Puisi-Puisi Dino Umahuk

Pada Sisa Hujan di Tanjung Marthafons

malam ini setelah hujan mengiris selepas tarawih
kutemukan potongan wajahmu yang gigildi antara tiang-tiang jembatan yang membelah teluk Ambonberingsut pucat menyembunyikan luka. mungkin juga siksa

apa yang kau tangis dari sisa hidupmusetelah berlari sekian lama dengan dusta sepenuh tubuhpadahal ketika itu musim begitu akrab memelukmudi pasir pantai ketika angin masih barat dan bulan sedang purnama

malam ini pada sisi hujan di tanjung Marthafons kutemukan potongan wajahmu yang pasidi antara warna-warni lampu jembatan yang menyambung dua tanjungtenggelam dalam bayang-bayang yang kian membirudi antara aroma hujan dan uap laut yang merapatkan maut

apa yang kau sembunyikan di dalam hujansetelah semua catatan yang pernah kau tulis di tiang dermagatak lagi menjadi penanda bagi lelaki yang merindukan pulang
Ambon, 24 Mei 2019

==========

Lelaki di Tepi Laut Banda

tak perlu lagi engkau bertanya tentang dia
lelaki yang pernah mengajakmu ke tepi laut banda sebab di tubuhmu sampan-sampan terus merontaentah mencari apa. hingga tenggelam di kolam tuba

air mata jangan kau tanya seperti apa sebab garam tak lebih asin dari luka di ruang dada

dia lelaki. lengannya perkasatapi dalam soal cinta tak luput jua hatinya binasasama jua layar bisa koyak dilumat cuaca

tak perlu lagi engkau bertanya tentang dia lelaki laut yang memelukmu di tepi laut bandasebab di dadamu kapal-kapal terus saja mendaratkan cukaentah demi apa. hingga lenyap segala penanda

luka di dada jangan kau tanya selebar apa sebab bulan tak selalu datang membawa cahayademi hatimu yang selalu dilanda gerhana
Ambon, 16 Mei 2019

===========

Meski Engkau Tak Pernah Bertanya Apa Kabar Hatiku

akulah ombak terakhir yang setia menjaga laut ketika kapalkapal besipacu dari jauhmenuju telukmu. memburu harum nafasmumeskipun engkau tak pernah bertanya tentang rindutentang apa kabar hatiku tanpa kopi dan dirimu

akulah ombak terakhir yang tiba di pantai senja itu sebelum engkau mengucapkan kata selamat tinggallalu bergegas menenun perdu sepenuh tubuh

akulah lelaki itu yang setia membendung rindu di pantaipantai. dari mana semua yang berlalu adalah kamu
Ambon, 11 Juni 2019

===========

Penyair Tua dan Mesin Ketik dari Masa Lalu

mesin ketik tua di sudut ruangan itu mengirimkan detak rindu dari masa lalu dengan irama tik tok tik tok lalu terkadang berderit mengambil jeda seperti menghitung jarak spasi satu setengah ataukah dua jarak waktu yang hendak dibangun antara harapan dan rasa cemas sebab waktu telah berlari sedemikian jauh

mesin ketik tua di atas meja baca itu ingin mengabarkan sesuatu dari masa lalu ada bunyi seperti suara kertas terpasang lalu gesekan kertas karbon meminta duplikat lima enam ataukah sepuluh lapis lembar kenangan yang hendak diperbanyak dari waktu yang tertinggalkan demikian jauh

mesin ketik tua di sudut ruangan itusepertinya ingin mengirimkan rindu dari masa lalutapi seperti waktu. nasibnya kini kelabujuga pemilik mesin ketik tua itu
Ambon, 28 Mei 2019

========

Er Zal Geen Woord Zijn Om Te Scheiden

ada banyak cara untuk mengucapkan selamat tinggal tetapi pasir di pantai terlampau akrab menerima garam sebagai nasib sudah begitu lama sejak takdir diberi nama oleh garis panjang yang memberi batas pada laut dari mana para pelaut berlayar dan pulang ke dalam pelukan

ada banyak cara untuk mengucapkan selamat berpisah tetapi dahan bakau terlampau setia menerima burung-burung juga angin pantai yang terkadang membuatnya patah sudah begitu sejak lama ditakdirkan menjadi rumah oleh kedatangan dari mana saja yang menjadikannya indah juga bagi pelaut yang kalah dan ingin bercinta

ada banyak cara untuk mengucapkan selamat jalan tetapi lelaki tetap setia untuk bertahan memikul ombak sebab matanya adalah laut seperti katamu suatu senja ketika kaca-kaca buram. seturut hujan yang turun di kotamu dan engkau semakin gelisah menahan senyap dari dadamu yang kering dibakar garam tersebab waktu bersilauan seakan hampa

ada banyak cara untuk mengucapkan selamat tinggal tetapi lelaki tiada lelah menjaga hidup di sisa waktu. bersamamu
Ambon, 10 Mei 2019



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: