Power Tends To Corona

oleh -331 views
Link Banner

Penulis: Harun Husein, Wartawan Senior

Banyak daerah lockdown, meskipun presiden dan para pembantunya bilang lockdown kewenangan gue. Luar biasa berani daera-daerah.

Link Banner

Tindakan mereka sudah melampaui kalkulasi politik. Mereka memilih mengambil risiko untuk melindungi nyawa rakyatnya.

Melihat fenomena ini, jadi ingat twitwar dan polemik Gubernur New York Andrew Cuomo vs Trump tempo hari. Trump minta New York lockdown, Cuomo ngotot menolak. Trump tak bisa memaksa, karena Amerika negara federal. Tapi, akhirnya, banyaknya korban jiwa memaksa Cuomo melockdown New York. Trump kali ini benar.

Indonesia bukan negara federal, tapi para kepala daerah berani lockdown tanpa restu pusat. Mengapa? Mereka melihat kebijakan pusat yang antilockdown membahayakan mereka. Karena orang tetap bebas keluar masuk membawa virus. Apalagi, tak lama lagi mudik lebaran. Mau bawa virus ke kampung?

Baca Juga  Polres Buru Bersih-Bersih Bekas Arena MTQ

Apakah tindakan para kepala daerah itu sudah mirip praktik di negara federal? Bisa jadi.

Silakan saja para buzzer menggunakan isu NKRI harga mati, hantam itu kepala-kepala daerah. Mereka diam-diam mempraktikkan sesuatu yang merupakan antitesisnya bentuk negara kesatuan. Sungguh terlalu. Tapi percayalah, makin anda serang itu kepala-kepala daerah, makin anda akan ditimpuki rakyat.

Sekarang situasinya extraordinary. Pemimpin harus menyikapinya secara extraordinary. Tak bisa pakai jurus selow, business as usual. Karena, waktu teramat berharga untuk menyelamatkan nyawa.

Masalahnya, publik memang ragu pada pemerintah. Karena kebijakannya sejak awal aneh dan melawan arus pandemi global. Bak pepatah “Power tends to corona”.

Betapa tidak? Wabah sudah di depan mata, eh malah promo wisata, iming-iming diskon, dan sewa influencer, dll. Pernyataan-pernyataan para pejabat pun takabur, seolah kita adalah ras unggul yang nggak bakal disenggol covid.

Baca Juga  Punya Kecepatan yang Gila, MiG-25 Bikin Ciut NATO dan AS

Belum lagi para buzzernya, dungu nggak karuan. Memframing kabar coronavirus menjadi serangan kepada pemerintah. Memframing lockdown seolah tindakan untuk menjatuhkan pemerintah.

Sekarang, daripada rakyatnya mati, ya lebih baik daerah-daerah lockdown lockdown. Its perfectly reasonable. Apalagi, seperti halnya presiden, kepala daerah juga dipilih langsung, dan mereka disumpah menjaga rakyatnya.

Sebelum daerah-daerah otonom melakukan lockdown, ketua RW di tempat saya tinggal, sudah lebih dulu memerintahkan lockdown kompleks. Portal tutup 24 jam, kecuali pintu masuk utama. Kompleks tetangga juga.

Anda takut corona? Bukan soal takut atau tidak. Nyawa tak dijual di toko bung! (*)

Link Banner

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *