Puisi-Puisi Khairus Afruz Salampessy

CERITA NEGERIKU

Di negeriku bertakhta seribu raja

Kaya rempah cengkeh dan pala

Tak habis kuceritakan berjuta kisah

Dari dongeng hingga legenda para moyang

Batu Badaong, Nene Luhu hingga Patasiwa-Patalima

Di negeriku laut biru membentang luas

Bukan memisahkan….

Lautku menyatukan kami

Di negeriku hutan hijau surga para satwa

Gunung kami tegar menggapai langit

Di negeriku bertakhta seribu raja

Tenggara, Ambon, Banda, Lease, Seram dan Buru

Kapitan-kapitan kami gagah perkasa

Jaga laut jaga hutan jaga kampung

Bula, 29 Januari 2014

=======

PARU PARU DUNIA DI NEGERIKU

Paru paru dunia di negeriku

Papua Borneo Andalas Celebes

Akh, aku lupa dengan Jawa

Saat hijau hutan digantikan apartemen tinggi dan ribuah pabrik

Paru paru dunia di negeriku

Dikikis habis perlahan lahan

Sebatang pohon jadi jutaan batang korek api

Sebatang korek api membakar jutaan hektar hutan

Paru paru dunia di negeriku

Semakin sekarat lalu menghilang

Harimau Sumatera lari pontang panting

Orang Utan Kalimantan tak lagi berayun

Cenderawasih Papua patah sayapnya

Paru paru dunia di negeriku

Jadi lahan proyek konglomerat busuk

Tak peduli ekosistem mampus

Asal kantong tebal bisa foya foya

Nasib anak cucu bukan urusan!

Bula, 15 Januari 2014

========

S A S I

Sasi adalah hukum negri kami

Aturan leluhur dari tua tua adat

Menjaga laut tetap biru

Menjaga hutan tetap hijau

Sampai anak menjadi induk..

Sampai tunas menjadi inang

Pantang tangan menyentuh

Haram tangan mengusik

Dinegri kami sasi adalah fatwa

Disakralkan para pendeta

Dijaga imam imam masjid

Biar bumi tetap asri

Biar langit tetap elok

Sampai anak menjadi induk

Sampai tunas menjadi inang

Pantang tangan menyentuh

Haram tangan mengusik

Ambon, 5 Februari 2014

================

SAMPAI TINTA INI HABIS

Aku marah dalam syairku

Berontak bersama goresan penaku

Menangis bersama puisiku

Meneteskan air mata bersama bumi yang lama sakit

Melawan keserakahan dengan tinta yang hampir habis

Diatas kertas lusuh

Biar penaku bicara

Tentang rakusnya kita

Tentang alam yang makin rusak

Diatas kertas lusuh

Syair syair ini akan terus marah

Sampai tinta ini habis 

Februari 2013

==============

SEBUAH TANDA

Kuberi tahu kamu suatu tanda

Saat yang teduh berubah badai

Kala biru berganti hitam

Dan hijau mulai berguguran

Maka tiba saatnya kita sadar

Alam sedang marah

Pada kita yang serakah!

Bula, 09 Januari 2014

=========

SENYUM TERAKHIR

10 tahun yang lalu

Kita masih berlomba disini

Kiapa yang lebih cepat menyentuh dasar sungai

Kau masih tersenyum

Melihat seekor mujair yang kutangkap

Kau masih tersenyum

Hingga sungai kita mulai kering

Hingga ikan ikan menggelepar mati

10 tahun yang lalu

Kita masih berlomba dengan matahari

Siapa yang lebih cepat menyambut fajar

Kau masih tersenyum

Bersama derap kaki yang terus berlari

Kau masih tersenyum

Sampai sang fajar tak terlihat lagi

Dan hilang entah kemana

10 tahun yang lalu

Kita masih selalu beradu cepat

Siapa yang pertama memetik pucuk daun tertinggi

Kau masih tersenyum

Bersama daun daun yang gugur

Kau masih tersenyum

Bersama nyanyian burung dihari senja

Hingga pohon pohon terus tumbang

Hingga burung burung hilang nyanyiannya

10 tahun sudah berlalu

Kau tak lagi tersenyum

Aku bahkan lupa

Seperti apa wajahmu saat tersenyum

Yang kutahu,

10 tahun lalu kau masih tersenyum

Ambon, awal tahun 2014

===========

KHAIRUS AFRUZ SALAMPESSY

Pria yang biasa dipanggil Afruz ini adalah penyair yang banyak menulis puisi bertemakan alam dan lingkungan hidup. Hal ini bisa dimengerti karena dia sering berkutat dengan masalah-masalah lingkungan bersama kawan-kawannya di organisasi pecinta alam PPSWPA-KANAL Ambon. Aktivitas seperti naik gunung, penghijauan, transplantasi karang, dan operasi bersih sampah di Pulau Pombo maupun daerah konservasi air di kawasan Arbes, kerap menjadi inspirasinya melahirkan puisi-puisi bertemakan alam. Puisi-puisinya banyak dipublikasi di media-media sosial, dan sering dibaca dalam pentas sastra di Ambon. Saat ini,dirinya bekerja sebagai staf di Kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Seram Bagian Timur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: