Prospek Menjanjikan Tanaman Porang Untuk Petani Buru

oleh -79 views
Link Banner

Porostimur.com | Namlea: Kepala Desa Parbulu “ Paimun“melakukan silaturahmi dengan puluhan masyarakat  desa parbulu dan warga dari desa sekitar di kantor Desa Parbulu Kecamatan Waelata Kabupaten Buru, Maluku.

Kehadiran kepala desa beserta sejumlah pihak terkait seperti perwakilan dari KPH Dinas Kehutanan Provinsi (Rislan), Kapolsek Wayapo (Ipda Zainal), Raja Kayeli (Fandy Wael) serta pendamping tanaman porang”, Mukhiya”.

Guna membicarakan legalitas serta prospek produksi tanaman porang oleh kelompok yang siap terbentuk pertama dipulau buru.

Link Banner

Dengan dipimpin langsung oleh kepapala desa. paimun  menyebutan kelompok tani yang siap terbentuk terdiri dari puluhan anggota akan segera disahkan pada beberapa hari kedepan.

“Program ini harus jadi program yang beranfaat untuk masyarakat. Kami akan segera mengesahkan kelompok tani dengan anggota yang ada. Untuk awal kami hanya membentuk satu kelompok untuk lebih mempermudah pembinaan”, kata Paimun

Dirinya menambahkan, program tanaman porang merupakan sebuah gebrakan untuk warganya yang memiliki lahan namun tidak difungsikan selama ini

“Ada sekitar 200 h lahan tidur milik warga yang masuk anggota kelompok siap dijadikan lahan produksi tanaman porang warga. Lahan lahan itu sudah warga siapkan untuk dilakukan pemetaan oleh pihak KPH dan pemilik lahan adat”, jelasnya.

Baca Juga  Sampel baru 100%, quick count LSI-KCI paparkan Baileo di atas angin

Sedangkan untuk menghindari adanya sengketa lahan di kemudian hari Kapolsek Wayapo, Ipda Zainal  meminta warga dan kepala adat setempat segera memetakan wilayahnya yang akan digunakan dalam program ini dan melaporkan hasilnya untuk ketahuan pihak Kepolisian setempat.

“Saya minta kepala dusun bisa memetakan dengan jelas wilayah yang akan dimasukan sebagai wilayah produksi, tujuannya untuk menjaga kemungkinan  munculnya sengketa lahan dikemudian hari, jika muncul klaim baru yang mengatas namakan pemilik tanah itu akan repot nanti”, tegas Zainal.

Menurut Mukhiya selaku pendamping tanaman porang menjelaskan , program tanaman porang nantinya tidak akan dilakukan di lokasi yang telah ada tanaman produktifnya  melainkan dilahan yang belum di garap atau dimanfaatkan sebelumnya atau lahan tidur.

Hal ini bertujuan untuk menghindari adanya hal negatif dikemudian hari seperti pengalihan fungsi lahan tanam dari tanaman pertanian lain menjadi tanaman porang, menurtnya program tanaman porang murni akan dibuat dilahan kosong untuk meningkatkan fungsi pemanfaatan hutan tidur milik warga.

Baca Juga  Kantor DPRD Dibakar, Kota Manokwari Mencekam

Lebih lanjut dirinya menjelaskan. Tanaman porang merupan tanaman tahunan yakni berumur 1 hingga 1,5 tahun sampai musim panen. berbeda dengan jenis tanaman pertanian lain,  tanaman porang justru membutuhkan model perawatan yang lebih ringan dari padi ataupun tanaman palawija, baik dari segi biaya maupun  perawatan.

Selain itu prospek hasil dari tanaman ini juga tergolong cukup menjanjikan dengan  pendapatan ratusan juta  per hektar, perkapita. Sehingga tanaman ini patut diperhitungkan sebagai hasil komoditi menjanjika di masa depan. Khusunya untuk meningkatkan kesejahteraan  masyarakat.

Mukhiya menambahkan,  petani porang nantinya juga akan dibina untuk lebih memanfaatkan lahan tanaman porang milik mereka  untuk ditanami pohon kayu balsa agar lebih meningkatkan hasil pendapatan warga.

“Intinya program ini dari warga dan untuk warga. Kami hanya membina mereka untuk siap  menjadi petani porang dan bals. Prosesnya mereka menyiapkan lahan pribadi, kami memberikan bibit gratis, kami juga membantu membiayayai proses penanaman atau pemeliharaannya,. Sedangkan untuk penjualan hasil, kita juga bantu bekerja sama sama dengan perusahaan yang siap menerima hasil porang dan balsa. Tentu saja hasilnya milik warga . bukan kami. Kami hanya membantu meningkatkan tarap hidup masyarakat melalui kedua jenis tanaman ini”, kata Mukhiya.

Baca Juga  96 Anggota Brimob Polda Jabar Dikirim ke Papua

Tanaman pohon kayu balasa merupakan pohon yang hidup dan bisa dipanen dalam masa kurun waktu 3 sampai 3,5 tahun, sehingga tanaman ini cocok di tumpangsari  dengan tanaman porang yang bisa dilakukan pemanenan selama 3 kali sebelum masa panen balsa.

Upaya tumpang sari ini juga merupakan gerakan pengembangan fungis hutan melalui penghijauan dari para petani secara berkala. Agar semakin memperkuat fungsi hutan maupun ekosistem didalamnya. (ima)