Pilkada Serentak 2020 Antara Harapan Nyata dan Mimpi Semu

oleh -72 views
Link Banner

Oleh: Julius R. Latumaerissa, Ekonom dan Pemerhati Kebijakan Pembangunan Maluku)

Pilkada serentak 2020 akan dilakukan di empat Kabupaten/Kota di Provinsi Maluku. Pesta demokrasi ini diharapkan menjadi arena pertarungan gagasan/ide pembangunan daerah oleh masing-masing kandidat.

Momentum ini seyogyanya menjadi sarana bagi para kandidat untuk menawarkan kepada masyarakat program pembangunan yang rasional, terukur, dan layak sesuai kebutuhan rakyat dan daerah, dan bukan ajang pencitraan dan provokatif.

Saat ini Provinsi Maluku berada dalam situasi pembangunan yang memprihatinkan. Perilaku koruptif dan kasus-kasus korupsi, dan lemahnya penegakan hukum di Provinsi Maluku, kemiskinan dan masalah sosial lainnya telah menyita energi pengambil keputusan pembangunan di berbagai lini pemerintahan, sehingga fokus dan perhatian terhadap realitas masyarakat yang terpuruk seakan terabaikan.

Link Banner

Kalau saat ini, Provinsi Maluku dikatakan miskin, maka saya mengatakan Maluku tidak miskin tapi dimiskinkan, hari ini Maluku dikatakan tertinggal, saya mengatakan tidak tertinggal tetapi Maluku ditinggalkan. setuju atau tidak ini realitas yang ada. Saya punya alasan rasional dan terukur masalah pernyataan ini.

Baca Juga  Viral Massa #STMMelawan Pukul dan Kejar Polisi

Karena itu saya dan juga masyarakat Maluku menghimbau dan mengharapkan para kandidat untuk lebih mengedepankan isu pembangunan dalam pertarungan politik sebentar nanti, dan jangan mengedepankan isu-isu sempit, seperti isu primodial kaku, isu dikotomi agama, dikotomi suku dan daerah, bahkan kampung karena hal ini sadar atau tidak akan selalu menjadi karakter yang buruk.

Karena apa yang ada dalam pikiran, kemudian akan menjadi perkataan kita, dan apa yang menjadi perkataan kemudian akan menjadi perbuatan kita, apa yang menjadi perbuatan kemudian akan menjadi kebiasaan kita, dan apa yang menjadi kebiasaan kemudian akan menjadi karakter kita.

Maluku hari ini dan besok membutuhkan perubahan dan akselerasi dalam proses dan tahapan pembangunan. Para kandidat diharapkan tidak mengedepankan retorika hiperbola, karena terkesan bagi masyarakat bahwa para kandidat adalah pemberi harapan palsu (kandidat PHP). Cara-cara kandidat PHP itu saya katakan bahwa mereka sudah melakukan depolitisasi atau pembutaan politik bagi rakyat dan bukan pendidikan politik yang benar.

Baca Juga  Polwan di Polda Malut Sudah Terpapar Paham Radikalisme Selama 1 Tahun

Proses politik 2020 yang akan datang bukan ajang untuk saling fitnah atau saling mengumbar aib orang lain, karena jika itu terjadi maka ini menandakan para kandidat tidak memahami arti sesungguhnya demokrasi. Mencuri simpati dan keberpihakan rakyat harus dilakukan secara elegan, edukatif dan profesional, bukan menggunakan pola pendekatan arogansi, dan pola-pola non edukated.

Rakyat Maluku membutuhkan pemimpin masa depan yang memiliki visi besar dan misi yang jelas, bukan pemimpin yang Tuna Visi dan Tuna Konsep, karena aktivitas pembangunan hanya bisa berjalan melalui suatu perencanaan pembangunan yang jelas, terukur dan rasional berdasarkan sasaran-sasaran sektoral dan bukan sasaran-saran politik, taktik strategis. Perencanaan pembangunan tentu akan diikuti dengan suatu rencana politik anggaran yang jelas, terukur, realistis, transparan dan dapat dipertanggung jawabkan.

Baca Juga  Tayang perdana, ini sinopsis film Waiting for the Barbarians

Saya yakin para kandidat pahami betul realitas di daerah masing-masing, tetapi tidak hanya paham, tetapi juga harus diberikan rencana solusi yang konkrit.

Pemimpin di Maluku harus mampu hadir di tengah masyarakat sebagai solver atau pemberi jalan keluar bagi rakyatnya dalam kebuntuan. Pemimpin Maluku harus selalu ada bersama rakyatnya, dia harus terus ada di tengah-tengah rakyatnya sebagai katalisator, dinamisator dan sebagai tokoh pemersatu yang penuh dengan inspirasi dan inovasi. Pemimpin Maluku boleh miskin uang tetapi dia harus kaya dengan hati, gagasan dan solusi. (*)