Pilkada Maluku 2024, Derajat Raja-raja dan Martabat Para Pemilih

oleh -221 views
Link Banner

Oleh: Jeffry E M Leiwakabessy, Akademisi Universitas Pattimura Ambon

Ketika membaca artikel tentang pencalonan Gubernur Maluku tahun 2024, tentang euforia kemenangan yang berlebihan dari calon tersebut, saya teringat akan cerita kewel/cerita lucu tentang kemenangan satu calon pimpinan daerah yang memastikan kemenangannya padahal dia terjungkal oleh calon yang lain dengan strategi yang dipakai adalah dengan melakukan komunikasi dengan gaya humanis.

Memang terkesan lucu tetapi dia membuktikan bahwa kemenangan bukan saja ditentukan dari masa lalu, dan kemenangan besar partai yang dimilikinya pada zaman lampau.

Masih tersisa dua tahun lebih tapi sudah ada riak” yang mewarnai jalannya Pemilukada di tahun 2024. Banyak partai yang sudah mulai menghembuskan dan menjagokan para kandidatnya melalui statement dan logika polotik mereka.

Bagi saya itu bagian dari langkah awal yang baik, tetapi jangan salah. Ketika euforia yang berlebihan tanpa strategi yang jitu maka ditakutkan para calon yang diusung kan oleh partainya akan masuk dan terperosok ke dalam kubangan euforia tersebut. Atau untuk menyenangkan hati para calonnya mereka mengeluarkan statement mereka yang pada intinya kredibilitas yang diukur untuk calon mereka berdasarkan logika mereka.

Baca Juga  Babak Baru Serangan Israel di Jalur Gaza

Kebebasan mimbar polotik dari para politikus dengan kekuatan partainya bukan menjamin bahwa calonnya akan atau bisa terpilih.

Hati saya merasa gatal melihat statement tokoh-tokoh polotik yang ingin membesarkan nama partainya hanya dengan sesumbar dan berdasarkan pengalaman masa lalu, ini sesuatu yang saya rasa menyudutkan intelektualitas saya dalam merambah dunia perpolitikan.

Mengenai calon Gubernur Maluku tahun 2024 yang masyarakat butuhkan adalah tokoh-tokoh yang bukan saja ngomong, atau bisa berprediksi, tetapi secara faktual menunjukan sifat kepemimpinan yang yang berakhlak, berhikmat, serta mengayomi dan merangkul semua pihak.

Masyarakat Maluku adalah masyarakat yang tabiat hidupnya berada dalam kosmologi tanah raja-raja, itu berarti bahwa bentuk tafsir hidupnya ada dalam koridor martabat seorang raja.

Baca Juga  Jadwal Imsak dan Buka Puasa di Kota Ambon, Rabu 5 Mei 2021

Masyarakat Maluku dalam kosmologi ini menggambarkan suatu masyarakat yang secara kemajemukan mempunyai standar pikirannnya adalah standar seorang pemimpin sekalipun tidak semua dimiliki oleh masyarakat tersebut.

Makanya kelayakan dan keberhasilan seorang pimpinan daerah apalagi di Maluku atau dimana saja pimpinan yang terpilih bukan hanya bisa memprediksi kemenangannya atau bukan berkoar-koar lalu calonnya bisa terpilih.

Masayarakat Maluku adalah masyarakat yang kritis. Bisa melihat mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang berjanji mana yang omong kosong, dan oleh karena itu biarlah masyarakat yang menyeleksi siapa yang berhak mendapat berkat kepemimpinan itu.

Pihak PDIP dengan calonnya siapaun dia, biarlah bertarung dengan calon yang lain dari partai yang lain Golkar, Nasdem, Hanura, atau partai besar lainnya, tetapi marilah kita letakkan pikiran kita dalam logika yang benar bahwa, semua calon mempunyai kelebihan dan kekurangan. Mereka bukan manusia super, biarlah bertarung dan kalah dalam martabat yang tinggi.

Baca Juga  Pangdam Pattimura Silaturahmi dengan Forkopimda dan Komponen Masyarakat MBD

Saya mengimbau kepada masyarakat Maluku kokohkan hatimu dan pilihan hatimu yang akan menentukan ke arah mana Maluku kedepan.

Nama Partai bukan harga mati untuk menentukan sikap anda, tetapi dengan martabat dan pikiran yang baik tentukanlah itu, karena kehidupan kita bukan ditentukan dari nama partai, tetapi kehidupan, kesejahteraan rasa aman, dan kenyamanan anda ditentukan dalam logika dan kebenaran pengetahuan anda tentang calon tersebut.

Akhirnya saya mau katakan jangan derajat kita diukur dari berapa materi yang diberikan, tetapi katakanlah Maluku akan besar dengan derajat intelektual kita untuk menentukan kenyamanan masyarakat Maluku kedepan. Tabea. (*)