnya perkembangan penggunaan teknologi informasi dan masyarakat digital.

Selain itu, juga perkembangan kehidupan yang berkaitan dengan masalah kesehatan. PGI menilai normal baru bisa diberlakukan jika tren penularan COVID-19 telah menurun atau melandai. Namun, PGI melihat tren penularan COVID-19 saat ini tidak mengalami penurunan.

“Kami belum melihat kita mencapai normal baru sehingga narasi-narasi yang kami pakai pun misalnya refungsionalisasi rumah ibadah secara bertahap,” jelasnya.

Kedua, PGI melihat sebelum terjadinya pandemi COVID-19 masih banyak terjadi ketidakadilan, ketidaksetaraan baik yang ada dalam sistem struktur kekuasaan maupun politisasi hak-hak istimewa yang memicu terjadinya ketidakadilan dan kemiskinan yang ekstrim dalam masyarakat. Bahkan banyak pihak yang menganggap bahwa ketidakadilan dan ketidaksetaraan tidak terjadi dalam masyarakat hingga terjadinya COVID-19.

Baca Juga  Tingkatkan Mutu, Teluk Ambon Gelar Lomba Banding Nyanyi Pesparawi

Oleh karena itu, ia berharap, jika dalam penerapan normal baru, ketidakadilan dan kemiskinan tidak terjadi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Bagaimana kita bisa menghadapi tatanan normal baru yang berakar pada prinsip-prinsip keadilan dan kesataraan, apakah agama dapat mengelola gagasan kreatif untuk membantu kita memasuki normal baru sambil membongkar hegemoni situasi normal yang kita jalani dalam perilaku ketidakadilan dan kesetaraan saat ini,” pungkasnya. (red/rtm/akurat)