Puisi- Puisi: M. Azis Tunny

KAKATUA, RIWAYATMU KINI

Matahari siang ini tampak garang

Sinarnya membakar tubuh yang telanjang

Tak ada lagi embun menyelimuti pagi

Nyanyian alam dari beribu fauna berlalu dan sepi

Pahatan pegunungan karts membuncah langit

Berselimut awan tipis beralas zamrud yang menguning

Hutan pusaka di tanah seram habis digaruk

Karena rupiah kau gadai warisan leluhur

Kakatua bingung cari tempat berteduh

Rumah di ujung pohon rata dengan tanah

Kakatua bingung mau terbang kemana

Hutan pusaka tempat asal kini telah hancur

Surga di belantara Seram dicukur buldozer

Berhektar pohon tumbang karena nafsu serakah

Penguasa dan tuan lokal mandi uang

Kita menuai bencana

Nusa Ina bukan lagi ibu dari pulau-pulau

Nusa Ina binasakan hutan pusaka

Nusa Ina menggusur rumah kakatua

Nusa Ina tunggu kiamatmu kan tiba

Ambon, 7 Januari 2014

******

ANAK PANTAI

Di atas pasir putih

Ku lukis narasi kehidupan

Tentang ombak tak lelah berkejaran

Tentang nyiur menari dimanja angin

Tentang batu karang membisu tak peduli zaman

Hingga datang gelombang mencumbui bibir pantai

Menghapus cerita senja yang belum sempat ku akhiri

Aku anak pantai dibesarkan samudera

Membangun firdaus di atas pasir putih 

Sejarah hidupku adalah laut dan pulau-pulau

Deru ombak senandung pengantar lelap

Hangat api unggun memeluk mesra tubuh ini

Bulan bintang menerangi relung malam

Pantai menjadi istanaku membangun mimpi

Aku terus berlari

Mengejar batas garis pantai

Aroma garam mewangi tubuh

Kulit hitam terbakar matahari

Berlari mengejar batas garis pantai

Melewati seribu tanjung penuh karang

Berlari dan terus berlari mengejar batas garis pantai

Tak peduli senggama angin dan hujan melahirkan badai

Karena aku terus berlari mengejar mimpi di batas garis pantai

Ambon, 13 Desember 2013

********

SALAH SIAPA?

Kali mati

Hutan beton

Pohon-pohon tumbang

Mata air kering

Sampah dimana-mana

Alam pun murka

Gemuruh mega bercahaya kilat

Sekelebat cakrawala menumpahkan air mata

Sejurus tangisnya membungkusnestapa

Menatap seisi kota penuh amarah

Mengguyur mengalirkan petaka

Tanah amblas rumah roboh

Digerus miliaran galon air

Doa-doa ikut hanyut

Diseret banjir

Sekali hempas

Alam pun murka

Pada manusia yang tak lagi merawatnya

Sampah bersemayam di jalan-jalan air

Bangun hutan beton tak peduli pohon ditebang

Ketika mikail turunkan hujan dari atap langit

Tak ada lagi berkah penghuni bumi

Menyapu rumah-rumah tak pandang asal

Menggenangi lorong-lorong dan kampung-kampung

Menghanyutkan dalam sekali sentuh

Lalu izrail turun bersama derai hujan

Mencabut nyawa-nyawa yang terperangkap air

Mata air kering

Mengalirkan air mata

Salah siapa semua terjadi?

Masyarakat lupa diri, berbuat sesuka hati

Pemerintah tak tegas, diammenutup mata

Tak pantas kita mengumpat

Sumpah serapah lalu menyalahkan Tuhan

Padahal ini salah kita!

Banjir yang menghantam kota

Baru sebagian dari murka alam

Akan datang lagi murka lain

Saat kita masih meninggikan diri

Saat kita lupa dimana kaki berpijak!

Ambon, Agustus 2013

*******

TEMARAM ASA

Terlalu banyak kesedihan di negeri ini

Hingga aku tak bisa lagi mencumbui manismu

Kau tidak lagi seindah musim semi

Seperti cerita kakek saat mengantarku tidur

Kini, hujan tidak lagi membawa berkah

Kawanan burung pun bingung mau pulang kemana

Gairahmu yang rimbun telah kering kerontang

Kemilau emas Bupolo butakan mata para Geba

Hutan Seram dicukur perselingkuhan teknokrat-kapitalis

Berganti pucukpucuk sawit yang haus menggeliat

Menara tak mau kalah mengoyak bumi cenderawasih

Mengubah hutan pusaka jadi ladang tebu

Alam semesta

Bawalah bait rinduku ke peraduan malammu

Bersama kunangkunang yang menari di rimbun pohon pala

Untuk semua kebisingan ku pergi hening dari keramaian

Pada jalan takdir yang menggurat di telapak kaki

Teruntai kusut anyaman rasa

Dan aku masih menaruh sedikit asa

Sepanjang senja belum menjemput petang

Sebab saat malam turun memeluk bumi

Aku akan kembali sepi dibawah temaram purnama

Binar cahaya itu menjadi sisa nafasku tentang keindahanmu

Ambon, 20 Januari 2014

===========

M. AZIS TUNNY

Pegiat alam bebas dan akivis lingkungan Perhimpunan KANAL Maluku ini pernah bekerja sebagai jurnalis The Jakata Post di Maluku (2002-2011). Tahun 2005 ia menjuarai lomba penulisan feature bertemakan jurnalisme damai antar jurnalis se-Maluku dilaksanakan AJI Indonesia, MMC dan Polda Maluku. Tahun 2010 menjuarai kategori media cetak/online Penghargaan Untuk Liputan Media Terbaik Tentang Anak, diadakan AJI Indonesia dan UNICEF. Akhir tahun 2013 dimenerbitkan buku Beta Agama Noaulu, dan pada awal 2014 tulisannya diterbitkan dalam buku Carita Orang Basudara: Kisah-Kisah Perdamaian dari Maluku. Selain di berbagai media massa Ambon, tulisan-tulisannya bisa ditemukan di sejumlah buku kumpulan tulisan seperti Anak dan Hantu Kekerasan, Mozaik Pers di Negeri Raja-Raja, Wajah Agama di Media, Antara Kriminalitas dan Ketidakpahaman (Kasus Defamasi Jurnalis di Maluku), dan Potret Jurnalis Ambon (Survey Kesejahteraan Jurnalis Ambon). Beberapa puisinya dimuat dalam buku Antologi Penyair Maluku Biarkan Katong Bakalae.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: